Arsitek Sunyi di Ujung Palung
Di ruang tamu batin, ia berdiri sebagai guru pertama,
mengukir sajak-sajak patah sebelum tunas sempat berdiri.
Dari suaranya yang membentengi jarak,
kudengar pelajaran paling linu
Wanita hanyalah persinggahan untuk diabaikan waktu,
Keluarga adalah sauh rapuh yang tak pernah layak diperjuangkan .
Satu cinta takkan pernah cukup untuk mengisi,
Pun kesempurnaan tiada arti.
Buah hatinya menoreh prestasi,
Memilih menutup mata,
Hanya angin lalu yang tak berharga.
Dan manakala air mata dan persoalan anak-anak meraja,
Tak pernah sudi merengkuh atau memberi jawab.
Beban dan solusi dilempar ke pangkuan yang melahirkan raga,
Menanggung duka seorang diri.
Dari altar dingin itulah aku mengenal rupa
Tentang janji yang sengaja diingkari,
Tentang rumah yang tak berjiwa,
Tentang meremukkan hati tanpa menyentuhnya.

Dokumentasi Penulis
Kini, di atas puing-puing sisa keyakinan yang karam,
Pintu hatiku telah tertutup rapat dari segala harap.
Tiada lagi yang berhak atas setitik percaya
Karena dari pertama yang kukenal,
Mengajarkan cara paling sempurna untuk kehilangan percaya itu.
Demi menjaga kenyamanan dan pengalaman terbaik mengunjungi SerambiPikir, kami memilih tidak menggunakan iklan AdSense. Anda tetap dapat ikut merawat SerambiPikir melalui kontribusi sukarela. Dukungan Anda membantu ruang ini terus tumbuh dan tetap terbuka bagi semua.
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan
pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya