Panrita Lopi dan Pengetahuan yang Tak Tergantikan Mesin
Eksplorasi mendalam Epistemologi Ekonomi Adat kapal Penisi di Bulukumba. Riset Yuli Artati, Ilmar Andi Achmad, Halijah ini mengungkap matematika spiritual, transmisi tacit knowledge yang kebal AI, hingga resiliensi ekonomi adat pasca tragedi 1958.

Ilustrasi AI
Hegemoni narasi Barat telah mengaburkan identitas orisinal maritim kita secara menyeluruh. Konstruksi ini tidak hanya mendistorsi nomenklatur sebutan aslinya yang berakar kuat dari tradisi linguistik Konjo, yakni Penisi, menjadi ejaan asing Phinisi, tetapi juga perlahan mencabutnya dari otoritas historis dan geografisnya. Secara pakem tradisi yang sakral, eksistensi sebuah Penisi yang sejati mensyaratkan kelahirannya secara spesifik di pesisir Tanah Beru.
Distorsi kultural ini kemudian berlanjut pada pemahaman bentuk fisiknya. Publik sering kali menganggap kapal raksasa pesiar yang mengarungi lautan saat ini adalah wujud utamanya. Padahal, pada ontologi aslinya, Penisi diwariskan dengan definisi matematis dan arsitektural yang sangat ketat. Ia bukanlah kapal raksasa, melainkan sebuah perahu dengan batasan teknis yang presisi. Konstruksi lambung kapal bersambung tiga, berpropulsi 4 buah layar, dan secara rasionalitas operasional hanya dikendalikan oleh 6 hingga 7 orang awak.
Lebih jauh, fungsi purba Penisi sangatlah spesifik, yakni bertindak sebagai urat nadi perniagaan armada pengangkut komoditas rempah-rempah lokal. Namun, seiring desakan perubahan zaman, ia mengalami evolusi morfologis dan fungsional. Transformasinya bermula dari entitas perahu murni, bergeser menjadi perahu kapal kargo berskala besar, hingga puncaknya beradaptasi dan terkomodifikasi menjadi kapal wisata mewah bernilai miliaran rupiah seperti yang jamak dikenal hari ini.
Oleh karena itu, di balik euforia pengakuan UNESCO atas kapal tersebut, sejatinya telah terjadi reduksi sejarah yang masif. Kacamata global dan sains modern sering kali rabun hanya terpukau pada hasil akhir komodifikasi pariwisata yang mewah ini, seraya melupakan asal-usul ontologisnya. Keduanya luput membedah kemegahan yang sesungguhnya, yakni rasionalitas maritim tingkat tinggi yang murni tersemat pada desain arsitektur perahu pengangkut rempah bersambung tiga buatan Tanah Beru, bukan sekadar pada cangkang komodifikasinya dewasa ini.
Temuan riset mendalam yang diangkat melalui program Hibah Penelitian Fundamental Reguler dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Kemendiktisaintek, berhasil membongkar sistem "Epistemologi Ekonomi Adat" di Tanah Beru dan Bira, Kabupaten Bulukumba.
Studi yang diketuai oleh Yuli Artati dari bidang Pendidikan Nonformal, bersama anggota tim Ilmar Andi Achmad dari Pendidikan Nonformal dan Halijah dari Pendidikan Biologi, mengungkap bahwa peradaban ini beroperasi tanpa satu pun lembar cetak biru (blueprint) dan secara ekstrem mengharamkan penggunaan ukuran berakhiran genap.

Panrita Lopi (kiri) sedang mendemonstrasikan rancang bangun kapal / sumber: dok. pribadi
Matematika Spiritual dan Tubuh yang Hidup
Bagi para Panrita Lopi (mahaguru pembuat perahu), merakit kapal bukanlah sekadar pekerjaan pertukangan kayu mekanis, melainkan proses sakral menciptakan sebuah "tubuh manusia hidup". Karena manusia dan makhluk ciptaan pada dasarnya adalah entitas yang tidak sempurna, maka seluruh anatomi dimensi utama perahu dipaksa harus berukuran ganjil. Mereka meyakini bahwa kesempurnaan sejati yang dilambangkan dengan angka genap hanyalah milik Sang Pencipta.
Untuk menemukan titik keseimbangan gravitasi kapal di lautan, sang Panrita sama sekali tidak menggunakan kalkulator, sensor digital, ataupun software arsitektur. Mereka menggunakan metode ritual "Annatta" (penentuan pusar kapal) yang dihitung murni menggunakan ukuran ruas jari tangan bersiklus 3-3 dan 4-4 berlandaskan Lontara Bugis-Makassar. Hitungan mistis ini bertujuan untuk "mengawinkan" frekuensi nasib sang pemesan kapal dengan energi semesta guna meminimalkan risiko kegagalan dan kecelakaan masa depan. Menurut Panrita Lopi:
Ritual tidak berhenti pada perhitungan jari. Terdapat juga ritual melalui penumpahan darah ayam putih jantan di buritan dan betina di haluan, yang diyakini menanamkan sifat pantang menyerah sang jantan dalam memburu rezeki menaklukkan cuaca samudera
Pendidikan Bisu yang Kebal Kecerdasan Buatan

Tim peneliti melakukan wawancara dan observasi di kediaman sang maestro kayu / sumber: dok. pribadi
Bagaimana keahlian maharumit ini diwariskan ke generasi selanjutnya tanpa satu halaman pun buku panduan? Jawabannya terletak pada penderitaan psikologis dan transmisi tacit knowledge (pengetahuan diam-diam) yang senyap. Para Sawi (pekerja magang) menelan pembelajaran murni dengan menerjemahkan isyarat bahasa tubuh dan insting ayunan kapak sang Panrita.
Ketika terjadi penyimpangan pahatan, Panrita Lopi tidak memberikan instruksi perbaikan teknis yang linear. Sang guru justru akan menebas muridnya dengan teguran keras yang memaksa Sawi tersebut menyingkir jauh ke sudut pantai. Di sana, sang Sawi harus bermeditasi berjam-jam untuk mencuci ego dan kekeruhan otaknya, hingga mendapatkan "pencerahan" naluriah untuk memperbaiki pekerjaannya.
Menariknya, transfer puncak ilmu rahasia perkapalan ini hanya dilakukan lewat komunikasi batin pada pengasingan malam Jumat dalam kondisi suci. Modal spiritual kognitif inilah yang membuat keahlian Panrita Lopi memegang hak paten mutlak yang tidak akan pernah bisa dibajak, direplikasi, atau digantikan oleh perangkat Kecerdasan Buatan (AI) pabrik Barat manapun.
Bangkit dari Abu Menuju Super-Yacht Miliaran Rupiah
Ketangguhan sistem ekonomi adat pesisir ini telah teruji oleh kejamnya roda sejarah. Sempat luluh lantak dan hangus dibakar hingga aktivitas ekonomi terhenti total pada masa pergolakan konflik DI/TII sekitar tahun 1958, peradaban bantilang (galangan tradisional) nyatanya mampu bangkit.
Bermodalkan pusaka berformasi "sambung tiga", mereka secara jenius bertransformasi mengikuti zaman. Dari yang awalnya memproduksi perahu kargo angin pengangkut komoditas bumi berkapasitas 6-7 awak inti, kini galangan Tanah Beru bermutasi menjadi produsen utama super-yacht megah (Penisi Liveaboard) senilai miliaran rupiah untuk mengakomodasi pariwisata ekspatriat mancanegara. Lompatan bisnis ini sukses besar tanpa mereka harus mengorbankan setetes pun identitas ritual ganjil leluhur.
Pencapaian adaptif yang menakjubkan ini mendesak pemerintah untuk segera mereformasi cara pandang. Kalangan pakar merekomendasikan agar negara, melalui instrumen Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), mengakui kedudukan agung para Panrita Lopi ini agar ekuivalen dengan profesor atau insinyur doktor perkapalan strata tertinggi. Sangat tidak adil jika derajat kepakaran spiritual mereka masih harus diuji dengan rasionalitas ujian sekuler berbasis ukuran angka genap ala bangsa asing.

Panrita menggambar desain kapal hanya menggunakan kapur dan lantai / sumber: dok. pribadi
Tim peneliti menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Kemendiktisaintek, atas dukungan pendanaan melalui program Hibah Penelitian Fundamental Reguler. Ucapan terima kasih tak terhingga juga kami haturkan kepada seluruh masyarakat, tokoh adat, para Panrita Lopi, dan para Sawi di kawasan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, atas keterbukaan, kolaborasi, serta dedikasi luar biasa dalam menjaga dan melestarikan warisan peradaban pembuatan perahu Penisi.
Artikel ini merupakan karya penulis yang telah melalui proses penyuntingan redaksional. Pandangan, pendapat, data, dan interpretasi yang disampaikan menjadi tanggung jawab penulis serta tidak selalu mencerminkan sikap atau pandangan Redaksi SerambiPikir. Baca selengkapnya