Elegi yang Tak Sempat Kutulis
Hujan, luka, dan gema nafasmu yang menyakitkan.

Foto oleh Sydney Latham di unsplash
Elegi yang Tak Sempat Kutulis
Andi Hasdiansyah
Kau pergi seperti hujan yang lupa jalan pulang ke laut
Menguap di tengah, tak sampai ke akar, tak sampai ke apa pun
Aku masih menyimpan namamu di celah gigi
Tempat rasa sakit paling setia bersarang
Tempat lidah selalu kembali meski tahu di sana tak ada apa-apa lagi selain lubang yang dulu kau sebut rumah
Orang-orang bilang cinta itu abadi
Mereka belum pernah mencintai seseorang yang pergi tanpa membawa serta bayangannya
Meninggalkan aku bicara sendirian pada kursi yang kosong
Pada kopi yang dingin sebelum sempat kutuang untukmu
Aku bukan Qais yang gila karena rindu
Aku hanya lelaki biasa yang belajar bahwa luka tak butuh nama besar untuk membelah dada jadi dua benua yang tak pernah lagi saling menyapa
Kalau kesedihan adalah bahasa
Akulah penuturnya yang paling fasih
Setiap malam kueja ulang dukamu seperti anak kecil mengeja huruf pertama
Gagap, tapi tak pernah berhenti
Dan ketika pagi datang membawa cahaya yang tak kuminta aku bangun bukan karena sembuh
Tapi karena luka pun butuh saksi bahwa ia masih hidup
Bahwa ia belum selesai mencintaimu
Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan
pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya