Psychology Goes Global: Calon Alumni UMB Menatap Dunia Kerja Internasional
Menjelang yudisium, calon alumni Psikologi Universitas Muhammadiyah Banjarmasin diajak melihat dunia kerja lebih luas melalui “Psychology Goes Global”. Pembekalan bersama BP3MI Kalimantan Selatan membahas peluang karier internasional, kesiapan global, serta pentingnya memahami jalur kerja luar negeri yang legal, aman, dan terlindungi.
SerambiPikir, Banjarmasin - Puluhan mahasiswa Program Studi S1 Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMB) yang akan mengikuti yudisium mendapat pembekalan untuk memasuki dunia pasca-kampus. Pembekalan ini membuka wawasan mahasiswa tentang pilihan kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan, termasuk peluang karier di luar negeri, kesiapan menghadapi lingkungan global, serta jalur legal dan aman untuk bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Kegiatan yang berlangsung di Kampus 3 Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, Rabu (26/8), menghadirkan Nashruddin Qawiyurrijal, S.I.Kom., M.I.Kom., Fungsional Pengantar Kerja Ahli Muda Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia pada Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Kalimantan Selatan, sebagai narasumber. Dalam kesempatan tersebut, Nashruddin membawakan materi “Psychology Goes Global” yang mengajak calon alumni melihat lebih luas peluang karier setelah menyelesaikan pendidikan, termasuk peluang kerja di pasar internasional. Kegiatan dipandu oleh Dosen Fakultas Psikologi UMB, Gladis Corinna Marsha, S.Psi., M.Psi., yang mengarahkan jalannya pembekalan dan dialog bersama para calon alumni.

Materi "Psychology Goes Global" oleh Nashruddin Qawiyurrijal, S.I.Kom.,M.I.Kom., disampaikan pada Pembekalan Calon Alumni Psikologi Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, Rabu (26/8)
Membuka kegiatan, Ketua Program Studi S1 Psikologi UMB Aziza Fitria, M.Psi., Psikolog, menyampaikan bahwa pembekalan tersebut penting bagi mahasiswa yang sebentar lagi meninggalkan bangku kuliah dan memasuki fase kehidupan baru.
“Kegiatan ini penting bagi para mahasiswa yang sebentar lagi akan memasuki dunia pasca-kampus agar dapat mengetahui prospek kerja apa saja yang tersedia di dunia internasional serta bagaimana jalur yang legal dan aman untuk bekerja ke luar negeri,” ujar Aziza.
Suasana pembekalan berlangsung hangat dan cair. Penyampaian materi tidak berjalan satu arah, melainkan diselingi tawa, canda, serta dialog langsung antara Nashruddin dan mahasiswa. Sejumlah isu tentang pilihan karier, peluang bekerja di luar negeri, hingga hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum mengambil keputusan menjadi bagian dari percakapan yang membuat pembekalan terasa dekat dengan situasi yang akan dihadapi mahasiswa setelah lulus.
Nashruddin mengajak mahasiswa memandang dunia pasca-kampus secara lebih luas. Setelah menyelesaikan pendidikan, kehidupan tidak berhenti pada pertanyaan tentang pekerjaan apa yang akan diperoleh. Ada pilihan untuk melanjutkan pendidikan, membangun usaha, mengembangkan profesi, maupun mengambil peran di tengah masyarakat. Yang penting adalah mengenali diri, memahami kompetensi, dan menentukan arah dengan kesadaran.
Dalam konteks karier, salah satu hal yang ditekankan Nashruddin adalah perbedaan antara lowongan kerja dan peluang kerja. Menurutnya, dua diksi ini terdengar serupa dan mungkin banyak orang tidak menyadari bahwa keduanya memiliki makna yang berbeda. Lowongan kerja (job vacancy) merupakan posisi atau pekerjaan yang sedang dibuka dan membutuhkan orang untuk mengisinya, sedangkan peluang kerja (job opportunity) memiliki cakupan yang lebih luas karena berangkat dari kemampuan membaca kebutuhan pasar dan menemukan titik temu dengan kompetensi yang dimiliki.
“Kita perlu membedakan antara lowongan kerja dan peluang kerja. Lowongan kerja adalah pekerjaan yang sedang dibuka dan dicari orang untuk mengisinya. Sementara peluang kerja lebih luas: kita melihat kebutuhan pasar, mengenali kompetensi yang kita miliki, lalu mencari titik temu di antara keduanya. Jadi, jangan hanya menunggu lowongan yang sesuai dengan ijazah kita, tetapi belajar membaca peluang yang tersedia,” kata Nashruddin.
Cara pandang tersebut menempatkan lulusan sebagai job talent yang aktif membaca kebutuhan pasar, bukan sekadar job seeker yang menunggu lowongan dibuka. Dalam menentukan pilihan, pekerjaan juga perlu dilihat dari kesesuaian, kelayakan, prospek, serta aspek pelindungannya.
Tak sampai disitu, Nashruddin juga mengajak mahasiswa mengenali dirinya sekaligus memahami dunia yang akan dimasukinya. Dunia kerja memang menjadi salah satu ruang yang akan mereka hadapi, namun perjalanan setelah kampus jauh lebih luas daripada sekadar mencari pekerjaan.
Bagi lulusan Psikologi, kemampuan tersebut bertemu dengan kompetensi yang diperoleh selama pendidikan. Pemahaman tentang manusia, perilaku, komunikasi, relasi sosial, dan kemampuan beradaptasi dapat menjadi bekal dalam berbagai lingkungan kehidupan dan pekerjaan, termasuk ketika berhadapan dengan dunia yang semakin lintas batas.

Suasana kegiatan pembekalan calon alumni Psikologi Universitas Muhammadiyah Banjarmasin
Nashruddin menjelaskan dua pintu peluang yang dapat dikembangkan lulusan Psikologi. Pertama, degree-related opportunities, yakni pekerjaan yang kompetensinya berhubungan langsung atau dekat dengan bidang Psikologi. Kedua, skills-transfer opportunities, yaitu pekerjaan yang tidak secara khusus mensyaratkan ijazah Psikologi, namun kompetensi yang diperoleh selama pendidikan dapat diterapkan pada bidang tersebut.
“Lulusan Psikologi jangan membatasi dirinya hanya pada pekerjaan yang mencantumkan kata ‘Psikologi’. Ada kompetensi yang bisa ditransfer ke berbagai pekerjaan. Yang penting adalah kemampuan kita mempertemukan kompetensi dengan kebutuhan pasar,” jelas Nashruddin.
Pandangan tersebut kemudian dibawa ke konteks dunia kerja internasional. Nashruddin menjelaskan bahwa kebutuhan tenaga kerja internasional masih terbuka cukup besar.
“Kalau kita melihat kebutuhan tenaga kerja internasional tahun 2026 ini saja, ada 327.658 kebutuhan tenaga kerja. Dari jumlah itu, 69.187 sudah terpenuhi per Juni tahun ini, sementara 258.471 masih belum terpenuhi. Ini menunjukkan bahwa ruang kerja di pasar internasional masih terbuka dan selalu terbuka bagi mereka yang memiliki kompetensi sesuai dengan kebutuhan,” jelasnya.
Namun, peluang bekerja ke luar negeri menurut Nashruddin tidak cukup dinilai dari besarnya penghasilan. Ada sejumlah aspek yang perlu diperhatikan sebelum seseorang memutuskan menerima sebuah pekerjaan.
“Kalau ada orang menawarkan pekerjaan di luar negeri dengan gaji Rp20 juta, apakah itu otomatis peluang yang bagus? Mendapat pekerjaan penting. Mendapat pekerjaan yang sesuai, layak, prospektif, dan terlindungi jauh lebih penting,” tegasnya.
Karena itu, pilihan untuk membangun karier di lingkungan internasional membutuhkan kesiapan yang menyeluruh. Nashruddin memperkenalkan konsep Global Career Readiness, yang mencakup kompetensi pekerjaan, kemampuan bahasa, sertifikasi, pengalaman, literasi migrasi, literasi hukum, adaptasi budaya, literasi digital, literasi finansial, dan pemahaman mengenai pelindungan.
“Kesiapan global harus dibangun. IPK bagus bukan berarti siap. Aktif organisasi bukan berarti siap. Keinginan bekerja di luar negeri juga bukan berarti siap. Kita harus siap visi, siap fisik, siap mental, siap dokumen, dan siap kompetensi,” ujar Nashruddin.
Bagi mahasiswa yang mempertimbangkan bekerja di luar negeri, pemahaman mengenai jalur legal dan pelindungan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kesiapan tersebut. Calon PMI perlu memperhatikan persyaratan dan dokumen, antara lain sertifikat kompetensi kerja, surat keterangan sehat, paspor, visa kerja, perjanjian penempatan, serta perjanjian kerja.
“Bekerja ke luar negeri harus melalui jalur yang legal. Pahami prosesnya, pahami dokumennya, pahami kontraknya, dan pahami ke mana harus mencari bantuan ketika menghadapi persoalan,” kata Nashruddin.
Mahasiswa juga dikenalkan dengan sejumlah skema penempatan PMI, yakni Private to Private (P to P), Government to Government (G to G), Government to Private (G to P), Intercorporate Transfer, dan Independent. Pengetahuan ini memberi bekal agar pilihan bekerja di luar negeri dibuat dengan pemahaman yang cukup mengenai jalur yang tersedia dan konsekuensinya.
Bagi para calon alumni, pembekalan ini menjadi ruang untuk melihat bahwa dunia setelah kampus memiliki pilihan yang jauh lebih luas. Ijazah adalah awal, sementara kemampuan membaca peluang, mengembangkan kompetensi, dan menentukan langkah dengan tepat akan menjadi bekal dalam perjalanan berikutnya.

Foto bersama setelah kegiatan
Menjelang yudisium, para mahasiswa pun bersiap meninggalkan satu fase dan memasuki fase yang baru. Kampus segera menjadi bagian dari perjalanan yang telah dilalui, sementara dunia pasca-kampus telah menunggu dengan segala peluang dan tantangannya.
Di luar materi yang disampaikan, Nashruddin juga mengaku bahagia dapat hadir di Universitas Muhammadiyah Banjarmasin. Sebagai kader Muhammadiyah sekaligus alumni perguruan tinggi Muhammadiyah, kesempatan berbagi dengan para calon alumni memiliki makna tersendiri. Baginya, kembali ke kampus Muhammadiyah selalu menghadirkan rasa dekat seperti kembali ke rumah.
Mengakhiri pembekalan, ia kemudian menyampaikan pesan dan harapan kepada para mahasiswa yang sebentar lagi memasuki kehidupan setelah kampus.
“Selamat menempuh hidup baru, yaitu dunia pasca-kampus. Saya doakan semuanya sukses dan bahagia selalu,” tutupnya.

Sepuluh indikator Global Career Readiness untuk mempersiapkan diri berkarier di luar negeri, dari kompetensi dan bahasa hingga literasi migrasi, hukum, budaya, finansial, digital, dan pelindungan.