Beranda/ Artikel/ Selasar Budaya/ Grup WhatsApp Arisan: MaC...

Grup WhatsApp Arisan: MaCan (Mama-Mama Cantik)

Grup WhatsApp Arisan membuktikan bahwa kadang-kadang, cara terbaik untuk bertahan dari kerasnya beban kehidupan domestik adalah dengan menertawakannya bersama. Tulisan ini merupakan bagian dari seri artikel sosiologis bertajuk "Anatomi Grup WhatsApp" yang membedah realitas sosio-kultural di dalam ruang obrolan digital kita sehari-hari.

Najamuddin Khairur Rijal
10 Agustus 2026 5 menit baca
0

Jika Anda ingin melihat puncak peradaban tata krama digital, kemampuan negosiasi tingkat tinggi, dan kedisiplinan logistik yang melampaui kepanitiaan militer, maka masuklah ke dalam sebuah Grup WhatsApp Arisan. Umumnya grup ini dimiliki ibu-ibu, dan karena itu anggotanya juga emak-emak.

Grup ini biasanya menyandang nama-nama yang memancarkan optimisme dan keanggunan. Seperti, “Arisan Cantik”, “Moms Socialite”, “Arisan Berkah Bersama”, atau sekadar “Geng Macan (Mama-mama Cantik)”. Berbeda dengan grup bapak-bapak yang cenderung kering dan sarat dengan perdebatan politik satu arah, grup arisan ibu-ibu adalah sebuah panggung teater kehidupan yang berdenyut nyaris 24 jam sehari, 7 hari sepekan.

Grup ini dipenuhi dengan koreografi stiker animasi yang menggemaskan, pertukaran resep masakan, tautan diskon perabotan rumah tangga, hingga sesi curahan hati (curhat) mengenai kelakuan mertua, suami sendiri, atau suami tetangga. Eh, ups.

Gaya Hidup

Di balik fasad keakraban keseharian tersebut, grup WhatsApp arisan memiliki satu fungsi utama yang sangat serius. Ia adalah pusat komando untuk mengatur ritual pertemuan bulanan. Seiring bergesernya zaman, tradisi arisan yang dulu identik dengan kumpul-kumpul di ruang tamu sambil mengunyah penganan tradisional dan mengocok gulungan kertas di dalam gelas kaca, kini telah bermutasi menjadi sebuah perhelatan gaya hidup urban yang terkoordinasi secara digital.

Dinamika grup ini akan mencapai titik didihnya pada minggu kedua atau ketiga setiap bulan, yakni saat penentuan lokasi (venue) dan kadang-kadang dress code (aturan busana) dimulai. Puluhan pesan bertukar cepat untuk memutuskan apakah bulan ini mereka akan berkumpul di kafe bernuansa industrial, restoran dengan taman bermain, atau kedai bergaya Eropa klasik.

Setelah lokasi disepakati, perdebatan bergeser ke ranah estetika. “Bulan ini dress code-nya Denim and White ya, Bund!” atau “Sekarang temanya Floral Hijab, biar fotonya cerah ceria.”

Lalu, di mana letak uang arisannya? Di sinilah ironi ekonominya terjadi. Untuk memahami paradoks ini, rasanya saya perlu mengundang sosiolog dan ekonom klasik Amerika Serikat, Thorstein Veblen, dengan teorinya yang masyhur: konsumsi mencolok (conspicuous consumption).

Dalam bukunya The Theory of the Leisure Class (1899), Veblen menyatakan bahwa dalam masyarakat modern, orang membeli barang atau melakukan kegiatan bukan demi nilai guna (kegunaan praktis) barang tersebut, melainkan untuk memamerkan status sosial, kekayaan, dan daya beli mereka kepada orang lain.

Grup WhatsApp Arisan adalah etalase digital bagi conspicuous consumption ini. Sering kali, secara matematis, arisan gaya baru ini sangat menentang logika ekonomi dasar.

Bayangkan, seorang ibu menyetor uang arisan (iuran pokok) sebesar Rp200.000 per bulan. Namun, untuk menghadiri acara pengundiannya, dia harus merogoh kocek Rp200.000 untuk memesan avocado toast dan redvelvet latte di kafe yang disepakati, ditambah Rp250.000 untuk membeli pakaian yang sesuai dengan dress code bulan itu. Biaya logistik dan “tampil” ternyata bisa jadi jauh lebih besar daripada uang yang diinvestasikan.

Konsolidasi Nilai Tanda

Pandangan Filsuf Prancis Jean Baudrillard perlu digunakan untuk melengkapi analisis Veblen. Baudrillard memperkenalkan konsep nilai tanda (sign value). Menurutnya, manusia posmodern tidak lagi mengonsumsi barang karena nilai fungsinya, melainkan karena makna atau prestise yang menempel pada barang/kegiatan tersebut.

Ketika para mama-mama cantik ini mentransfer uang iuran ke bendahara dan membayar makanan mahal di kafe, mereka sejatinya tidak sedang mencari untung dari uang arisan. Mereka sedang “membeli” nilai tanda, yakni keanggotaan eksklusif dalam sebuah sirkel, pengakuan sosial, dan yang paling penting, stok foto-foto estetik yang nantinya akan dibagikan kembali di grup WhatsApp dan diunggah ke Instagram.

Bahkan, proses “kocokan” arisan pun kini mengalami digitalisasi. Kertas di dalam gelas kaca telah digantikan oleh aplikasi Wheel of Names atau rolet digital. Bendahara cukup merekam layar ponselnya (screen record) saat roda digital itu berputar, lalu mengirimkan videonya ke grup WhatsApp, diiringi sorak-sorai emotikon dari pemenang bulan itu.

Selain sebagai ajang konsolidasi gaya hidup, grup WhatsApp arisan juga berfungsi sebagai alat pendisiplinan sosial yang sangat efektif, terutama soal utang-piutang. Tidak ada institusi penagihan utang yang lebih sopan namun mematikan secara psikologis selain “Daftar Transfer” (list absen bayar) di grup arisan.

Sang bendahara biasanya akan menyalin-tempel daftar nama anggota di grup: 1. Bunda A – Lunas; 2. Bunda B – Lunas; 3. Bunda C - ...; 4. Bunda D - ..., dst. Yang belum, ditunggu transferannya ya, Bunda-bunda sayangku.

Ini adalah bentuk panopticon digital. Tekanan teman sebaya (peer pressure) bekerja secara halus. Nama yang belum dibubuhi tanda centang hijau atau kata Lunas akan merasa ditelanjangi secara sosial di depan belasan pasang mata lainnya. Emotikon tangan menangkup dan wajah tersenyum dengan lope-lope bertindak sebagai pembungkus beludru dari sebuah palu godam penagihan iuran arisan.

Menjaga Kewarasan

Lantas, jika kegiatan ini secara hitungan ekonomi tidak menguntungkan dan penuh tekanan untuk terus tampil sempurna, mengapa para mama-mama cantik, ibu-ibu urban tetap gigih mempertahankan eksistensi grup WhatsApp arisan mereka? Apakah mereka hanya korban dari gaya hidup konsumtif?

Menyimpulkan demikian adalah sebuah kecacatan empati. Kita perlu melihat realitas domestik yang mengurung banyak perempuan. Bagi banyak ibu, baik yang bekerja di kantoran maupun ibu rumah tangga penuh waktu (full-time mother), kehidupan sehari-hari adalah rutinitas yang melelahkan dan sering kali mengalienasi. Mengurus anak, mengatur logistik dapur, hingga merapikan rumah adalah kerja-kerja reproduksi sosial yang nyaris tidak pernah dihargai secara layak, baik secara finansial maupun emosional.

Dalam lanskap kehidupan yang menekan itu, grup WhatsApp arisan menjadi semacam ruang pelarian (sanctuary). Ia adalah “Ruang Ketiga” (meminjam istilah sosiolog Ray Oldenburg), sebuah tempat di luar rumah dan tempat kerja, di mana seorang ibu bisa sejenak melepaskan identitas domestiknya.

Ketika seorang ibu sibuk berdebat soal dress code di grup, mencari baju di lemari, berdandan, lalu tertawa lepas di sebuah kafe bersama kawan-kawannya, dirinya sesungguhnya sedang merebut kembali otonomi atas tubuh, waktu, dan kebahagiaannya sendiri. Uang ratusan ribu yang lenyap untuk kafe dan baju bukanlah pemborosan yang bodoh, melainkan itu adalah harga yang sangat murah untuk sebuah kewarasan mental.

Jadi, biarkanlah notifikasi grup “Arisan Macan” itu terus berbunyi dengan riuh. Di balik tumpukan daftar transfer, perdebatan dress code, dan foto-foto berbusana seragam yang memenuhi memori gawai, terdapat sebuah sisterhood (persaudaraan perempuan) yang saling menopang.

Grup WhatsApp Arisan membuktikan bahwa kadang-kadang, cara terbaik untuk bertahan dari kerasnya beban kehidupan domestik adalah dengan menertawakannya bersama di sebuah kafe yang estetik, dalam balutan baju bernuansa pastel yang senada.

"Jadi, bulan ini kita ngumpul di mana mama-mama cantik sayangkuuh?"

1786337224_body_muZi5bGdmwbT.webp

Seri artikel sosio-kultural Anatomi Grup WhatsApp


Disclaimer

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya

Najamuddin Khairur Rijal

Pembelajar isu-isu politik global dan isu-isu sosial kontempoer

Ikuti Penulis
Komentar 0
Silakan Masuk terlebih dahulu untuk mengirim komentar.
Artikel Terkait
Siaran Peristiwa — Kirim informasi via WhatsApp SerambiPikir
Ketikkan keyword yang ingin Anda telusuri.