HMPS PGSD FKIP Unsultra Sukses Gelar GEMA NUSANTARA, Panggung Lagu Daerah bagi Generasi Muda
Artikel ini mengangkat penyelenggaraan GEMA NUSANTARA (Gerakan Melodi Nusantara), lomba vokal lagu daerah Sulawesi Tenggara tingkat SD yang digelar HMPS PGSD FKIP Universitas Sulawesi Tenggara. Melalui tema “Bersuara untuk Budaya, Bernyanyi untuk Bangsa”, kegiatan ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengembangkan bakat seni sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap warisan budaya daerah.

Penyerahan Hadiah
Kendari - Gedung Kesenian Sulawesi Tenggara dipenuhi lantunan lagu daerah dan semangat pelestarian budaya pada Sabtu (1/8/26). Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (HMPS PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra) sukses menyelenggarakan GEMA NUSANTARA (Gerakan Melodi Nusantara), lomba vokal lagu daerah Sulawesi Tenggara tingkat Sekolah Dasar (SD) kelas IV–VI.
Mengusung tema “Bersuara untuk Budaya, Bernyanyi untuk Bangsa”, ajang ini menghadirkan puluhan peserta dari berbagai sekolah dasar di Sulawesi Tenggara. Mereka membawakan lagu-lagu daerah dengan penghayatan, teknik vokal, dan penampilan panggung yang memukau. Lebih dari sekadar perlombaan, GEMA NUSANTARA menjadi ruang apresiasi budaya sekaligus sarana menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap warisan seni daerah.
Acara dibuka oleh Dekan FKIP Unsultra, Dr. Kasmawati, M.Pd., yang mengapresiasi inisiatif HMPS PGSD dalam menghadirkan panggung kreatif bagi generasi muda.
Menurutnya, pelestarian budaya perlu dimulai sejak usia dini karena lagu daerah merupakan bagian penting dari identitas masyarakat Sulawesi Tenggara. Kegiatan seperti GEMA NUSANTARA tidak hanya mengembangkan bakat seni, tetapi juga menjadi media pendidikan karakter dan penguatan rasa cinta terhadap budaya lokal.
Ketua panitia, Al Munajad, menyampaikan bahwa tingginya antusiasme peserta menunjukkan lagu-lagu daerah masih memiliki daya tarik di kalangan anak-anak.
“Kami ingin GEMA NUSANTARA menjadi gerakan bersama untuk menjaga dan memperkenalkan lagu-lagu daerah Sulawesi Tenggara kepada generasi muda. Kami berharap anak-anak semakin bangga terhadap budaya daerahnya,” ujarnya.
Apresiasi juga datang dari Ketua Program Studi PGSD FKIP Unsultra, Chairan Zibar L. Parisu, S.Pd., M.Pd. Menurutnya, kegiatan ini mencerminkan peran aktif mahasiswa PGSD dalam mengintegrasikan pendidikan, seni, dan budaya.
“Mahasiswa PGSD tidak hanya dipersiapkan menjadi pendidik profesional, tetapi juga agen pelestari budaya. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendidikan dapat menjadi sarana untuk membentuk karakter peserta didik yang mencintai daerah dan bangsanya,” tuturnya.
Kegiatan ini mendapat pendampingan dari dosen FKIP Unsultra, Itsnain Alfajri Husain, S.Pd., M.Pd., yang menekankan bahwa pendidikan dan budaya merupakan dua unsur yang saling menguatkan.
“Lagu daerah mengandung nilai-nilai kearifan lokal, sejarah, bahasa, dan identitas masyarakat. Ketika anak-anak menyanyikan lagu daerah, mereka tidak hanya mengembangkan kemampuan vokal, tetapi juga membangun rasa memiliki terhadap budaya Sulawesi Tenggara,” jelasnya.
Sepanjang perlombaan, dewan juri melakukan penilaian berdasarkan kualitas vokal, penguasaan lagu, ekspresi, artikulasi, dan penampilan panggung. Suasana kompetisi berlangsung meriah dengan dukungan guru pendamping, orang tua, mahasiswa, dan masyarakat yang memberikan semangat kepada para peserta.
Bagi HMPS PGSD FKIP Unsultra, GEMA NUSANTARA diharapkan menjadi agenda tahunan yang berkelanjutan. Kegiatan ini bukan hanya ajang kompetisi seni, tetapi juga wadah kolaborasi antara mahasiswa, dosen, sekolah, dan masyarakat dalam menjaga warisan budaya daerah.
Di tengah derasnya arus budaya digital, GEMA NUSANTARA mengingatkan bahwa lagu daerah tetap memiliki tempat penting dalam pendidikan generasi muda. Melalui suara anak-anak, budaya lokal tidak hanya dipertahankan, tetapi juga diwariskan dengan cara yang menggembirakan dan bermakna.

Foto Bersama Peserta dan Panitia
Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan
pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya