Beranda/ Artikel/ Selasar Budaya/ Grup WhatsApp Jual-Beli:...

Grup WhatsApp Jual-Beli: Pasar Ghaib

Grup WhatsApp jual-beli warga perumahan adalah etalase paling jujur sekaligus paling absurd tentang bagaimana kapitalisme mikro beroperasi di tingkat akar rumput. Tulisan ini merupakan bagian dari seri artikel sosiologis bertajuk "Anatomi Grup WhatsApp" yang membedah realitas sosio-kultural di dalam ruang obrolan digital kita sehari-hari.

Najamuddin Khairur Rijal
25 Agustus 2026 4 menit baca
0

Di dunia nyata, pasar adalah ruang fisik yang bising. Ada suara tukang tawar yang melengking, bau ikan asin beraroma tajam, sengatan matahari yang membakar kulit, dan keranjang belanjaan yang berat.

Namun, di dalam ekosistem perumahan urban modern kita hari ini, pasar telah mengalami mutasi radikal. Pasar tidak lagi membutuhkan tanah lapang, kios permanen, atau bahkan interaksi tatap muka. Pasar itu hidup di dalam genggaman, bersembunyi di balik ikon aplikasi, dan menjelma menjadi apa yang sering kita sebut dengan setengah berkelakar: Pasar Ghaib.

Meski namanya “pasar ghaib”, tapi itu nyata. Transaksi di dalamnya berlangsung sebagaimana layaknya pasar. Seperti di perumahan tempat tinggal saya, pasar ghaib itu selalu ramai sepanjang hari, dengan aneka barang dagangan yang dijajakan.

Grup WhatsApp jual-beli warga perumahan seperti itu adalah etalase paling jujur sekaligus paling absurd tentang bagaimana kapitalisme mikro beroperasi di tingkat akar rumput. Berbeda dengan e-commerce raksasa yang dingin, algoritmik, dan didominasi oleh korporasi, pasar ghaib ini diisi oleh tetangga rumah kita sendiri.

Orang-orang yang tadi pagi Anda sapa saat mereka menyapu halaman, atau yang sore-sore Anda lihat mengenakan kaos oblong dan celana pendek, tiba-tiba bertransformasi menjadi sales gigih di dalam layar ponsel.

Lebih dari itu, etalase pasar ghaib ini adalah panggung tanpa kurasi. Apapun bisa diperjualbelikan di sini, seolah-olah prinsip ekonomi pasar bebas diadopsi secara mentah-mentah tanpa filter estetika.

Pukul delapan pagi, seorang ibu rumah tangga menawarkan frozen food buatan sendiri dengan foto produk beresolusi rendah dan teks bertuliskan huruf kapital. “READY Sosis Ayam, Halal, Tanpa Pengawet, 15rb/pax, Minat japri aja!”.

Belum sempat jempol Anda melewati pesan itu, beberapa menit kemudian kemudian lini masa grup sudah digantikan oleh tawaran aneka gorengan hangat, les privat matematika anak SD, promosi madu hutan asli dari kampung halaman, hingga lelang motor bekas tetangga. Semua berdesak-desakan, tumpah ruah dalam satu aliran pesan yang sama.

Pertukaran Komoditas

Untuk memahami fenomena itu, Karl Marx jauh-jauh hari sudah memperingatkan tentang proses komodifikasi, tentang bagaimana kapitalisme merangsek masuk ke dalam setiap celah kehidupan privat, mengubah relasi sosial manusia menjadi relasi pertukaran komoditas. Namun, di pasar ghaib perumahan, komodifikasi ini memiliki wajah yang sangat khas Indonesia karena dibalut oleh solidaritas tetangga.

Di satu sisi, transaksi di grup ini bukan murni urusan untung-rugi ala korporasi besar. Ada dimensi kultural yang kuat di dalamnya. Ketika seorang tetangga membeli kue buatan tetangganya yang lain, ada dorongan moral untuk saling mendukung (support local neighbour). Tetangga bantu tetangga.

Harga sering kali menjadi nomor sekian, karena yang dibeli sebenarnya bukan sekadar produknya, melainkan rasa kebersamaan dan pengakuan sosial bahwa usaha tetangga kita itu penting.

Namun, di sisi lain, dinamika pasar ghaib ini sering kali melahirkan situasi yang secara sosiologis cukup menggelikan. Bayangkan, ketika hubungan sosial antar-tetangga yang seharusnya dilandasi oleh gotong royong dan silaturahmi tiba-tiba diubah menjadi hubungan transaksional.

Ibu-ibu yang rumahnya di ujung blok, mendadak menjadi sangat rajin menyapa Anda di grup bukan karena ingin menanyakan kabar, melainkan untuk bumping (menyundul) postingan jualan madunya yang tertimbun chat lain sejak tiga hari lalu.

Katup Pengaman Sosial

Di sinilah kita bisa melihat sentuhan pemikiran Jean Baudrillard mengenai hiperrealitas dan nilai tanda (sign value). Di pasar ghaib, sering kali barang yang dijual bukanlah yang utama. Yang dikonsumsi adalah narasi di baliknya.

Kue kering yang harganya dua kali lipat lebih mahal dibanding swalayan laku keras bukan semata karena rasanya yang luar biasa, melainkan karena narasi “baking dengan cinta oleh ibu-ibu PKK” atau “bantu-bantu untuk uang sekolah anak”. Barang-barang tersebut diberi makna simbolik agar bernilai lebih tinggi di pasar yang hiper-kompetitif ini.

Belum lagi jika kita menyoroti drama-drama mikro yang kerap pecah di dalamnya. Mulai dari perdebatan sengit tentang harga ongkos kirim (ongkir) antar tetangga yang dianggap terlalu mahal, drama barang yang sudah di-booking tapi kemudian di-ghosting pembeli, hingga insiden salah kamar di mana seseorang tidak sengaja mengirim stiker protes politik di tengah rentetan katalog daster ibu-ibu.

Tapi, meski penuh dengan kebisingan notifikasi yang kadang membuat kepala pening, dan memang bikin pening, terutama saat grup diserbu oleh banjir foto produk di hari Jumat dengan dalih Jumat Berkah, pasar ghaib adalah denyut nadi yang menghidupkan ekonomi subsisten perkotaan.

Di saat badai PHK, ketidakpastian ekonomi makro, dan himpitan biaya hidup mencekik kelas menengah-bawah, grup WhatsApp ini menjadi katup pengaman sosial. Grup ini adalah wadah bagi warga untuk tidak menyerah pada keadaan, mengubah dapur rumah menjadi pabrik, dan menjadikan tetangga sebagai pasar terdekat.

Maka, setiap kali ponsel Anda bergetar di siang bolong karena puluhan foto produk makanan basah masuk ke grup warga, jangan langsung buru-buru membisukan (mute) notifikasinya selamanya. Sebab, di balik deretan foto yang kadang buram dan teks promosi yang penuh salah ketik (typo) itu, sedang terjadi sebuah pertahanan hidup yang gigih.

Pasar ghaib mungkin maya, transaksinya instan, dan bentuknya sederhana. Namun di sanalah, di ruang obrolan itu, ketahanan ekonomi rakyat kecil dirajut lewat satu bungkus keripik singkong dan satu porsi soto ayam dalam satu waktu.

Ayo, dibeli. Minat, japri aja!

1787588953_body_zKwKDmiOfzRt.webp

Seri artikel sosio-kultural Anatomi Grup WhatsApp

Disclaimer

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya

Najamuddin Khairur Rijal

Pembelajar isu-isu politik global dan isu-isu sosial kontempoer

Ikuti Penulis
Komentar 0
Silakan Masuk terlebih dahulu untuk mengirim komentar.
Artikel Terkait
Siaran Peristiwa — Kirim informasi via WhatsApp SerambiPikir
Ketikkan keyword yang ingin Anda telusuri.