Membahas kebudayaan melalui tulisan tentang tradisi, bahasa, sejarah, seni, dan kearifan lokal. Kata kunci utama untuk orientasi rubrik ini adalah "membahas kebudayaan."
Grup WhatsApp Paguyuban Wali Murid telah menjelma menjadi semacam dewan pengawas tidak resmi bagi kualitas keorangtuaan kita. Tulisan ini merupakan bagian dari seri artikel sosiologis bertajuk "Anatomi Grup WhatsApp" yang membedah realitas sosio-kultural di dalam ruang obrolan digital kita sehari-hari.
Kita hidup dalam budaya yang mengajarkan ketangguhan, tetapi sering lupa memberi ruang bagi kerentanan. Di keluarga, sekolah, kerja, hingga media sosial, banyak orang belajar menyembunyikan luka demi terlihat baik-baik saja. Refleksi ini mengajak kita memaknai kembali arti "kuat" dan membangun budaya yang lebih berani mendengar, menerima, dan mengakui bahwa rapuh juga bagian dari menjadi manusia.
Grup WhatsApp sekolah anak memunculkan pertanyaan: siapa sebenarnya yang sedang bersekolah, anak atau orang tuanya? Tulisan ini merupakan bagian dari seri artikel sosiologis bertajuk "Anatomi Grup WhatsApp" yang membedah realitas sosio-kultural di dalam ruang obrolan digital kita sehari-hari.
Grup WhatsApp warga perumahan adalah sebuah mikrokosmos yang merekam denyut nadi, kecemasan, serta ironi masyarakat urban dan sub-urban. Tulisan ini merupakan bagian dari seri artikel sosiologis bertajuk "Anatomi Grup WhatsApp" yang membedah realitas sosio-kultural di dalam ruang obrolan digital kita sehari-hari.
Grup WhatsApp kantor kita telah berevolusi menjadi instrumen pendisiplinan diri, kadang-kadang menjadi "teror". Tulisan ini merupakan bagian dari seri artikel sosiologis bertajuk "Anatomi Grup WhatsApp" yang membedah realitas sosio-kultural di dalam ruang obrolan digital kita sehari-hari.
Grup WhatsApp Keluarga adalah panggung teater kesopanan, tempat memanggungkan harmoni, merawat tata krama, dan mengukuhkan hierarki kultural. Tulisan ini merupakan bagian dari seri artikel sosiologis bertajuk "Anatomi Grup WhatsApp" yang membedah realitas sosio-kultural di dalam ruang obrolan digital kita sehari-hari.
Setiap perantau memiliki ceritanya sendiri. Melalui pengalaman pribadi, tulisan ini mengisahkan bagaimana tradisi massompe' mengajarkan bahwa merantau bukan sekadar meninggalkan kampung halaman, tetapi juga belajar mencintai tempat-tempat baru tanpa melupakan akar budaya.
Catatan tentang kepemimpinan dan budaya mengangguk.