Dorong Kemandirian Pangan, Tim Dosen UMB Sukses Terapkan Inkubator Pintar Tenaga Surya di Bone
Tim pengabdi dari Universitas Muhammadiyah Bulukumba (UMB) sukses mendorong kemandirian pangan di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Melalui program Hibah PKM Kemitraan dari DPPM Kemendikti Saintek, tim dosen lintas disiplin yang diketuai oleh Ilmar Andi Achmad mengimplementasikan inovasi teknologi tepat guna berupa "Smart Solar Incubator"
BONE — Sebuah program pengabdian kepada masyarakat dan inovasi teknologi tepat guna berhasil diimplementasikan di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Tim dari Universitas Muhammadiyah Bulukumba (UMB) sukses menggelar penerapan"Smart Solar Incubator" atau Inkubator Hybrid Berbasis Panel Surya bagi Kelompok Pemuda Libureng Farm di Desa Mattirowalie, Kecamatan Libureng, sepanjang bulan Juni lalu.
Kegiatan ini merupakan wujud nyata implementasi Hibah PKM Kemitraan dari DPPM Kemendikti Saintek. Proyek pemberdayaan ini dikomandoi oleh Ilmar Andi Achmad selaku Ketua Pelaksana dari program studi Pendidikan Nonformal, berkolaborasi dengan Nurwahida J. sebagai Anggota Pelaksana dari program studi Peternakan, serta Harianto dari program studi Ilmu Aktuaria. Ketiganya merupakan dosen Universitas Muhammadiyah Bulukumba (UMB) yang terjun langsung mendampingi masyarakat.
Program pengabdian ini hadir sebagai solusi konkrit atas ketimpangan antara tingginya permintaan bibit ayam kampung (Day Old Chicken/DOC) dengan kapasitas produksi peternak lokal yang masih serba terbatas.
Ilmar Andi Achmad menjelaskan bahwa selama ini Kelompok Libureng Farm yang diketuai oleh Andi Linn Sudarso menghadapi kendala serius dalam aspek hulu produksi. "Permintaan DOC di Libureng bisa mencapai 500 hingga 700 ekor per bulan. Namun, mitra kami sebelumnya hanya menggunakan mesin penetas kayu berkapasitas 50 butir dengan pemanas lampu pijar. Fluktuasi suhu dan seringnya pemadaman listrik membuat daya tetas sangat rendah,hanya berkisar 30-40 persen," urainya.
Inovasi Inkubator Hybrid: Kapasitas Naik 400%
Untuk menjawab tantangan tersebut, tim pengabdi merancang bangun sebuah Inkubator Hybrid berkapasitas besar yang mampu menampung hingga ribuan butir telur. Mesin penetas mutakhir ini terintegrasi dengan panel surya (Solar PV) dan baterai penyimpan daya (Accu/VRLA) yang bekerja secara otomatis.
Pada siang hari, inkubator beroperasi menggunakan energi matahari secara gratis, dan beralih ke baterai atau listrik PLN sebagai cadangan saat malam atau cuaca mendung.
Instalasi Inkubator Hybrid Panel Surya
"Dengan sistem hybrid ini, suplai energi terjamin 24 jam penuh tanpa henti. Risiko embrio mati akibat pemadaman listrikdapat dihilangkan, sekaligus mengoptimalkan efisiensi energi operasional hingga 70%. Parameter suhu juga dikontrol secara otomatis, sehinggadaya tetas berhasil meningkat di atas 85%," jelas Nurwahida J. berdasarkan penerapan ilmu peternakannya di lapangan.
Selain penerapan teknologi penetasan, alat ini juga dilengkapi dengan mekanisme pembalik telur otomatis yang bergerak setiap 3 jam. Fitur ini menggantikan prosedur pembalikan manual yang selama ini membebani waktu produktif anggota kelompok mitra.

Pelatihan Penggunaan InkubatorHybrid

Foto Bersama Mitra dan Pemerinta Desa Mattirowalie
Hilirisasi: Pendampingan Manajemen dan Pemasaran Digital
Program pengabdian dan penerapan teknologiini tidak berhenti pada aspek perakitan alat di hulu. Menyikapi lemahnya tata kelola bisnis kelompok, pelatihan intensif dan pendampingan manajemen usaha serta hilirisasi produk turut diberikan.
Melalui pendampingan ini, mitra diajarkan metode penyusunan pembukuan arus kas sederhana, penerapan perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP), serta tata kelola keuangan yang rapi. Identitas produk (branding) juga diperkuat dengan standar kemasan kotak DOC (Chick Box) yang aman dan profesional, membedakan produk hasil pendampingan ini dari pengemasan konvensional.
Lebih lanjut, mitra juga diberikan pelatihan pemasaran digital menggunakan Facebook Marketplace dan WhatsAppBusiness, sehingga jangkauan pasar meluas lintas kecamatan.
Dukung Asta Cita dan Pembangunan Berkelanjutan
Hasil program pengabdian yang terlaksana secara sukses di bulan Juni ini diproyeksikan akan mendongkrak omzet usaha mitra dari yang awalnya rata-rata Rp400.000 menjadi lebih dari Rp3.000.000 per bulan.
Langkah strategis dari kolaborasi pengabdian Dosen UMB ini secara nyata mendukung program Asta Cita Presiden RI dalam mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan berbasis pemberdayaan masyarakat. Program ini juga selaras dengan pilar Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) terkait penyediaan energi bersih dan pertumbuhan ekonomi di pedesaan.
Keberhasilan transfer teknologi di Desa Mattirowalie ini diharapkan dapat menjadi percontohan bagi desa-desa lain di Kabupaten Bone untuk terus mengembangkan pemberdayaan masyarakat dalam memajukan ketahanan pangan lokal.

Serah terima kemasan DOC
Apresiasi dan Ucapan Terima Kasih
Keberhasilan pelaksanaan program pemberdayaan ini tentu tidak terlepas dari sinergi dan kolaborasi berbagai pihak. Oleh karena itu, tim pengabdi Universitas Muhammadiyah Bulukumba menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada DPPM Kemendiktisaintek atas dukungan dan kepercayaan penuh melalui pendanaan Hibah PKM Kemitraan.
Apresiasi setinggi-tingginya juga dihaturkan kepada Kelompok Pemuda Libureng Farm selaku mitra pelaksana yang sangat proaktif dan semangat dalam mengadopsi teknologi baru. Selain itu, ucapan terima kasih secara khusus ditujukan kepada Kepala Desa Mattirowalie dan Kepala Dusun Nusae atas segala bentuk fasilitas, kemudahan izin, serta dukungan moril yang diberikan dari awal hingga selesainya kegiatan pemberdayaan ini.
Artikel ini merupakan karya penulis yang telah melalui proses penyuntingan redaksional. Pandangan, pendapat, data, dan interpretasi yang disampaikan menjadi tanggung jawab penulis serta tidak selalu mencerminkan sikap atau pandangan Redaksi SerambiPikir. Baca selengkapnya