Beranda/ Artikel/ Sanggar Sastra/ Elegi yang Tak Sempat Kut...

Elegi yang Tak Sempat Kutulis

Hujan, luka, dan gema nafasmu yang menyakitkan.

Andi Hasdiansyah
31 Juli 2026 1 menit baca
0

1785472372_body_EXwzuqkFSWlM.webp

Foto oleh Sydney Latham di unsplash

Elegi yang Tak Sempat Kutulis

Andi Hasdiansyah

Kau pergi seperti hujan yang lupa jalan pulang ke laut

Menguap di tengah, tak sampai ke akar, tak sampai ke apa pun


Aku masih menyimpan namamu di celah gigi

Tempat rasa sakit paling setia bersarang

Tempat lidah selalu kembali meski tahu di sana tak ada apa-apa lagi selain lubang yang dulu kau sebut rumah


Orang-orang bilang cinta itu abadi

Mereka belum pernah mencintai seseorang yang pergi tanpa membawa serta bayangannya

Meninggalkan aku bicara sendirian pada kursi yang kosong

Pada kopi yang dingin sebelum sempat kutuang untukmu


Aku bukan Qais yang gila karena rindu

Aku hanya lelaki biasa yang belajar bahwa luka tak butuh nama besar untuk membelah dada jadi dua benua yang tak pernah lagi saling menyapa


Kalau kesedihan adalah bahasa

Akulah penuturnya yang paling fasih


Setiap malam kueja ulang dukamu seperti anak kecil mengeja huruf pertama

Gagap, tapi tak pernah berhenti


Dan ketika pagi datang membawa cahaya yang tak kuminta aku bangun bukan karena sembuh

Tapi karena luka pun butuh saksi bahwa ia masih hidup

Bahwa ia belum selesai mencintaimu

Disclaimer

Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya

Andi Hasdiansyah

Editor bidang Sains & Kebudayaan.

Ikuti Penulis
Komentar 0
Silakan Masuk terlebih dahulu untuk mengirim komentar.
Artikel Terkait