Beranda/ Artikel/ Sains Populer/ Ketika Hutan Berbunga, Le...

Ketika Hutan Berbunga, Lebah Raksasa Pulang

Bagi kebanyakan orang, cerita tentang lebah biasanya berakhir pada madu. Kita membuka botol, menuangkannya ke sendok, lalu menikmati rasa manisnya. Jarang terlintas bahwa di balik satu sendok madu tersimpan perjalanan ribuan bunga, hutan yang luas, perubahan musim, dan kerja manusia yang mempertaruhkan keselamatan. Madu hanyalah bagian yang terlihat. Cerita sesungguhnya jauh lebih besar.

Sih Kahono
06 September 2026 9 menit baca
0

Madu hutan yang kita konsumsi berasal dari proses ekologis yang jauh lebih panjang daripada yang tampak di dalam botol. Pada lebah madu raksasa Asia, Apis dorsata, produksi madu berkaitan dengan ketersediaan tumbuhan berbunga, kondisi hutan, pola migrasi koloni, dan pengetahuan masyarakat yang memanen madu secara tradisional. Di Indonesia, hubungan itu dapat dilihat dengan jelas pada berbagai kawasan hutan tempat lebah ini hidup dan bermigrasi.

Pemanenan biasanya dilakukan pada malam hari ketika aktivitas lebah menurun. Pemanen memanjat pohon tinggi dengan bantuan tali dan alat pengasap, sementara anggota kelompok lain membantu dari bawah. Sarang Apis dorsata berbeda dari sarang lebah budidaya. Koloni membangun satu sisir besar secara terbuka pada cabang pohon atau tempat tinggi lainnya. Ribuan lebah pekerja menutupi permukaannya untuk melindungi madu, serbuk sari, dan anakan.

Lebah ini hidup liar. Manusia tidak menyediakan kotak sarang atau pakan tambahan. Koloni memilih lokasi bersarang sendiri, memanfaatkan sumber bunga yang tersedia, kemudian dapat berpindah ketika kondisi lingkungan tidak lagi mendukung. Karena itu, memahami madu hutan berarti juga memahami hubungan antara lebah, tumbuhan, musim, bentang alam, dan masyarakat.

Hutan Menyediakan Tempat Bersarang dan Sumber Pakan

Indonesia memiliki beberapa spesies lebah madu dari genus Apis. Salah satu yang paling mudah dikenali adalah Apis dorsata, lebah berukuran besar yang membangun sarang terbuka pada cabang pohon tinggi atau tebing. Di Sulawesi terdapat Apis dorsata binghami, bentuk khas lebah madu raksasa yang memiliki sejarah evolusi berbeda dari populasi Apis dorsata di wilayah barat Indonesia. Kajian molekuler menunjukkan adanya kekhasan garis evolusinya, sehingga keberadaan populasi lokal penting dipertahankan.

Bagi lebah madu raksasa, pohon besar saja tidak cukup. Koloni membutuhkan bentang alam yang menyediakan pakan sepanjang siklus hidupnya. Nektar menjadi sumber energi, sedangkan serbuk sari menyediakan protein dan berbagai zat gizi untuk perkembangan koloni. Sumber tersebut berasal dari banyak jenis tumbuhan yang berbunga pada waktu berbeda.

Keragaman vegetasi karena itu menjadi sangat penting. Pohon kanopi, semak, liana, tumbuhan bawah, vegetasi tepi hutan, tanaman kebun, dan tumbuhan di sepanjang sungai dapat menyediakan sumber pakan yang saling melengkapi. Ketika satu jenis tumbuhan selesai berbunga, jenis lain dapat menyediakan nektar atau serbuk sari. Bentang alam yang beragam memberi peluang lebih besar bagi koloni untuk memperoleh makanan dalam periode yang lebih panjang.

1786331687_body_MVBikdTCqbrW.webp

Persarangan lebah madu Apis dorsata/Dokumentasi pribadi

Pembungaan Massal dan Pergerakan Koloni

Di hutan hujan tropis, banyak jenis pohon pada waktu tertentu dapat berbunga hampir bersamaan dalam wilayah yang luas. Fenomena ini dikenal sebagai pembungaan massal atau general flowering. Peristiwa tersebut tidak selalu terjadi setiap tahun. Kemunculannya dapat dipengaruhi oleh periode kering dan perubahan suhu, termasuk kondisi yang berkaitan dengan El Niño.

Selama pembungaan massal, ketersediaan nektar dan serbuk sari meningkat dalam skala besar. Bagi koloni Apis dorsata, kondisi ini mendukung peningkatan aktivitas mencari makan, pertumbuhan koloni, reproduksi, migrasi, dan produksi madu. Koloni dapat bergerak mengikuti perubahan ketersediaan bunga dari satu kawasan ke kawasan lain.

Di Sumatra dan Kalimantan, pohon yang berulang kali ditempati koloni lebah sering disebut pohon sialang. Di Sumbawa dikenal istilah boan. Sebutan tersebut tidak selalu merujuk pada satu spesies pohon tertentu, melainkan pada pohon yang memiliki karakter sesuai untuk tempat bersarang. Pada hutan dipterokarpa, kelompok tumbuhan seperti meranti dan keruing dapat menyediakan sumber pakan dalam jumlah besar ketika musim berbunga tiba.

1786331687_body_MX1qIGA7l8G3.webp

Kunjungan lebah Apis dorsata ke bunga/Dokumentasi pribadi

Namun, keberhasilan koloni tidak hanya ditentukan oleh masa ketika bunga melimpah. Periode di antara dua musim berbunga juga sangat penting. Pada fase ini, vegetasi lain berfungsi sebagai “jembatan pakan” yang menjaga agar koloni tetap memperoleh nektar dan serbuk sari. Inilah salah satu alasan mengapa hutan dengan struktur vegetasi beragam umumnya lebih mendukung penyerbuk dibandingkan bentang alam yang didominasi satu jenis tanaman.

Lebah Madu Raksasa Sulawesi Memiliki Pola Bersarang yang Khas

Pemetaan sarang Apis dorsata binghami di kawasan hutan Maros, Sulawesi Selatan, menunjukkan bahwa lebah ini memiliki kebutuhan tertentu dalam memilih lokasi sarang. Koloni cenderung menggunakan pohon besar dengan cabang yang kuat. Cabang tempat sarang menggantung umumnya memiliki posisi dan struktur yang mampu memberikan kestabilan serta perlindungan dari hujan, panas, angin, dan gangguan lainnya.

Pola koloninya juga berbeda dari Apis dorsata di beberapa wilayah Sumatra dan Kalimantan. Pada wilayah tersebut, satu pohon dapat ditempati banyak koloni. Sebaliknya, Apis dorsata binghami di Sulawesi umumnya ditemukan dalam kelompok yang lebih kecil, sering kali hanya beberapa koloni pada satu pohon. Perbedaan ini penting bagi konservasi. Melindungi satu pohon sarang belum tentu cukup karena koloni bergantung pada jaringan pohon besar dan kawasan pakan di sekitarnya.

Pemanenan Madu sebagai Pengetahuan Ekologis

Pemanenan madu hutan telah menjadi sumber penghidupan musiman di sejumlah wilayah Indonesia, antara lain Belitung, Sumbawa, Kalimantan, Timor Barat, dan beberapa kawasan di Jawa. Kegiatan ini membutuhkan kerja tim karena sarang sering berada pada pohon yang sangat tinggi. Pembagian tugas meliputi pemanjatan, pengaturan tali dan wadah, hingga penerimaan hasil panen di permukaan tanah.

Keterampilan memanen madu tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memanjat. Pemanen perlu memahami perilaku lebah, kondisi cuaca, arah angin, kekuatan cabang, tingkat kematangan madu, dan waktu panen yang aman. Pengetahuan tersebut berkembang dari pengalaman lapangan dan diwariskan antargenerasi.

Dalam sejumlah komunitas, pemanenan juga berkaitan dengan aturan adat dan praktik budaya. Aturan dapat menentukan siapa yang boleh memanen, waktu panen, pembagian hasil, serta bagian sarang yang boleh atau tidak boleh diambil. Dari sudut pandang ekologi, beberapa aturan tersebut berperan dalam menjaga keberlanjutan koloni. Misalnya, larangan mengambil seluruh sisir atau bagian yang berisi anakan memberi kesempatan bagi koloni untuk tetap bertahan dan kembali berkembang.

Sunggau dan Tikung: Mengelola Tempat Bersarang

Di beberapa daerah, masyarakat mengembangkan cara untuk meningkatkan peluang lebah bersarang di lokasi yang lebih mudah dijangkau. Di Belitung, Bangka, dan Sumatra, sistem tersebut dikenal sebagai sunggau. Di Kalimantan dikenal pula istilah tikung atau bangkad. Bentuknya berupa papan atau balok kayu yang dipasang pada posisi tertentu sebagai tempat potensial bagi koloni Apis dorsata yang sedang bermigrasi.

Penempatan balok mempertimbangkan kondisi lingkungan, naungan, arah kedatangan lebah, ketersediaan tumbuhan berbunga, dan lokasi yang pernah digunakan koloni pada musim sebelumnya. Jika kondisi sesuai, lebah dapat membangun sarang pada balok tersebut. Posisi sarang yang lebih mudah dijangkau dapat mengurangi risiko pemanenan dibandingkan sarang yang berada sangat tinggi di tajuk pohon.

Pada praktik panen yang lebih lestari, bagian madu yang matang dipotong sementara bagian sisir yang berisi anakan dipertahankan. Sistem ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya mengambil hasil hutan, tetapi juga mengelola habitat, waktu panen, dan keberlanjutan sumber daya berdasarkan pengetahuan ekologis yang berkembang dari pengalaman panjang.

Ancaman terhadap Lebah Madu Raksasa

Ancaman utama bagi lebah madu raksasa adalah hilangnya pohon sarang dan berkurangnya sumber pakan. Konversi hutan, pembalakan, kebakaran, serta penyederhanaan bentang alam dapat mengurangi jumlah pohon besar yang sesuai untuk bersarang. Pada saat yang sama, berkurangnya keanekaragaman tumbuhan dapat memutus kesinambungan sumber bunga.

Kawasan yang masih tampak hijau belum tentu menyediakan habitat yang sesuai. Perkebunan atau bentang tanaman seragam dapat memiliki struktur vegetasi dan pola pembungaan yang berbeda dari hutan dengan banyak lapisan vegetasi. Bagi lebah yang membutuhkan sumber pakan pada waktu berbeda, variasi jenis tumbuhan sangat menentukan.

Perubahan iklim juga dapat memengaruhi hubungan antara musim berbunga dan pergerakan koloni. Pembungaan massal berkaitan dengan kondisi suhu dan periode kering. Perubahan pola hujan dan suhu berpotensi menggeser waktu berbunga. Jika waktu ketersediaan bunga tidak lagi sesuai dengan periode kedatangan koloni, lebah dapat menghadapi kekurangan pakan pada fase tertentu.

Tekanan lain datang dari praktik pemanenan yang tidak terkendali dan pasar madu. Permintaan tinggi dapat mendorong pengambilan sarang secara berlebihan, terutama jika bagian anakan ikut dipanen. Di sisi lain, peredaran madu palsu atau campuran dapat menurunkan kepercayaan konsumen terhadap madu hutan yang dipanen secara bertanggung jawab.

Pengetahuan yang Juga Terancam Hilang

Keberlanjutan madu hutan tidak hanya bergantung pada kondisi ekologis. Di banyak tempat, pemanen tradisional semakin berusia lanjut dan generasi muda belum tentu tertarik melanjutkan pekerjaan yang berisiko tinggi, bersifat musiman, dan pendapatannya tidak selalu stabil.

Jika proses pewarisan pengetahuan terputus, masyarakat dapat kehilangan informasi yang sangat spesifik tentang lokasi pohon sarang, kalender berbunga, arah migrasi lebah, tanda kematangan madu, teknik pengasapan, pembagian kerja, serta aturan panen. Pengetahuan semacam ini sulit digantikan sepenuhnya melalui pelatihan singkat karena sebagian besar terbentuk dari pengalaman berulang di lingkungan setempat.

Menjaga Lebah, Hutan, dan Penghidupan Masyarakat

Konservasi lebah madu raksasa perlu dilakukan pada skala bentang alam. Pohon sarang harus dilindungi, tetapi kawasan pakan di sekitarnya juga perlu dipertahankan. Hutan primer, hutan sekunder yang pulih, sempadan sungai, mangrove, kebun campuran, vegetasi tepi hutan, dan lahan pertanian yang ramah penyerbuk dapat menjadi bagian dari jaringan habitat yang mendukung koloni.

Teknologi dapat membantu pengelolaan. Pemetaan pohon sarang dengan GPS memungkinkan perubahan jumlah koloni dan lokasi penting dipantau dari waktu ke waktu. Analisis serbuk sari dalam madu juga dapat membantu mengidentifikasi tumbuhan yang digunakan sebagai sumber pakan. Namun, data tersebut akan lebih bermakna jika dipadukan dengan pengetahuan masyarakat yang memahami pola kedatangan lebah, kondisi pohon, musim berbunga, dan perubahan lingkungan setempat.

Pengelolaan usaha madu hutan juga perlu memperhatikan ketertelusuran. Informasi tentang asal madu, waktu panen, cara pemanenan, dan perlakuan terhadap koloni dapat meningkatkan kepercayaan konsumen. Koperasi atau usaha berbasis komunitas, standar panen lestari, pengolahan higienis, serta sistem jaminan partisipatif dapat membantu memperkuat posisi pemanen sekaligus menjaga kualitas produk.

Pengalaman dari sejumlah wilayah menunjukkan bahwa peningkatan mutu madu, pengurangan praktik panen destruktif, pemasaran bernilai tambah, serta pengembangan pendidikan lingkungan dan ekowisata dapat mendukung penghidupan masyarakat sekaligus menjaga habitat lebah. Namun, pengembangan kegiatan tersebut tetap perlu memperhatikan keselamatan, aturan lokal, dan daya dukung lingkungan.

Lebah madu raksasa merupakan bagian penting dari ekosistem hutan. Melalui aktivitas mencari makan, lebah membantu proses penyerbukan berbagai tumbuhan dan berkontribusi pada pembentukan buah, biji, dan regenerasi vegetasi. Pada saat yang sama, keberadaannya mendukung sumber penghidupan masyarakat yang memanfaatkan madu hutan.

Karena itu, keberlanjutan madu hutan tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan habitat. Selama pohon sarang tetap tersedia, keragaman tumbuhan berbunga terjaga, dan pemanenan dilakukan dengan cara yang tidak merusak koloni, peluang lebah untuk kembali pada musim berikutnya akan tetap ada. Kehadiran lebah dari tahun ke tahun dapat menjadi salah satu tanda sederhana bahwa hubungan antara hutan, penyerbuk, dan masyarakat masih berfungsi.

Tulisan ini merupakan adaptasi ilmiah populer dari Chapter 4 berjudul “Indonesia” yang ditulis oleh Dr. Sih Kahono dan Dr. Andi Gita Maulidyah Indraswari Suhri dalam buku internasional berbahasa Inggris Bees & Trees, Book One: Asian Giant Honey Bees, Flowers, and Forest Peoples. Buku yang diterbitkan pada 2026 oleh Non-Timber Forest Products–Exchange Programme Asia (NTFP-EP Asia) tersebut menghimpun kajian lintas negara mengenai lebah madu raksasa Asia, hutan, pengetahuan masyarakat, pemanenan madu, dan konservasi berbasis komunitas.


Disclaimer

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya

Sih Kahono

Peneliti di Pusat Riset Sistem Biota, Badan Riset dan Inovasi Nasional, Bogor, Indonesia.

Ikuti Penulis
Komentar 0
Silakan Masuk terlebih dahulu untuk mengirim komentar.
Artikel Terkait
Siaran Peristiwa — Kirim informasi via WhatsApp SerambiPikir
Ketikkan keyword yang ingin Anda telusuri.