Mengapa Kehidupan yang Kita Bangun Hari Ini Membuat Kepala Manusia Begitu Sulit untuk Benar-Benar Beristirahat?
Tulisan ini tidak berkata “kamu harus istirahat, kamu harus berdamai dengan diri”, tetapi membiarkan kita bercermin pada kehidupan yang sedang kita jalani. Ramainya kepala → tekanan zaman → membandingkan diri → pertanyaan tentang hidup → menerima ketidakpastian → berhenti sejenak → menemukan ruang untuk diri sendiri.

Ilustrasi digital
Ada sesuatu yang menarik dari kehidupan hari ini. Kita memiliki semakin banyak cara untuk menghemat waktu, tetapi justru semakin sedikit waktu yang terasa benar-benar milik kita. Teknologi membuat banyak hal menjadi lebih cepat: pesan dapat dikirim dalam hitungan detik, informasi tersedia kapan saja, pekerjaan dapat dilakukan dari berbagai tempat, dan kabar dari belahan dunia lain dapat hadir di layar hanya dengan beberapa sentuhan. Seharusnya hidup menjadi lebih ringan. Namun, mengapa kepala manusia justru terasa semakin penuh?
Mungkin karena yang tidak pernah benar-benar kita matikan bukan hanya gawai, melainkan juga pikiran. Pagi bahkan belum benar-benar dimulai ketika tangan sudah mencari telepon. Di layar ada pesan yang belum dibalas, berita yang belum dibaca, pekerjaan yang menunggu, percakapan yang terlewat, dan kehidupan orang lain yang tanpa sadar ikut masuk ke dalam kesadaran kita. Kita baru membuka mata, tetapi dunia sudah lebih dulu meminta perhatian. Hari belum berjalan, tetapi kepala sudah menerima begitu banyak suara. Kemudian kita menjalani hari seperti biasa. Bekerja, belajar, bertemu orang, menyelesaikan tanggung jawab, mengejar sesuatu yang belum selesai. Ketika pekerjaan berakhir, kepala tidak serta-merta ikut pulang. Ia membawa percakapan dari siang tadi, kesalahan yang mungkin dilakukan, pekerjaan untuk besok, dan berbagai kemungkinan yang sebenarnya belum terjadi. Tubuh mungkin sudah berada di rumah, tetapi pikiran masih tertinggal di tempat lain.
Kita beristirahat dengan tubuh, tetapi belum tentu dengan pikiran.
Aku sering mengamati seseorang yang menggunakan transportasi umum setelah seharian bekerja bahkan aku sendiri juga melakukannya. Duduk di dekat jendela, melepas lelah, lalu tanpa sadar membuka ponsel. Satu video berganti video lain. Ada teman yang baru mendapat pekerjaan, seseorang yang sedang berlibur, orang lain yang mengumumkan pernikahan, ada pula yang membagikan pencapaian terbaru. Perjalanan pulang yang seharusnya menjadi jeda justru dipenuhi kehidupan orang lain. Ketika akhirnya sampai di rumah, mungkin tidak merasa telah beristirahat tetapi hanya berpindah dari satu keramaian ke keramaian lainnya.
Inilah salah satu paradoks kehidupan modern. Kita menciptakan banyak sarana untuk membuat hidup lebih nyaman, tetapi bersamaan dengan itu kita juga menciptakan semakin banyak alasan untuk selalu tersedia. Dulu, ketika seseorang pulang ke rumah, dunia mungkin ikut berhenti sejenak di depan pintu. Hari kerja selesai ketika seseorang meninggalkan tempat kerjanya. Kini batas-batas itu menjadi semakin kabur. Pekerjaan dapat mengetuk melalui pesan, berita terus bergerak, dan percakapan tidak mengenal jam. Bahkan ketika kita sedang tidak melakukan apa-apa, kita masih bisa merasa sedang tertinggal dari sesuatu.
Yang seringkali kita takutkan bukan lagi sekadar ketinggalan informasi, tetapi ketinggalan kehidupan. Melihat seseorang seusia kita mendapatkan pekerjaan yang bagus, kita mulai bertanya apakah hidup kita sudah cukup jauh. Melihat teman menikah, pertanyaan tentang kapan giliran kita muncul. Melihat orang lain bepergian, membeli sesuatu, membangun usaha, melanjutkan pendidikan, atau mencapai sesuatu yang selama ini kita inginkan, kita mulai mengukur kehidupan sendiri menggunakan kehidupan mereka sebagai alat ukur. Padahal kita tidak pernah benar-benar melihat seluruh kehidupan mereka. Kita hanya melihat bagian yang ditampilkan. Namun bagian kecil itu sering kali sudah cukup untuk membuat kita mempertanyakan diri sendiri.
Di sinilah media sosial menjadi lebih dari sekadar tempat berbagi kabar. Ia perlahan menjadi ruang tempat kita belajar tentang bagaimana kehidupan “seharusnya” terlihat. Seolah-olah pada usia tertentu kita harus sudah tahu ingin menjadi apa, memiliki pekerjaan yang mapan, mempunyai pasangan, produktif, berkembang, dan memiliki pencapaian yang dapat diceritakan. Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk tumbuh. Masalahnya muncul ketika kehidupan berubah menjadi proyek yang tidak pernah selesai. Selalu ada versi diri yang harus diperbaiki, target berikutnya yang harus dicapai, keterampilan baru yang harus dipelajari, dan sesuatu yang dianggap masih kurang. Bahkan istirahat pun kadang harus diberi alasan agar terasa sah: membaca buku supaya berkembang, berolahraga supaya lebih sehat, mengikuti kelas supaya tidak tertinggal.
Kita terbiasa mengejar sesuatu sampai lupa bagaimana rasanya merasa cukup.
Kelelahan manusia hari ini pun tidak selalu berasal dari banyaknya pekerjaan. Ada kelelahan lain yang lebih sulit dilihat: perasaan bahwa kita harus terus bergerak agar tidak tertinggal. Dalam budaya yang mengukur seseorang melalui apa yang ia kerjakan, apa yang ia capai, dan seberapa cepat ia bergerak, diam mudah dianggap sebagai kemunduran. Kita lebih mudah bertanya, “Sekarang kamu bekerja di mana?”, “Sudah punya pasangan?”, atau “Targetmu berikutnya apa?” daripada bertanya, “Apakah kamu menikmati hidupmu?” Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terdengar biasa, tetapi ketika terus-menerus hadir, ia dapat berubah menjadi suara yang menetap di dalam kepala: bahwa kita harus segera menjadi sesuatu, bahwa waktu sedang mengejar, dan bahwa kehidupan kita harus memiliki bentuk tertentu agar dianggap berhasil.
Kita terlalu lama hidup dengan suara itu dan justru kesulitan ketika suasana menjadi sunyi. Ada seseorang yang akhirnya sampai di kamar setelah seharian beraktivitas. Lampu sudah dimatikan. Tidak ada pekerjaan yang sedang dikerjakan. Tidak ada percakapan yang harus dijawab. Secara fisik, tidak ada lagi yang menuntutnya. Tetapi justru pada saat itulah pikirannya mulai bekerja lebih keras. Ia mengingat percakapan tadi siang, memikirkan keputusan yang belum dibuat, membayangkan kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi, lalu berpindah pada pertanyaan tentang masa depan. Malam menjadi tempat bagi hal-hal yang sepanjang hari berhasil ditunda. Itu sebabnya kita sering kembali mencari keramaian. Membuka layar, menggulir tanpa tujuan, mencari sesuatu untuk dilihat atau didengar. Bukan karena kita tidak membutuhkan istirahat, tetapi karena terlalu sunyi membuat kita mendengar diri sendiri terlalu jelas. Dan ketika suara dari luar berhenti, muncul pertanyaan yang selama ini tertutup oleh kesibukan:
Apa sebenarnya yang kita inginkan?
Apakah pekerjaan ini memang kita pilih, atau kita hanya takut tidak memiliki pekerjaan? Apakah hubungan yang sedang dijalani benar-benar kita kehendaki, atau kita bertahan karena takut sendiri? Apakah kehidupan yang sedang kita bangun merupakan pilihan kita, atau perlahan kita ikuti karena semua orang di sekitar kita melakukan hal yang sama?. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu tidak selalu menyenangkan. Tetapi mungkin justru karena itulah kita jarang memberi ruang untuk mendengarnya. Di titik ini, mungkin kita membutuhkan sebuah ruang. Bukan tempat untuk melarikan diri dari kehidupan, melainkan ruang di antara kesibukan dan keheningan. Ruang bukan tujuan akhir. Ia hanya tempat yang dilewati orang sebelum menuju ke tempat lain. Namun di sana seseorang bisa melihat apa yang sedang terjadi: siapa yang datang, siapa yang pergi, siapa yang terburu-buru, dan siapa yang memilih tinggal sejenak.
Barangkali kehidupan juga demikian. Kita semua sedang melewati fase masing-masing. Ada yang sedang mengejar sesuatu, ada yang sedang kehilangan sesuatu, ada yang sedang mencari arah, dan ada yang terlihat tenang meskipun di dalam kepalanya berlangsung percakapan yang panjang. Persoalannya bukan bagaimana membuat kepala kita sepenuhnya sunyi. Kepala manusia mungkin memang akan selalu memiliki sesuatu untuk dipikirkan: masa lalu yang belum selesai, masa depan yang belum datang, keinginan yang belum tercapai, dan pertanyaan yang belum menemukan jawabannya. Yang menarik justru:
Bagaimana kehidupan yang kita bangun hari ini membuat semua suara itu semakin sulit mendapatkan jeda.
Kita menciptakan dunia yang serba cepat, serba terhubung, dan selalu tersedia. Lalu tanpa sadar, kita ikut menjadi manusia yang merasa harus selalu cepat, selalu terhubung, dan selalu tersedia. Karena itu, yang perlu kita lakukan bukan mencari kehidupan yang sepenuhnya sunyi, melainkan sesekali mengambil jarak dari kebisingan yang kita ciptakan sendiri. Bukan untuk meninggalkan ambisi atau menolak kesibukan, tetapi untuk melihat kembali hubungan kita dengan semua itu.
Apakah kita menggunakan teknologi, atau justru kita yang terus tersedia untuknya? Apakah kita mengejar kesuksesan, atau sedang dikejar oleh definisi kesuksesan yang dibentuk oleh lingkungan? Apakah kita sedang membangun kehidupan yang kita inginkan, atau hanya berusaha terlihat memiliki kehidupan yang baik?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak harus memiliki jawaban yang sama. Bahkan mungkin tidak perlu segera dijawab. Sebab ruang bukan tempat untuk menentukan seluruh arah perjalanan, melainkan tempat untuk melihat kembali langkah yang sudah ditempuh.
Mungkin kepala kita tidak akan pernah benar-benar sunyi. Akan selalu ada pertanyaan, kekhawatiran, keinginan, kenangan, dan rencana yang tinggal di dalamnya. Namun di tengah kehidupan yang terus bergerak, kita masih bisa memberi diri sendiri kesempatan untuk mendengar suara yang lebih pelan.
Sebab mungkin ada pertanyaan yang lebih penting daripada, “Apa yang harus kucapai setelah ini?” Apakah aku benar-benar sedang menjalani hidupku, atau hanya sedang berusaha agar tidak tertinggal dari kehidupan orang lain? Pertanyaan itu tidak perlu dijawab terburu-buru. Cukup dibawa pulang. Mungkin, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kita bisa membiarkannya tinggal di kepala tanpa merasa harus segera menemukan jawabannya.
Demi menjaga kenyamanan dan pengalaman terbaik mengunjungi SerambiPikir, kami memilih tidak menggunakan iklan AdSense. Anda tetap dapat ikut merawat SerambiPikir melalui kontribusi sukarela. Dukungan Anda membantu ruang ini terus tumbuh dan tetap terbuka bagi semua.
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan
pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya