Beranda/ Artikel/ Selasar Budaya/ Grup WhatsApp Mata Kuliah...

Grup WhatsApp Mata Kuliah: Semester yang Fana

Grup WhatsApp mata kuliah memang berumur pendek. Tapi, grup ini adalah saksi bisu dari jutaan kegelisahan intelektual anak muda yang sedang mencoba mencari arah masa depan mereka. Tulisan ini merupakan bagian dari seri artikel sosiologis bertajuk "Anatomi Grup WhatsApp" yang membedah realitas sosio-kultural di dalam ruang obrolan digital kita sehari-hari.

Najamuddin Khairur Rijal
20 Agustus 2026 5 menit baca
0

Jika Anda adalah seorang mahasiswa atau pekerja kampus (baca:dosen), tentu familiar dengan siklus ini. Setiap enam bulan sekali, siklus birokrasi kampus selalu melahirkan sebuah ritual digital yang repetitif namun tak terelakkan.

Sebelum perkuliahan pertemuan pertama dimulai, jari-jemari seorang dosen (atau juga sering diinisiasi oleh komandan tingkat (komting) mahasiswa, koordinator kelas, atau apapun namanya) akan menari di atas layar ponsel untuk membuat sebuah entitas baru. Judulnya selalu seragam dan kaku. Misalnya, “Metodologi Penelitian Sosial A” atau “Pengantar Ilmu Politik B”.

Tautan undangan (invite link) disebar ke grup angkatan, mahasiswa mulai bergabung satu per satu dengan menyertakan nama dan nomor induk mahasiswa, hingga akhirnya grup itu resmi bernyawa.

Namun, tidak seperti grup keluarga yang abadi, grup alumni yang mengendap menahun, atau grup organisasi yang liar, grup WhatsApp kelas kuliah memiliki takdir biologis yang sangat pendek. Usianya diatur secara ketat oleh kalender akademik.

Lahir pada minggu pertama perkuliahan, mencapai puncaknya pada pekan-pekan Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS), meredup dan akhirnya mati suri begitu semester berganti.

Di semester berikutnya, siklus itu berulang. Dosen yang sama akan membuat grup baru untuk mata kuliah yang baru dan kelas yang baru, sementara grup mata kuliah yang lama dibiarkan mangkrak menjadi fosil digital di dasar arsip aplikasi.

Mengapa dosen (dan mahasiswa) begitu gemar, sekaligus terpaksa, memindahkan ruang kelas fisik yang megah ke dalam layar ponsel yang sempit?

Instrumen Fungsional

Untuk memahaminya, kita bisa melihat bagaimana teknologi telah mengaburkan batas tradisional antara institusi pendidikan dan ranah privat mahasiswa. Di masa lalu, relasi antara dosen dan mahasiswa dibatasi oleh ruang dan waktu yang tegas. Interaksi hanya terjadi di dalam gedung kampus, di balik meja kerja, atau saat jam konsultasi di ruang program studi. Begitu pintu kelas ditutup dari dalam, dosen adalah dosen, dan mahasiswa adalah mahasiswa.

Hari ini, berkat grup WhatsApp mata kuliah, ruang kelas tidak lagi memiliki dinding. Kuliah bisa berlangsung 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Pukul sebelas malam, dosen kadang masih menerima pesan masuk dari mahasiswa yang bertanya, “Mohon maaf Pak, tugasnya dikumpulkan hardfile juga atau cukup softfile?”

Grup mata kuliah adalah manifestasi dari apa yang disebut oleh Zygmunt Bauman sebagai karakteristik masyarakat cair (liquid society), di mana institusi-institusi sosial dipaksa menjadi fleksibel, temporer, dan serba instan.

Grup ini diciptakan bukan untuk membangun ikatan sosial yang mendalam atau persahabatan jangka panjang, melainkan semata-mata sebagai instrumen utilitas fungsional, yakni alat penyebaran file PDF silabus dan bahan bacaan, pengingat tenggat waktu pengumpulan tugas, dan tempat menyebar tautan Zoom saat dosen berhalangan hadir tatap muka.

Namun, jika diamati lebih dalam isi percakapan di dalam grup ini selama satu semester penuh, kita akan menemukan sebuah fenomena sosiologis yang menarik. Frekuensi komunikasi di grup ini biasanya membentuk kurva lonceng (bell curve) yang sangat ekstrem.

Maksudnya begini. Pada minggu pertama hingga minggu ketiga, suasana grup cenderung senyap. Hanya ada sapaan formal dari beberapa orang mahasiswa. Memasuki minggu tengah semester, saat tugas mulai menumpuk dan bayangan ujian mendekat, grup mendadak berubah menjadi hiruk-pikuk. Notifikasi berdering tanpa henti. Pertanyaan-pertanyaan titipan mulai membanjiri.

“Pak, mohon maaf, apakah materi minggu lalu masuk ke kisi-kisi UTS?”, atau “Izin bertanya Pak, apakah pengumpulan tugas yang hardcopy boleh dititip ke teman?”

Dan, puncaknya terjadi pada hari-hari terakhir menjelang penutupan input nilai. Di momen inilah grup kelas bertransformasi menjadi ruang negosiasi nilai yang menegangkan, tempat di mana mahasiswa dengan berbagai variasi alasan meminta kebijaksanaan sang dosen agar IPK mereka selamat dari jurang kemerosotan.

Celengan Pasif

Ironisnya, di tengah ribuan teks dan dokumen yang dibagikan di grup tersebut, pendidikan sering kali direduksi menjadi sekadar urusan administratif mekanis. Kritik terhadap fenomena ini pernah disuarakan oleh pendidik asal Brasil Paulo Freire melalui konsep “Pendidikan Gaya Bank” (banking concept of education).

Dalam model ini, pendidikan sering kali diperlakukan layaknya transaksi perbankan. Dosen adalah “pemberi” atau “penyetor” pengetahuan (dalam hal ini materi kuliah dan slide PPT), sementara mahasiswa adalah “celengan” pasif yang tugasnya menerima, menyimpan, dan menyetorkan kembali hafalan tersebut saat ujian tiba.

Grup WhatsApp mata kuliah, dalam batas tertentu, memfasilitasi model perbankan pendidikan ini secara digital. Grup ini mendefinisikan hubungan belajar-mengajar sebatas sirkulasi file tugas dan instruksi administratif, alih-alih sebagai ruang dialog kritis atau percakapan intelektual yang mendalam.

Ruang obrolan teks yang serba cepat dan terbatas karakternya jarang sekali menjadi tempat di mana perdebatan filosofis yang radikal bisa tumbuh. Yang ada adalah efisiensi birokratis. Instruksi diberikan, tugas dikumpul, nilai dikeluarkan, selesai.

Lantas, bagaimana akhir dari riwayat sebuah grup kelas kuliah?

Saksi Bisu

Siklus hidupnya selalu ditutup oleh sebuah pesan formal penutup di akhir semester. “Terima kasih banyak atas ilmu dan bimbingannya selama satu semester ini, Bapak. Mohon maaf jika kami ada salah kata dan perbuatan selama perkuliahan. Semoga Bapak sehat selalu.”

Disusul oleh deretan stiker bergambar kucing membungkuk, tangan menangkup, dan emoji jempol dari puluhan mahasiswa. Setelah itu, keheningan abadi menyelimuti grup tersebut.

Bagi saya sebagai dosen, menghapus atau sekadar membiarkan puluhan grup mata kuliah mati di dalam daftar aplikasi memberikan sebuah kontemplasi tersendiri. Setiap grup yang mati adalah penanda bahwa satu fase kehidupan mahasiswa telah berlalu. Saya telah melewati satu angkatan lagi, mengantar mereka naik satu tingkat lebih tinggi menuju gerbang kelulusan, sementara saya sendiri bersiap membuka kembali aplikasi WhatsApp, mengetik judul mata kuliah baru, dan menyambut wajah-wajah baru di semester depan.

Grup WhatsApp mata kuliah mungkin dingin, transaksional, dan berumur pendek. Namun, di balik kerangka administratifnya yang kaku, grup ini adalah saksi bisu dari jutaan kegelisahan intelektual anak muda yang sedang mencoba mencari arah masa depan mereka di ruang-ruang kelas kuliah.

Semoga sukses selalu untuk mereka yang pernah berjuang di grup ini.

1786423642_body_ekBYZXmlSzZn.webp

Seri artikel sosio-kultural Anatomi Grup WhatsApp

Disclaimer

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya

Najamuddin Khairur Rijal

Pembelajar isu-isu politik global dan isu-isu sosial kontempoer

Ikuti Penulis
Komentar 0
Silakan Masuk terlebih dahulu untuk mengirim komentar.
Artikel Terkait
Siaran Peristiwa — Kirim informasi via WhatsApp SerambiPikir
Ketikkan keyword yang ingin Anda telusuri.