Benturan Dua Jiwa
Di dalam rongga dada, tumbuh sebongkah batu akik yang menajam,
Terkurung dalam lapisan kilau purba yang lekat dan terendam.
Ia menyimpan bara yang dipahat rapi oleh waktu,
Keras, murni, dan memantulkan pantang undur pada setiap saku.
Sementara di tepian nurani, berdiri megah batu karang,
Menghantam badai sunyi tanpa gentar oleh gelombang.
Kokoh menolak runtuh meski dihantam riak tak bertepi,
Ia adalah benteng diam yang tak pernah mau mengerti.

Dokumentasi Penulis
Tiada ruang yang cukup luas untuk menampung dua keras kepala,
Tiada waktu yang mampu melunakkan tajamnya sisa asa.
Batu akik menggoreskan kilau tajam di atas permukaan,
Batu karang membalas dengan sunyi yang menahan hantaman.
Benturan ini bukan lagi soal siapa yang menang atau kalah,
Melainkan dua jiwa yang saling mengasah lelah.
Di dalam ruang tanpa batas, di waktu yang berhenti berputar,
Mereka terus bergesekan, menjadi sunyi yang kian membakar.
Demi menjaga kenyamanan dan pengalaman terbaik mengunjungi SerambiPikir, kami memilih tidak menggunakan iklan AdSense. Anda tetap dapat ikut merawat SerambiPikir melalui kontribusi sukarela. Dukungan Anda membantu ruang ini terus tumbuh dan tetap terbuka bagi semua.
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan
pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya