Menyambut Angin Asing di Dermaga Kita
Menyambut Angin Asing di Dermaga Kita
Dyah Febria Wardhani
Di hadapan kita, sebuah teka-teki membentang sunyi,
Sebuah rahasia yang belum jua terpecahkan arti.
Kupeluk cemas, berpesan dalam dekap yang rapuh
Berhati-hatilah, agar ia tak menjelma badai
Yang merobohkan apa yang telah kita tuju.
Sering kali, kehadiran asing menjelma duri durjana,
Mengusik tenang mereka yang telah lama bersama.
Namun, dengarkanlah gemerisik angin malam,
Tak selamanya pendatang membawa kelam.
Bisa jadi ia hadir sebagai fajar yang membaharui,
Atau cermin jernih penguji kebenaran nurani.
Kita memang canggung mengeja langkah baru,
Sebab terbiasa pada teduh yang dulu.
Padahal roda waktu tak pernah berhenti berputar,
Orang-orang baru akan terus hadir dan berpijar.
Tugas kita bukan menutup pintu ketakutan,
Melainkan merangkul angin, belajar menyelaraskan.
Sempurna itu milik mereka yang ikhlas menerima,
Menyelami makna, lalu beradaptasi bersama.
Tiada yang abadi tanpa sebuah pembaruan,
Sebab ia adalah napas, kebutuhan, dan keharusan.
Biarlah waspada menjadi pelita di jalan,
Namun, singkirkan duri prasangka dari lubuk angan.
Mari kita duduk, menunduk, dan belajar bersama
Sebab kita senantiasa tumbuh dewasa
Di dalam ruang-ruang penerimaan yang saksama.

Dokumentasi Penulis
Demi menjaga kenyamanan dan pengalaman terbaik mengunjungi SerambiPikir, kami memilih tidak menggunakan iklan AdSense. Anda tetap dapat ikut merawat SerambiPikir melalui kontribusi sukarela. Dukungan Anda membantu ruang ini terus tumbuh dan tetap terbuka bagi semua.
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan
pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya