Jangan Biarkan Bung Hatta Menangis: Catatan Hari Koperasi Nasional 2026
Redaksi SerambiPikir menulis catatan ini dengan satu kegelisahan. Jika Bung Hatta menyaksikan realitas hari ini, apakah beliau merasa gagasannya benar-benar dipahami, ataukah nama besarnya sebatas dicatut dalam pidato tahunan?

Catatan Redaksi SerambiPikir
Setiap koperasi punya tanggal berdiri, tapi tidak semuanya punya napas yang panjang. Fenomena ini sudah dibaca oleh Mohammad Hatta jauh sebelum koperasi diadopsi menjadi kebijakan resmi negara. Bagi Hatta, koperasi bukan semata badan hukum atau entitas bisnis yang berdiri sendiri. Beliau melihatnya sebagai usaha kolektif yang lahir dari kesadaran anggotanya. Modal dan pengurus memang penting, tapi keduanya tidak akan membawa koperasi ke mana-mana kalau para anggotanya kehilangan rasa memiliki.
Cara pandang ini tidak pernah kedaluwarsa. Pasal 33 ayat (1) UUD 1945 tegas memosisikan ekonomi kita sebagai usaha bersama berdasar asas kekeluargaan. Kalimat ini laris dikutip dalam upacara, tapi tantangan terbesar dari setiap pasal konstitusi selalu sama, yaitu bagaimana membumikannya menjadi realitas, bukan hanya menjadi teks hafalan yang berhenti sebagai idealitas.
Hari Koperasi Nasional tahun ini bersanding dengan Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dari pemerintah. Niatnya memperkuat ekonomi akar rumput. Bagus. Hanya saja, proyek ini menyisakan pertanyaan krusial:
Lalu apa yang terjadi setelah koperasi diresmikan dan papan nama telah dipasang di depan gedung?
Realitas di lapangan memberikan kita banyak pelajaran. Ada koperasi yang sukses menjadi penyelamat ekonomi anggotanya, tapi tidak sedikit yang gulung tikar. Ada juga yang status hukumnya masih aktif, tapi aktivitasnya sudah mati suri.
Menariknya, perbedaan nasib ini jarang ditentukan oleh seberapa besar modal awal atau seberapa megahnya bangunan kantor. Pembedanya justru ada pada hal-hal tidak kasat mata yang tidak pernah masuk dalam laporan keuangan tahunan. Misalnya, apakah pengurusnya bisa dipercaya? apakah anggota masih mau datang rapat? apakah koperasi menjadi pintu pertama yang diketuk warga saat mereka kesulitan? Rasa percaya tidak bisa diukur dengan tabel angka.
Suntikan program pemerintah bisa melahirkan ratusan koperasi baru dalam semalam. Namun, merawatnya butuh pendekatan berbeda. Kepercayaan publik tidak bisa dipaksa lahir demi mengejar target tenggat waktu proyek. Kepercayaan itu tumbuh organik saat keputusan diambil terbuka, pengurus tidak alergi dikritik, dan manfaatnya mengalir ke dapur anggota—bukan ke kantong elite pengurus.
Bung Hatta meletakkan koperasi sebagai sebuah "gerakan". Gerakan tidak bernyawa karena instruksi birokrasi. Gerakan hidup karena orang-orang memilih bertahan dan berjalan bersama dalam situasi sesulit apa pun.
Spirit kolektif inilah yang juga menjiwai SerambiPikir. Platform literasi ini dibentuk dari cetak biru yang sama, atas dasar kepercayaan, semangat bersama, dan visi kolektif untuk merawat nalar publik. Kami meyakini satu hal, bahwa media publik—seperti halnya koperasi—hanya akan punya napas panjang jika dirawat oleh komunitas yang merasa memilikinya.
Maka Hari Koperasi Nasional adalah alarm untuk menguji kembali fondasi kita. Gedung bisa dibangun dan anggaran bisa dikucurkan kapan saja, tetapi jauh lebih mendasar dari itu, yang menentukan umur sebuah koperasi—juga platform ini—adalah pilihan prinsipil: apakah kita masih mau berjuang bersama, atau memilih jalan sendiri-sendiri.