Menjadi Bugis di Tanah Rantau
Setiap perantau memiliki ceritanya sendiri. Melalui pengalaman pribadi, tulisan ini mengisahkan bagaimana tradisi massompe' mengajarkan bahwa merantau bukan sekadar meninggalkan kampung halaman, tetapi juga belajar mencintai tempat-tempat baru tanpa melupakan akar budaya.

Sumber: Ilustrasi digital
Ada satu pertanyaan yang hampir selalu saya terima ketika berkenalan dengan orang baru.
"Orang mana?"
Saya menjawab, "Bugis."
Percakapan biasanya berlanjut dengan pertanyaan lain.
"Kok bisa sampai di Kalimantan Selatan?"
Saya tidak pernah punya jawaban yang singkat. Sebab, perjalanan menuju Kalimantan Selatan bukanlah satu keputusan yang selesai dalam semalam. Ia merupakan rangkaian peristiwa yang saling bertaut, bahkan beberapa di antaranya tidak pernah saya rencanakan.
Setamat SMA, saya meninggalkan kampung halaman dengan harapan dapat melanjutkan pendidikan di Yogyakarta. Saya membayangkan hidup akan dimulai dari sana. Kota itu, seperti dalam bayangan banyak anak muda, identik dengan mahasiswa, buku, diskusi, dan mimpi-mimpi yang tumbuh di sudut-sudut warung kopi.
Rencana itu tidak pernah menjadi kenyataan.
Perjalanan saya justru berbelok ke Malang. Saat itu saya menganggap perubahan tersebut sebagai kegagalan kecil. Bertahun-tahun kemudian saya baru menyadari bahwa hidup memang tidak selalu berjalan mengikuti peta yang kita buat sendiri. Ada jalan yang baru memperlihatkan maknanya setelah cukup lama dilalui.
Malang memberi saya banyak hal. Pendidikan adalah salah satunya. Yang tidak pernah saya duga, kota itu juga mempertemukan saya dengan perempuan yang kemudian menjadi istri saya, seorang putri Banjar. Dari pernikahan itulah saya mulai mengenal Kalimantan Selatan. Setelah itu, pekerjaan memperpanjang alasan saya untuk tetap tinggal hingga akhirnya daerah ini menjadi tempat saya mengabdi.
Saya datang sebagai menantu dalam keluarga Banjar. Lambat laun saya belajar menikmati soto Banjar tanpa merasa harus membandingkannya dengan coto dari kampung sendiri. Saya mulai akrab mendengar percakapan berbahasa Banjar, berteman dengan orang-orang yang lahir dan besar di sini, lalu menjalani kehidupan sehari-hari sebagai bagian dari masyarakat.
Perjalanan itu membuat saya memahami sesuatu yang sejak kecil sebenarnya telah ada di sekitar saya.
Di keluarga saya, sama seperti kebanyakan keluarga Bugis lainnya, selalu ada cerita tentang orang yang tinggal jauh dari kampung halaman. Ada yang menjadi pelaut, membuka usaha di pulau lain, bekerja di kota yang bahkan belum pernah saya dengar namanya, atau menetap di daerah yang asing bagi generasi sebelumnya. Tidak ada yang menganggap mereka telah meninggalkan asal-usulnya. Mereka hanya sedang menjalani kehidupan di tempat yang berbeda.
Belakangan saya mengetahui bahwa pengalaman itu memiliki nama. Orang Bugis menyebutnya massompe'.
Kata itu sering diterjemahkan sebagai merantau atau berlayar. Namun, massompe' lebih dari sekadar perpindahan tempat. Ia adalah keberanian menerima kemungkinan baru. Laut, yang begitu dekat dengan kehidupan orang Bugis, tidak dipandang sebagai batas, tetapi jalan yang menghubungkan satu kehidupan dengan kehidupan lainnya.
Barangkali karena itulah jejak orang Bugis dapat ditemukan di berbagai penjuru Nusantara. Mereka hadir di kawasan pesisir, kota-kota pelabuhan, pusat perdagangan, hingga daerah pedalaman. Mereka datang membawa bahasa, nilai, dan kebiasaan dari kampung halaman. Pada saat yang sama, mereka juga belajar menghormati budaya tempat mereka berpijak, lalu hidup bersama masyarakat yang mereka temui di tanah rantau.
Saya merasakan pengalaman itu di Kalimantan Selatan.
Saya tetap orang Bugis. Namun, kehidupan saya juga diperkaya oleh budaya Banjar. Tidak ada yang saling menghapus. Justru keduanya saling melengkapi. Saya menyadari bahwa identitas budaya tidak bekerja seperti pagar yang memisahkan satu kelompok dari kelompok lain. Identitas lebih menyerupai rumah yang pintunya selalu terbuka. Pengalaman baru masuk, tetapi pengalaman lama tidak harus keluar.
Pandangan itu ikut memengaruhi cara saya melihat pekerjaan.
Sebagai aparatur sipil negara yang berkecimpung dalam pelindungan pekerja migran Indonesia, saya bertemu banyak orang yang meninggalkan kampung halaman untuk menyeberang ke negara lain. Alasan mereka beragam, tetapi harapannya hampir selalu sama: mencari kehidupan yang lebih baik.
Saya merasa dekat dengan kisah-kisah itu. Tentu perjalanan kami tidak sama. Saya merantau untuk belajar, membangun keluarga, dan bekerja. Mereka menempuh perjalanan yang mungkin jauh lebih berat. Namun, ada pengalaman yang kami pahami bersama: meninggalkan sesuatu yang akrab untuk menyambut sesuatu yang belum pasti.
Pengalaman itu membuat saya percaya bahwa identitas budaya bukanlah tembok yang memisahkan seseorang dari orang lain. Identitas justru menjadi bekal untuk bertemu dengan kebudayaan lain tanpa kehilangan jati diri.
Barangkali inilah pelajaran paling berharga dari tradisi merantau Bugis. Merantau bukan sekadar mencari pekerjaan atau penghidupan. Merantau adalah kesediaan membuka diri terhadap dunia yang lebih luas, belajar dari masyarakat yang berbeda, lalu menemukan cara untuk hidup berdampingan.
Saya sendiri tidak lagi melihat kampung halaman dan tanah rantau sebagai dua dunia yang terpisah. Keduanya telah membentuk diri saya. Saya lahir sebagai orang Bugis, dipertemukan dengan pasangan hidup di Malang, lalu menemukan ruang pengabdian di Kalimantan Selatan.
Hari ini, ketika seseorang bertanya dari mana saya berasal, jawabannya tetap sama: saya orang Bugis. Namun, jika ditanya di mana saya merasa menjadi bagian, jawabannya tidak lagi sesederhana menyebut satu daerah atau suku.
Sebagian hidup saya tertinggal di kampung halaman. Sebagian lagi dibentuk oleh Malang. Dan hari-hari yang saya jalani sekarang bertumbuh di Kalimantan Selatan.
Saya tidak merasa kehilangan identitas karena tinggal jauh dari tempat lahir. Justru perjalanan membuat saya memahami bahwa identitas dapat bertambah tanpa harus saling meniadakan. Mungkin itulah makna yang terus hidup dalam tradisi massompe', bahwa merantau bukanlah cerita tentang meninggalkan rumah. Merantau adalah tentang menemukan rumah-rumah baru, tanpa pernah melupakan tempat pertama yang mengajarkan kita arti pulang.
Artikel ini merupakan karya penulis yang telah melalui proses penyuntingan redaksional. Pandangan, pendapat, data, dan interpretasi yang disampaikan menjadi tanggung jawab penulis serta tidak selalu mencerminkan sikap atau pandangan Redaksi SerambiPikir. Baca selengkapnya