Kalau Dia Ada di Grup, Berani Bilang Begitu?
Gosip digital, reputasi, dan keberanian yang muncul ketika orang ketiga tidak hadir
Ada percakapan yang terasa jauh lebih mudah hanya karena satu orang tidak ada di dalamnya. Grup WhatsApp awalnya membahas pekerjaan, jadwal bertemu, olahraga, atau urusan biasa. Lalu sebuah nama muncul. “Dia memang begitu.” Satu orang menambahkan cerita. Yang lain memberi emoji tertawa. Tidak sampai sepuluh menit, orang yang tidak hadir itu sudah punya profil baru: sulit dipercaya, suka cari perhatian, tidak bisa diajak kerja sama.

Gosip dalam grup digital/Ilustrasi AI
Saya tidak menulis ini dari posisi orang yang merasa tidak pernah bergosip. Saya pernah. Justru karena itu, ada satu tes yang belakangan terasa mengganggu: kalau orang yang sedang dibicarakan tiba-tiba masuk ke grup, apakah saya masih berani mengirim kalimat yang sama?
Gosip Tidak Selalu Jahat
Membicarakan orang lain tidak otomatis berarti berniat buruk. Kajian tentang fungsi sosial gosip menunjukkan bahwa manusia bertukar informasi untuk membaca siapa yang dapat dipercaya, siapa yang melanggar norma, dan bagaimana harus bersikap. Dalam situasi tertentu, informasi tentang orang ketiga memang berguna.
Penelitian tentang gosip prososial bahkan menunjukkan bahwa gosip dapat dipakai untuk memperingatkan orang lain dari perilaku egoistis atau merugikan. Kalau seorang teman hendak berbisnis dengan orang yang pernah menipu kita, menceritakan pengalaman itu bisa menjadi bentuk perlindungan.
Masalahnya berubah ketika cerita tidak lagi dipakai untuk menjelaskan perilaku, tetapi untuk menetapkan identitas. “Saya pernah kecewa dengannya” tidak sama dengan “dia memang mengecewakan.” “Dia pernah marah pada saya” juga berbeda dari “dia temperamental.” Versi pertama menyimpan konteks. Versi kedua menutup perkara.
Cerita bahkan tidak harus bohong untuk menjadi tidak adil. Seseorang mungkin memang pernah terlambat, membatalkan janji, atau membuat keputusan yang menjengkelkan. Tetapi kalau yang beredar hanya kejadian buruk, sementara puluhan interaksi biasa tidak pernah ikut diceritakan, grup sedang membangun potret dari potongan yang dipilih. Fakta-faktanya bisa benar, tetapi kesimpulan akhirnya tetap meleset.
Label mulai bekerja setelah seseorang disebut “sulit diajak kerja sama”. Keterlambatan satu balasan pesan terasa seperti bukti baru. Ketika ia tidak hadir di sebuah pertemuan, cerita lama dipakai lagi. Kita merasa sedang membaca perilaku terbaru, padahal bisa jadi kita hanya sedang mencari kecocokan dengan reputasi yang lebih dulu terbentuk.
Dalam penelitian tentang reputasi sosial, penerima gosip menggunakan informasi yang didengar untuk memperbarui penilaian terhadap orang yang dibicarakan. Satu cerita memang tidak selalu menghancurkan reputasi. Tetapi ketika cerita serupa ditumpuk, orang lain bisa merasa sudah mengenal seseorang padahal belum pernah mendengar versinya.
Layar Menurunkan Harga sebuah Kalimat
Coba pindahkan percakapan tadi dari WhatsApp ke meja makan. Semua anggota grup duduk di sana, termasuk orang yang sedang dibicarakan. Nada suara biasanya berubah. Pilihan kata lebih hati-hati. Beberapa komentar mungkin tidak jadi keluar sama sekali.
John Suler menyebut salah satu perubahan perilaku di ruang digital sebagai disinhibition effect. Layar dapat membuat orang lebih terbuka, impulsif, atau keras dibanding ketika berhadapan langsung. WhatsApp memang tidak anonim, tetapi ketidakhadiran target menghilangkan sesuatu yang penting: reaksi langsung.
Orang yang dibicarakan tidak bisa mengernyit, memotong percakapan, atau berkata, “Ceritanya tidak seperti itu.” Kita hanya melihat pesan sendiri, lalu respons teman-teman. Satu emoji tertawa bisa terasa seperti persetujuan. Dua komentar tambahan membuat cerita pertama terdengar makin sah. Percakapan memperoleh keberanian dari kerumunan kecil.
Anggota yang diam belum tentu setuju. Bisa saja mereka malas ikut campur atau tidak tahu harus menanggapi apa. Tetapi bagi orang yang sedang aktif berbicara, keheningan mudah dibaca sebagai lampu hijau.
Besok Kita Tetap Menyapanya
Bagian yang paling janggal justru terjadi setelah layar dikunci. Besok kita bertemu orang itu. Kita bilang, “Pagi,” bertanya kabar, mungkin meminta tolong, lalu bercakap seperti biasa. Ia tidak tahu bahwa semalam namanya menjadi bahan obrolan panjang.
Tidak semua rasa kesal harus dibicarakan langsung. Tidak semua konflik layak dikonfrontasikan. Kadang kita memang butuh teman untuk meminta pendapat atau menenangkan diri. Tetapi ada perbedaan antara mencari jalan keluar dan mengumpulkan penonton.
Ada konsekuensi lain yang jarang dipikirkan. Riset tentang reputasi penggosip menemukan bahwa orang yang dikenal sering menyebarkan gosip negatif dapat dinilai lebih rendah sebagai sumber keahlian dan lebih jarang dimintai nasihat. Saat kita menceritakan kelemahan orang lain, pendengar tidak hanya belajar tentang target. Mereka juga belajar sesuatu tentang kita.
Kalimat “saya cerita ini cuma ke kamu” terdengar akrab, tetapi punya sisi lain. Kalau seseorang mudah membawa cerita pribadi orang lain kepada kita, tidak ada alasan kuat untuk menganggap cerita tentang kita akan berhenti di tangannya.
Coba Tes Tangkapan Layar
Sebelum mengirim komentar tentang orang yang tidak ada di grup, bayangkan seluruh percakapan itu diambil tangkapan layar lalu dikirim kepadanya. Bukan hanya satu pesan yang dipilih, tetapi dari awal sampai akhir.
Kalau kita masih nyaman, barangkali yang ditulis memang informasi yang perlu, proporsional, dan bisa dipertanggungjawabkan. Kalau mendadak panik, ada gunanya bertanya kenapa kalimat itu hanya terasa pantas selama kita yakin target tidak akan membacanya.
Saya tidak percaya solusi realistisnya adalah berhenti membicarakan orang lain sama sekali. Manusia memang bercerita tentang manusia lain. Yang bisa dijaga adalah batasnya: ceritakan perilaku yang relevan, jangan cepat mengubahnya menjadi label; minta pendapat jika memang membutuhkan pendapat, jangan menambah penonton hanya karena percakapannya sedang seru.
Orang yang tidak ada di grup tidak kehilangan hak untuk mendapat konteks yang adil. Ia hanya kehilangan kesempatan untuk membela dirinya saat itu. Sebelum jari menekan tombol kirim, tesnya tidak perlu rumit: kalau dia ada di grup, berani bilang begitu?
Demi menjaga kenyamanan dan pengalaman terbaik mengunjungi SerambiPikir, kami memilih tidak menggunakan iklan AdSense. Anda tetap dapat ikut merawat SerambiPikir melalui kontribusi sukarela. Dukungan Anda membantu ruang ini terus tumbuh dan tetap terbuka bagi semua.
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan
pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya