Menyampaikan gagasan melalui opini, esai, dan analisis atas berbagai isu publik. Kata kunci utama untuk orientasi rubrik ini adalah "menyampaikan gagasan argumentatif."
Era Masyarakat 5.0 menjanjikan dunia serbacanggih. Namun, dunia pendidikan menghadapi dilema: apakah kita sedang mendidik manusia yang bijak, atau sekadar mencetak operator teknologi yang tumpul nalar dan minim empati?
Prestasi membanggakan kembali ditorehkan Ranting INKANAS UNIMERZ dalam ajang Kejurda INKANAS Piala Kapolda Sulsel. Dengan membawa semangat juang dan mental bertanding yang kuat, para karateka INKANAS UNIMERZ sukses menorehkan 9 medali: 2 emas dan 7 perak.
Drama Korea "Teach You a Lesson" menjadi cermin untuk melihat krisis perlindungan di sekolah Indonesia. Di tengah meningkatnya perundungan dan kekerasan di lingkungan pendidikan, pelajaran dari "Teach You a Lesson" adalah kita perlu sistem perlindungan hak pendidikan yang kolaboratif sebagai upaya preventif.
Tulisan ini mengkritik tajam gugatan kesejahteraan dosen di Mahkamah Konstitusi (MK) yang elitis dan bias PTN. Mengatasnamakan "dosen Indonesia", perjuangan ini dinilai munafik karena mengabaikan realitas kelam dosen PTS yang dituntut kinerja setara namun digaji di bawah UMR. Penulis menuntut solidaritas nyata, bukan sekadar perjuangan elitis kelompok PTN semata.
Pernahkah kita merenung, mengapa di tengah meningkatnya literasi dan melimpahnya informasi, justru individu seakan mengalami kebingungan atas diri sendiri? Tulisan ini berisi sebuah keresahan. Melampaui mengingat banyaknya informasi, membaca pada hakikatnya adalah proses memahami diri sendiri selama seumur hidup.
Setelah reformasi, Indonesia mengalami perubahan besar-besaran. Salah satu hal yang menjadi tolok ukurnya adalah transformasi kebebasan pers di Indonesia yang ditandai dengan disahkannya UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Namun, kebebasan pers dibayar dengan terbelenggunya pekerja di industri ini.
Sekolah dipercaya sebagai jalan keluar dari kemiskinan. Namun, melalui modal budaya dan reproduksi sosial, ruang kelas juga dapat mempertahankan ketimpangan. Bagaimana pendidikan dapat benar-benar memutus rantainya?
Trophy Wife adalah salah satu warisan budaya patriarki yang masih sangat mengental di Indonesia bahkan di dunia. Seorang istri yang seharusnya digambarkan sebagai pasangan hidup berubah makna menjadi simbol kesuksesan seorang laki-laki. Konotasinya cenderung negatif karena perempuan digambarkan sebagai aksesori pelengkap citra di mata masyarakat.
Perkembangan gadget membuat anak-anak semakin jarang bermain di luar rumah. Padahal, bermain penting untuk mengembangkan kemampuan fisik, sosial, emosional, dan karakter. Gadget bukanlah masalah utama, tetapi ketidakseimbangan penggunaannya. Karena itu, orang tua, sekolah, dan masyarakat perlu menghidupkan kembali budaya bermain sebagai investasi bagi generasi masa depan.
Mengapa pendidikan antikorupsi belum berhasil melahirkan generasi yang berintegritas? Persoalannya bukan terletak pada kurangnya pengetahuan tentang korupsi, melainkan kegagalan membentuk karakter melalui keteladanan di sekolah, keluarga, dan masyarakat. Pendidikan antikorupsi hanya akan efektif jika kejujuran dibiasakan dalam kehidupan, bukan sekadar diajarkan di ruang kelas.
Korupsi bukan hanya mencuri uang negara, tetapi juga mengajarkan nilai yang salah kepada generasi muda. Ketika kekuasaan dipertautkan dengan kekayaan, pendidikan integritas kehilangan wibawa dan korupsi berubah menjadi kurikulum tersembunyi bangsa.
Tapir yang mati di Mesuji mungkin hanya satu ekor. Tetapi dalam urusan ekologi, tidak ada yang benar-benar “hanya”. Satu satwa adalah bagian dari populasi, satu populasi adalah bagian dari ekosistem, satu ekosistem adalah bagian dari kehidupan yang menopang eksistensi manusia.