Grup WhatsApp Bimbingan Skripsi: Ruang Tunggu ACC
Grup WhatsApp Bimbingan Skripsi adalah perwujudan dari monarki digital absolut di lingkungan kampus. Denyut nadi akademis, kelulusan, hingga kewarasan mental mahasiswa dipertaruhkan di ruang ini. Tulisan ini merupakan bagian dari seri artikel sosiologis bertajuk "Anatomi Grup WhatsApp" yang membedah realitas sosio-kultural di dalam ruang obrolan digital kita sehari-hari.
Dalam galaksi tata surya bernama WhatsApp, sebagian besar grup beroperasi seperti rasi bintang yang egaliter. Setiap anggota memiliki pendar cahaya yang kurang lebih setara, saling menimpali, dan saling berbagi ruang.
Namun, ada satu jenis grup yang menolak hukum gravitasi sosial tersebut. Grup ini memiliki satu matahari mutlak sebagai pusat tata surya, sementara anggota lainnya hanyalah planet-planet kecil yang mengorbit dengan penuh kecemasan. Jika Anda adalah mahasiswa, atau pernah menjadi mahasiswa setidaknya dalam satu dekade terakhir, tentu pernah merasakannya.
Grup tersebut adalah Grup WhatsApp Bimbingan Skripsi. Nama grup ini biasanya sangat fungsional dan kaku, misalnya “Bimbingan Skripsi Pak Subianto”, “Pejuang Toga Bu Nanik”, atau sekadar “Bimbingan Skripsi 2025/2026”.
Secara arsitektur, grup ini adalah perwujudan paling sempurna dari monarki digital absolut di lingkungan kampus. Di dalam ruang obrolan berukuran beberapa inci inilah, denyut nadi akademis, kelulusan, hingga kewarasan mental mahasiswa dipertaruhkan.
Coba amati atau bayangkan lanskap interaksi tekstual di dalamnya. Di grup bimbingan skripsi, asimetri (ketimpangan) kekuasaan terlihat begitu telanjang dari cara berbahasa. Seorang mahasiswa akan menyusun pesan layaknya sedang menyusun naskah proklamasi. Kalimatnya panjang, diawali dengan tiga lapis salam pembuka, permohonan maaf yang berlebihan, dan ditutup dengan doa kebaikan.
“Assalamualaikum. Selamat pagi, Bapak. Mohon maaf mengganggu waktu istirahat Bapak. Izin bertanya, apakah Bapak memiliki waktu luang minggu ini untuk bimbingan? Saya mau mengonsultasikan Bab 3 skripsi saya. Terima kasih banyak sebelumnya, sehat selalu, Bapak.”
Lalu, bagaimana sang dosen, pusat kekuasaan tersebut, membalasnya? Sangat sering, balasan yang muncul setelah penantian berjam-jam (atau bahkan berhari-hari) hanyalah sebuah pesan minimalis yang efisien. “Rabu jam 10 di ruang Prodi”, atau sekadar “Ok”, atau bahkan lebih parah lagi, hanya dibalas dengan stiker jempol. Menyebalkan, bukan?
Relasi Kuasa
Mari kita meminjam pandangan filsuf Prancis Michel Foucault untuk memahami fenomena ketimpangan teks ini. Teorinya mengenai Kuasa/Pengetahuan (Power/Knowledge). Foucault mengajarkan bahwa kekuasaan tidak selalu berwujud paksaan fisik, bisa juga beroperasi secara subtil melalui diskursus dan produksi kebenaran.
Dalam ekosistem bimbingan, dosen adalah pemegang monopoli kebenaran epistemik. Dosenlah yang menentukan apakah sebuah rumusan masalah itu valid, apakah metodologinya tepat, dan kapan sebuah draf layak diberi mantra suci tiga huruf: ACC.
Kekuasaan diskursif inilah yang membuat dosen memiliki kemewahan untuk bersikap irit kata di WhatsApp. Kebungkaman atau balasan singkat dari sang dosen di grup bimbingan bukanlah tanda kelemahan, melainkan justru pertunjukan kekuasaan itu sendiri.
Sang dosen mendikte waktu, ruang, dan ritme kehidupan sang mahasiswa. Saat notifikasi “Dosen is typing...” muncul di grup, bisa dipastikan ada beberapa mahasiswa di ujung layar sana yang menahan napas sejenak, menebak-nebak apakah itu kabar baik untuk jadwal bimbingan atau titah revisi lanjutan.
Tuan dan Hamba
Meski dosen terlihat memiliki kuasa absolut, dinamika ini sesungguhnya jauh lebih kompleks. Untuk membedah lapis kedua dari relasi ini, kita perlu pinjam gagasan filsuf besar Jerman, G.W.F. Hegel tentang Dialektika Tuan dan Hamba (Herrschaft und Knechtschaft/Master-Slave Dialectic).
Kata Hegel, kesadaran manusia membutuhkan pengakuan (recognition) dari orang lain agar ia memiliki makna. Awalnya, sang Tuan (dosen) tampak menguasai sang Hamba (mahasiswa). Sang Hamba bekerja keras, membaca puluhan jurnal hingga begadang, bergulat dengan data, dan menderita demi menghasilkan teks skripsi.
Sang Tuan, di sisi lain, tidak perlu melakukan kerja keras tersebut. Sang Tuan hanya duduk, membaca hasilnya, mengkritik, mencoret-coret, kadang marah-marah tidak jelas, dan menikmati privilese posisinya.
Namun, di sinilah letak ironi dialektika Hegel. Pada akhirnya, sang Tuan akan menyadari bahwa dirinya sangat bergantung pada sang Hamba. Eksistensi dan legitimasi seorang Tuan ditentukan secara mutlak oleh keberadaan Hamba yang melayaninya.
Dalam konteks akademik, seorang dosen bimbingan tidak akan memiliki gelar kehormatan “pembimbing” atau mendapatkan kum (angka kredit) dosen jika tidak ada mahasiswa yang dibimbingnya.
Lebih jauh lagi, melalui proses “kerja” (mengerjakan skripsi) itulah sang Hamba justru memerdekakan dirinya sendiri. Mahasiswa yang tadinya tidak tahu apa-apa, melalui penderitaan revisi demi revisi, akhirnya menguasai objek penelitiannya, bahkan sering kali menjadi jauh lebih ahli di topik spesifik tersebut dibandingkan dosennya sendiri.
Pada saat sidang skripsi ditutup dan status lulus disematkan, terjadilah rekonsiliasi kebebasan. Sang Hamba kini “merdeka”, selangkah lagi akan menjadi seorang sarjana.
Berakhirnya dialektika ini akan terekam dengan sangat puitis namun pragmatis di dalam grup WhatsApp bimbingan. Siklus hidup mahasiswa di grup ini selalu berujung pada satu ritual eksodus yang tak terelakkan. “Izin, saya pamit keluar grup karena sudah lulus.”
Setelah dinyatakan lulus, mendaftar yudisium, dan jilidan skripsi tebal bersampul keras (hardcover) diserahkan, utilitas grup bimbingan bagi mahasiswa tersebut telah usai. Maka, pada suatu hari yang tenang, akan muncul pesan panjang terakhir dari sang mahasiswa. Isinya adalah rangkuman rasa syukur, permintaan maaf atas segala kebebalan selama bimbingan, dan harapan kesuksesan bagi adik-adik tingkat yang masih terjebak di dalam “ruang tunggu ACC” tersebut.
Setelah pesan panjang itu dikirim, disusul oleh balasan ucapan selamat dari sang dosen dan teman-teman lainnya, muncul notifikasi singkat yang bersifat final. “Bahlil left group”.
Jembatan Masa Depan
Bagi para akademisi, termasuk saya, melihat satu per satu nama mahasiswa meninggalkan grup bimbingan selalu menyisakan perasaan yang ambivalen. Ada rasa bangga bahwa kita telah menetaskan satu lagi anak manusia ke kerasnya dunia nyata.
Namun di sisi lain, kepergian mereka adalah pengingat eksistensial yang tajam, bahwa kekuasaan yang kita nikmati, keangkuhan intelektual saat mencoret-coret draf Bab 1 mereka, dan otoritas kita menentukan jadwal bimbingan, semuanya bersifat sangat sementara.
Grup WhatsApp Bimbingan Skripsi mungkin lebih tepat disebut sebagai sebuah stasiun persinggahan. Grup ini mengingatkan kita bahwa setinggi apa pun status struktural dan intelektual kita sebagai dosen, kita hanyalah jembatan bagi masa depan orang lain. Dan layaknya sebuah jembatan yang baik, fungsi sejati dosen pembimbing adalah untuk diseberangi, ditinggalkan, dan kelak hanya diingat sebagai bagian kecil dari sejarah panjang perjalanan hidup mereka.
Semoga mereka yang pernah hidup dalam “ruang tunggu ACC” ini sukses dalam setiap langkah hidupnya, apapun kariernya. Panjang umur perjuangan hidup!

Seri artikel sosio-kultural Anatomi Grup WhatsApp
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan
pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya