Kita hidup dalam budaya yang mengajarkan ketangguhan, tetapi sering lupa memberi ruang bagi kerentanan. Di keluarga, sekolah, kerja, hingga media sosial, banyak orang belajar menyembunyikan luka demi terlihat baik-baik saja. Refleksi ini mengajak kita memaknai kembali arti "kuat" dan membangun budaya yang lebih berani mendengar, menerima, dan mengakui bahwa rapuh juga bagian dari menjadi manusia.
Perkembangan gadget membuat anak-anak semakin jarang bermain di luar rumah. Padahal, bermain penting untuk mengembangkan kemampuan fisik, sosial, emosional, dan karakter. Gadget bukanlah masalah utama, tetapi ketidakseimbangan penggunaannya. Karena itu, orang tua, sekolah, dan masyarakat perlu menghidupkan kembali budaya bermain sebagai investasi bagi generasi masa depan.
Setiap perantau memiliki ceritanya sendiri. Melalui pengalaman pribadi, tulisan ini mengisahkan bagaimana tradisi massompe' mengajarkan bahwa merantau bukan sekadar meninggalkan kampung halaman, tetapi juga belajar mencintai tempat-tempat baru tanpa melupakan akar budaya.
Catatan tentang kepemimpinan dan budaya mengangguk.