Beranda/ Artikel/ Sajian Redaksi/ Final Piala Dunia dan Ilu...

Final Piala Dunia dan Ilusi Nasionalisme Pinjaman Kita

Di balik riuh final Piala Dunia, ada emosi publik yang dikemas jadi komoditas global. Ketika sorotan dunia tertuju pada layar kaca, isu domestik seperti badai PHK rentan terpinggirkan dari ruang diskursus. Redaksi SerambiPikir mengajak kita menguliti ilusi nasionalisme pinjaman ini.

Redaksi SerambiPikir
19 July 2026 4 mnt baca
0

1784692367_body_jysdhK2IPWuL.webp

Ilustrasi/SerambiPikir

Senin dini hari besok, ruang-ruang publik kita akan menjelma menjadi pusat emosi yang meluap-luap. Di warung kopi pinggiran hingga kafe urban, pekik histeris, tetesan air mata kecemasan, dan selebrasi yang menggelegar dipastikan bakal tumpah ruah. Kita akan menyaksikan sebuah pemandangan ganjil sekaligus memikat saat jutaan manusia Indonesia, yang terpisahkan jarak ribuan kilometer dari garis lapangan, mendadak merasa memiliki ikatan darah dan takdir dengan sebelas pria di layar kaca, baik dari sisi Argentina maupun dari sisi Spanyol.

Pada titik puncak turnamen terbesar sejagat ini, sebuah fenomena psikologi massa yang unik mengemuka ke permukaan. Kita secara sukarela meminjam nasionalisme bangsa lain, merawatnya dengan fanatisme yang menyala-nyala, lalu merayakannya seolah-olah kejayaan itu adalah milik kita sendiri. Di balik riuh rendah nonton bareng yang komunal tersebut, ada sebuah realitas yang mungkin luput dari kesadaran bahwa emosi kolektif yang kita rasakan sebenarnya adalah produk yang telah dikemas dengan sangat rapi oleh industri global.

Dalam dunia komunikasi massa modern, ketegangan dan air mata penonton tidak pernah lahir di ruang hampa. Industri media tidak hanya menjual siaran pertandingan sepak bola, mereka memproduksi dan menjual drama. Narasi tentang pembuktian terakhir sang legenda, benturan ego dua bintang muda, hingga eksploitasi sentimen sejarah persaudaraan dan memori kolonial antara Spanyol dan Argentina terus direproduksi melalui algoritma media sosial jauh sebelum peluit pertama dibunyikan.

Dalam istilah sosiolog Jean Baudrillard, publik sedang dibawa masuk ke dalam ruang simulakral, sebuah kondisi ketika realitas buatan di layar kaca terasa jauh lebih konkret dan emosional ketimbang kenyataan hidup kita yang sebenarnya.

Di ruang inilah emosi penonton dikuras menjadi bahan bakar utama kapitalisme digital. Semakin ekstrem luapan perasaan kita, misalnya seperti kemarahan atas keputusan wasit atau euforia gol terlambat, semakin tinggi pula angka keterikatan (engagement) yang dihasilkan. Kita digiring untuk terus menetap di depan layar, meramaikan tagar, hingga akhirnya melakukan konversi emosi menjadi transaksi finansial lewat pembelian jersi, langganan aplikasi, dan konsumsi produk sponsor.

Fenomena ini mengamini tesis sosiolog Arlie Hochschild mengenai komodifikasi emosi, sebuah situasi ketika perasaan terdalam manusia sengaja dikelola dan direkayasa demi motif komersial industri.

Di sinilah nasionalisme pinjaman (borrowed nationalism) itu bekerja sebagai komoditas yang paling laris. Ketika tim nasional sendiri masih berjuang menapak tertatih-tatih, publik domestik ditawari sebuah jalan pintas untuk merasakan megahnya sebuah kejayaan global. Kita mengadopsi identitas kultural bangsa lain demi memvalidasi eksistensi diri dalam pergaulan digital dunia. Kendati demikian, keterikatan emosional yang begitu masif pada panggung global ini membawa tantangan tersendiri bagi fokus perhatian publik kita.

Saat perhatian massal begitu mudah tersedot dan larut demi nasib seorang penyerang asing yang gagal mengeksekusi penalti misalnya, ruang perbincangan publik untuk isu-isu domestik yang mendesak menjadi rentan terpinggirkan. Ketangkasan kita dalam membedah taktik di lapangan hijau idealnya berbanding lurus dengan kepekaan merespons impitan hidup yang nyata di sekitar kita. Di tengah riuhnya kompetisi global, agenda-agenda krusial seperti badai pemutusan hubungan kerja di sektor industri padat karya hingga ancaman krisis air bersih akibat kemarau ekstrem yang mengepung daerah-daerah kita harus tetap mendapatkan porsi perhatian yang adil dan konsisten dalam ruang kesadaran bersama.

Redaksi SerambiPikir memandang bahwa menikmati keindahan seni sepak bola dan kemegahan final Piala Dunia tentu merupakan hak rekreasi yang sah bagi siapa saja. Perayaan komunal di Senin dini hari nanti adalah penawar penat yang menyenangkan. Namun, sebagai konsumen media yang kritis, kita semua wajib memiliki kesadaran berlapis.

Kami mengajak pembaca untuk tahu batas tegas kapan kita sedang murni menikmati sebuah hiburan olahraga, dan kapan kita sedang tunduk pada kendali industri yang tengah memeras emosi serta dompet kita demi grafik keuntungan mereka. Jangan sampai, setelah peluit panjang berbunyi dan layar kaca dimatikan, kita baru menyadari bahwa kejayaan yang kita tangisi dan rayakan semalaman hanyalah sebuah ilusi yang kita pinjam dari bangsa lain.

Redaksi SerambiPikir

Ruang Gagasan, Rumah Pengetahuan

Ikuti Penulis
Komentar 0
Silakan Masuk terlebih dahulu untuk mengirim komentar.
Artikel Terkait