Pelajaran dari "Suits": Kepandaian Tidak Membuat Kebohongan Menjadi Sah
Serial Suits mengajarkan tentang kompetensi, gelar, dan legitimasi profesi
Baru-baru ini saya menamatkan serial Suits, sebuah drama hukum asal Amerika Serikat yang tayang selama sembilan musim dengan total 134 episode. Ceritanya berpusat pada Mike Ross, seorang pemuda dengan kecerdasan dan daya ingat luar biasa. Ia kemudian bekerja bersama Harvey Specter di sebuah firma hukum ternama di New York, meskipun tidak pernah menyelesaikan pendidikan hukum formal dan ketika memulai pekerjaannya tidak memiliki lisensi sebagai pengacara.

Pemeran dalam serial Suits
Menamatkan 134 episode tentu bukan perjalanan yang singkat. Ada perkara besar, persaingan antarfirma, perebutan nama di dinding kantor, persahabatan, pengkhianatan, romansa, dan percakapan cepat yang membuat dunia hukum terlihat seolah selalu berlangsung beberapa langkah lebih cepat dari kehidupan biasa. Di tengah semuanya, hubungan Harvey dan Mike menjadi jantung cerita: seorang pengacara papan atas yang mempertaruhkan kariernya untuk memberi kesempatan kepada seseorang yang secara formal tidak seharusnya berada di sana.
Namun setelah episode terakhir selesai, yang paling lama tertinggal di kepala saya bukan siapa yang akhirnya menjadi name partner, siapa yang meninggalkan firma, atau siapa yang memenangkan perkara terakhir. Justru ada satu pertanyaan yang sejak awal sebenarnya sudah diletakkan di depan penonton. Kalau Mike Ross memang sangat pintar dan terbukti mampu menjalankan pekerjaan seorang pengacara, apa sebenarnya yang salah?
Sekilas jawabannya mudah. Mike tidak memiliki gelar hukum. Ia belum memiliki izin untuk praktik. Bahkan kisah awalnya dibangun dari keputusan Harvey mempekerjakan seseorang yang sebenarnya tidak memenuhi syarat formal untuk menjadi pengacara. Kalau persoalannya hanya soal aturan, seharusnya diskusinya selesai di sana.
Tetapi Suits tidak membiarkan penonton merasa sesederhana itu. Selama berpuluh-puluh episode, Mike diperlihatkan bukan sebagai orang yang sekadar berpura-pura mengerti hukum. Ia memang mampu. Ia membaca cepat, mengingat apa yang pernah dibacanya, menemukan detail yang terlewat, memahami posisi klien, dan beberapa kali terlihat lebih tajam daripada orang-orang yang secara resmi memiliki pendidikan hukum.
Yang lebih aneh, penonton mengetahui kebohongan itu sejak episode pertama, tetapi berkali-kali justru berharap ia tidak tertangkap. Ketika rahasianya hampir terbongkar, penonton ikut tegang. Ketika seseorang mulai mencurigainya, penonton berharap ada jalan keluar. Padahal kalau dipikir kembali, penonton sedang membela seseorang yang menjalankan profesi yang pada saat itu sebenarnya tidak berhak ia jalankan.
Lalu mengapa penonton begitu mudah memihak kepadanya? Mungkin karena Suits memaksa penonton menghadapi pertanyaan yang jauh lebih besar: apakah kemampuan seseorang lebih penting daripada gelar, proses, dan legitimasi yang dimilikinya?
Kalau Bisa Mengerjakan, Bukankah Itu Sudah Cukup?
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kalimat, “Yang penting bisa kerja.” Kalimat ini masuk akal dalam banyak konteks. Kemampuan nyata memang tidak selalu identik dengan gelar. Ada orang yang berpendidikan tinggi tetapi tidak cakap bekerja. Ada pula orang yang belajar secara otodidak dan kemampuannya jauh melampaui orang-orang yang memiliki sertifikat.
Mike adalah versi ekstrem dari argumen itu. Ia menjadi bukti fiktif bahwa kecerdasan dapat muncul di luar jalur pendidikan formal. Ia tidak membutuhkan ruang kuliah untuk terlihat memahami hukum. Ketika ditempatkan di antara para lulusan terbaik, ia tidak terlihat seperti orang yang salah masuk ruangan.
Tetapi profesi tertentu tidak hanya menanyakan, “Apakah kamu bisa?” Ada pertanyaan lain: “Siapa yang menyatakan kamu boleh melakukan ini?”
Dalam profesi hukum, izin bukan sekadar aksesori administratif. Aturan profesi American Bar Association menegaskan bahwa seorang pengacara tidak boleh menjalankan praktik di suatu yurisdiksi dengan melanggar aturan yang mengatur profesi di sana, termasuk membantu orang lain melakukan praktik hukum tanpa kewenangan. Tujuannya untuk melindungi publik dari layanan hukum oleh orang yang tidak memenuhi syarat.
Jadi masalah Mike bukan karena ia kurang pintar. Justru di situlah dilema Suits bekerja. Ia pintar, tetapi kepintarannya tidak menghapus proses yang seharusnya membuat masyarakat dapat mengetahui siapa yang bertanggung jawab atas layanan profesional yang mereka terima.
Gelar Bukan Jaminan, tetapi Bukan Berarti Tidak Berguna
Dalam sistem profesi, pendidikan dan lisensi bekerja sebagai mekanisme penyaringan. Untuk mengikuti jalur umum menuju ujian pengacara di New York, misalnya, calon dari sekolah hukum Amerika harus memenuhi syarat pendidikan tertentu. Mekanisme seperti ini tidak dapat memastikan setiap pengacara akan hebat. Namun ia memberi standar minimum yang dapat diperiksa sebelum seseorang dipercaya menangani kepentingan orang lain.
Masalahnya, lisensi profesi juga bukan sistem suci yang kebal kritik. Penelitian tentang lisensi profesi pada pasar pengacara Amerika menunjukkan bahwa perdebatan mengenai lisensi bukan hanya soal perlindungan publik. Ada pula kritik bahwa regulasi dapat membatasi jumlah orang yang masuk ke suatu profesi dan melindungi kepentingan kelompok yang sudah berada di dalamnya.
Ini membuat Suits semakin menarik. Firma tempat Mike bekerja memiliki budaya rekrutmen yang sangat elitis. Kemampuan seseorang tidak cukup. Ia harus datang dari jalur yang dianggap benar. Serial tersebut seolah bertanya apakah institusi kadang terlalu sibuk menjaga pintu sampai lupa melihat siapa yang sebenarnya mampu bekerja di baliknya. Namun kritik terhadap pintu masuk tidak otomatis membenarkan seseorang masuk dengan identitas palsu.
Di sinilah persoalan Mike berubah dari cerita tentang kesempatan menjadi persoalan tentang kepercayaan. Dalam literatur mengenai kepercayaan profesional, profesi memperoleh kepercayaan bukan hanya karena individu di dalamnya memiliki pengetahuan khusus, tetapi juga karena ada mekanisme profesional untuk menjaga standar, kontrol, dan tanggung jawab kepada publik.
Mengapa Mike Tetap Dibela?
Barangkali bagian paling cerdas dari Suits bukanlah membuat Mike terlihat pintar. Serial ini membuat penonton menyukainya.
Mike digambarkan memiliki empati. Ia peduli pada orang lain. Ia sering terlihat lebih manusiawi dibandingkan lingkungan korporat di sekitarnya. Ketika karakter yang disukai memiliki begitu banyak kualitas positif, penilaian terhadap kesalahannya dapat ikut menjadi lebih lunak.
Psikologi mengenal halo effect, yaitu bias ketika kesan positif terhadap seseorang pada satu aspek ikut memengaruhi penilaian kita terhadap aspek lainnya. Seseorang yang kita sukai dapat terasa lebih kompeten, lebih jujur, atau lebih layak dipercaya daripada yang sebenarnya dapat kita simpulkan dari fakta.
Mike memberi penonton banyak alasan untuk menyukainya. Akibatnya, kebohongan yang jika dilakukan karakter lain mungkin terasa tidak dapat diterima justru mulai dinegosiasikan.
Penonton mulai berkata: ia kan memang pintar. Ia membantu klien. Ia lebih baik daripada banyak pengacara lain. Penonton tidak lagi bertanya apakah tindakannya benar, tetapi mulai menyusun alasan mengapa kesalahannya dapat dimaklumi.
Kata “Tapi” yang Menyelamatkan Kesalahan
Albert Bandura menggunakan konsep moral disengagement untuk menjelaskan bagaimana manusia dapat melepaskan sementara standar moralnya melalui berbagai mekanisme, misalnya membenarkan tindakan atas nama tujuan yang dianggap baik, mengecilkan dampak, atau memindahkan tanggung jawab.
Kita tentu tidak perlu menyamakan drama televisi dengan bentuk-bentuk pelanggaran berat yang menjadi fokus luas teori tersebut. Tetapi mekanisme dasarnya membantu membaca mengapa penonton mudah berkata, “Mike memang salah, tapi…”
Kata “tapi” itu kecil, tetapi pekerjaannya luar biasa. Ia dapat mengubah pelanggaran menjadi pengecualian. Mike berbohong, tetapi ia jenius. Harvey membantu kebohongan itu, tetapi ia melihat potensi Mike. Mereka menipu sistem, tetapi sistemnya juga tidak sempurna. Semua alasan itu dapat mengandung sebagian kebenaran. Namun alasan yang masuk akal belum tentu menghapus tanggung jawab.
Lalu, apakah sistem selalu benar? Tidak. Sistem pendidikan dapat mahal. Rekrutmen dapat elitis. Lisensi dapat menciptakan hambatan masuk. Gelar dapat menjadi simbol status yang digunakan untuk menilai orang sebelum kemampuannya benar-benar dilihat.
Mike menarik karena ia memaksa penonton membayangkan seseorang dengan kemampuan luar biasa yang tertutup dari jalur formal. Pertanyaan tersebut relevan jauh di luar dunia hukum. Berapa banyak orang berbakat yang gagal mendapat kesempatan karena tidak memiliki kredensial yang dianggap tepat? Berapa banyak orang dianggap kurang mampu hanya karena tidak datang dari jalur yang bergengsi?
Tetapi ada satu batas yang tetap sulit diabaikan: memperbaiki sistem berbeda dengan memalsukan posisi kita di dalam sistem.
Kalau standar profesi memang terlalu sempit, kita dapat mempertanyakan standarnya. Kalau akses pendidikan terlalu mahal, kita dapat memperdebatkan aksesnya. Kalau rekrutmen terlalu elitis, kita dapat menantang budaya rekrutmennya.
Namun ketika seseorang mengambil kepercayaan publik dengan identitas yang tidak benar, persoalannya bukan lagi semata-mata tentang kesempatan. Kalau kepintaran menjadi alasan untuk melewati aturan, lalu apakah orang yang kurang cemerlang harus tunduk pada proses, sedangkan mereka yang dianggap hebat boleh membuat proses sendiri?
Jadi, kalau Mike Ross memang jenius, apa salahnya menjadi pengacara?
Persoalannya adalah apakah kecerdasan seseorang dengan sendirinya memberinya hak untuk mengambil posisi profesional yang mengandalkan kepercayaan publik tanpa melalui proses yang transparan dan tanpa memberi orang lain kesempatan mengetahui siapa yang sebenarnya mereka percaya.
Di situlah gelar, ujian, lisensi, dan aturan memperoleh maknanya. Profesi dibangun di atas akuntabilitas. Namun Suits juga memberi pelajaran: kepandaian tidak otomatis membuat kebohongan menjadi sah.
Demi menjaga kenyamanan dan pengalaman terbaik mengunjungi SerambiPikir, kami memilih tidak menggunakan iklan AdSense. Anda tetap dapat ikut merawat SerambiPikir melalui kontribusi sukarela. Dukungan Anda membantu ruang ini terus tumbuh dan tetap terbuka bagi semua.
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan
pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya