Kapan Hujan Turun?
Sebulan hidup bersama asap karhutla di Banjarbaru, ibu kota Kalimantan Selatan.
Sudah hampir sebulan saya menjalani hari dengan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah benar-benar saya pikirkan: kualitas udara. Sejak tinggal di Banjarbaru, untuk pertama kalinya dalam hidup saya mengalami masa ketika membuka pintu rumah pada pagi hari bukan lagi sekadar untuk melihat apakah langit cerah atau mendung. Saya justru mencoba mencium udara. Masih adakah bau asap? Seberapa pekat kabut pagi ini? Apakah jendela sebaiknya tetap tertutup?

Ilustrasi suasana pagi di Banjarbaru yang diselimuti kabut asap karhutla pada musim kemarau/AI Generate
Ada hari ketika asap terasa tipis. Ada pula pagi ketika aromanya langsung dikenali bahkan sebelum saya melihat ke luar rumah. Lama-kelamaan muncul satu pertanyaan yang hampir terdengar sederhana, tetapi semakin sering saya ucapkan dalam hati: kapan hujan turun?
Saya merindukan hujan bukan hanya karena udara terasa panas atau halaman mulai kering. Saya menunggunya karena hujan, dalam keadaan seperti ini, terasa seperti kesempatan untuk kembali menghirup udara yang lebih bersih. Namun, setelah berminggu-minggu hidup bersama asap, saya mulai bertanya apakah persoalannya memang sesederhana menunggu hujan.
Udara yang Tidak Lagi Terasa Biasa
Keresahan itu ternyata tidak berdiri sendiri. BMKG Kalimantan Selatan telah menyatakan bahwa Banjarbaru memasuki musim kemarau dengan puncak yang diprediksi terjadi pada September 2026. Curah hujan diperkirakan berada di bawah normal, dengan durasi musim kemarau lebih panjang daripada biasanya. Untuk periode Juli hingga Oktober, Banjarbaru bahkan diprediksi mengalami curah hujan rendah, yakni di bawah 150 milimeter per bulan.
Artinya, ketika saya bertanya kapan hujan turun, jawabannya tidak sesederhana melihat awan gelap lalu berharap hujan datang sore nanti. Banjarbaru sedang berada dalam periode yang memang secara klimatologis lebih kering. Kondisi ini diperkuat oleh pengaruh El Niño yang membuat peluang hujan berkurang dan lahan semakin kehilangan kelembapan.
Pada 2 September 2026, BMKG mendeteksi 1.299 titik panas di Kalimantan Selatan. Sebanyak 59 di antaranya berada di Kota Banjarbaru. Pada saat yang sama, seluruh wilayah Kalimantan Selatan berada dalam kategori sangat mudah terbakar. Vegetasi yang kering, serasah, dan lapisan gambut yang kehilangan kelembapan membuat api lebih mudah menyebar ketika muncul sumber penyulut.
Ketika Pagi Tidak Lagi Identik dengan Udara Segar
Ada satu hal yang baru saya pahami setelah mengalami musim asap ini: pagi hari tidak selalu menjadi waktu ketika udara terasa paling bersih. Justru pada beberapa hari, asap terasa lebih pekat ketika matahari baru terbit.
BMKG menjelaskan bahwa pada malam hingga dini hari dapat terjadi inversi suhu. Udara yang lebih dingin berada dekat permukaan, sedangkan lapisan udara di atasnya relatif lebih hangat. Akibatnya, asap, debu, dan polutan lebih sulit bergerak ke atas dan cenderung terkonsentrasi dekat permukaan. Setelah matahari memanaskan tanah dan pergerakan udara meningkat, polutan perlahan dapat menyebar.
Penjelasan tersebut membuat pengalaman sehari-hari terasa lebih masuk akal. Bau asap yang paling jelas pada pagi hari bukan sekadar perasaan. Udara yang terlihat sedikit lebih terang pada siang hari juga tidak otomatis berarti masalahnya selesai. Asap dapat berpindah bersama angin dan kualitas udara dapat berubah dalam waktu relatif singkat.
Angka yang Membuat Asap Tidak Bisa Dianggap Biasa
Pada 19 Agustus 2026, pengamatan partikulat PM2.5 di Stasiun Klimatologi Kalimantan Selatan sempat mencapai kategori berbahaya. Konsentrasi tertinggi tercatat 412,80 mikrogram per meter kubik pada pukul 05.00 WITA. Sehari setelahnya, kualitas udara berada pada kategori tidak sehat. Angka itu penting karena mengingatkan bahwa kabut yang kita lihat bukan hanya gangguan visual atau bau yang tidak nyaman.
Kementerian Kesehatan mengingatkan bahwa asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 dan berbagai polutan lain yang dapat memasuki sistem pernapasan. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit bawaan membutuhkan perlindungan lebih besar ketika kabut asap terjadi. Organisasi Kesehatan Dunia juga menempatkan PM2.5 sebagai salah satu ancaman utama dari asap kebakaran vegetasi karena partikel yang sangat kecil dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan berhubungan dengan berbagai gangguan kesehatan.
Saya tidak ingin setiap pagi berubah menjadi kegiatan memeriksa indeks kualitas udara sebelum membuka pintu. Namun, ketika kondisi seperti ini berlangsung berminggu-minggu, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah menjadi bagian dari rutinitas perlahan masuk ke kehidupan sehari-hari. Masker disiapkan. Jendela ditutup. Aktivitas luar ruangan dipertimbangkan ulang. Udara yang dulu tidak pernah dipikirkan kini menjadi sesuatu yang harus dikelola.
Adaptasi atau Mulai Terbiasa?
Manusia memang memiliki kemampuan besar untuk menyesuaikan diri. Dalam keadaan berasap, kita belajar mengurangi aktivitas di luar rumah. Kita menutup ventilasi tertentu. Kita memeriksa informasi cuaca. Kita berharap angin berubah. Semua itu masuk akal dan diperlukan.
Namun, ada bagian dari proses adaptasi yang membuat saya tidak nyaman. Ketika keadaan buruk berlangsung cukup lama, kita dapat mulai memperlakukannya sebagai bagian biasa dari musim. Percakapan berubah menjadi kalimat pendek: “memang begini kalau kemarau”, “nanti juga hilang kalau hujan”, atau “setiap tahun juga ada asap”.
Di sinilah saya mulai membedakan antara beradaptasi dan menormalisasi. Adaptasi membantu kita bertahan menghadapi keadaan yang sedang terjadi. Normalisasi membuat keadaan yang seharusnya tidak diterima mulai kehilangan daya untuk mengusik kita.
Saya tidak ingin asap menjadi penanda musim yang diterima begitu saja. Kemarau memang fenomena alam. BMKG menegaskan bahwa cuaca panas dan kering bukan penyebab langsung karhutla. Kondisi kering menciptakan lingkungan yang lebih mudah terbakar, tetapi sumber api sering berkaitan dengan aktivitas manusia, seperti pembakaran sampah, pembukaan lahan dengan membakar, atau puntung rokok yang dibuang sembarangan.
Menunggu Hujan, tetapi Tidak Menyerahkan Semua kepada Hujan
Saya tetap menunggu hujan. Rasanya sulit untuk tidak melakukannya ketika setiap hari berhadapan dengan udara kering dan bau asap. Hujan memang dapat membantu membawa sebagian partikel dan polutan turun dari atmosfer. Setelah hujan, udara sering terasa lebih segar karena proses pencucian alami tersebut.
Tetapi BMKG juga mengingatkan bahwa datangnya hujan tidak boleh membuat pencegahan karhutla diabaikan. Pada musim kemarau yang sangat kering, bahkan operasi modifikasi cuaca tidak dapat dilakukan hanya karena masyarakat membutuhkan hujan. Proses tersebut tetap membutuhkan keberadaan awan yang sesuai untuk penyemaian. Ketika pertumbuhan awan rendah, pilihan itu pun terbatas.
Di titik itu, pertanyaan “kapan hujan turun?” terasa berubah makna bagi saya. Awalnya ia hanya merupakan keluhan terhadap panas dan asap. Sekarang ia juga menjadi pertanyaan tentang mengapa kita begitu bergantung pada hujan untuk mengembalikan kondisi yang layak bagi kehidupan sehari-hari.
Jika sumber api dapat dicegah, lahan rawan dapat dijaga, dan respons dilakukan sejak dini, seharusnya hujan bukan satu-satunya hal yang kita tunggu untuk mengakhiri asap. Hujan dapat membantu. Tetapi pencegahan tetap membutuhkan manusia.
Udara Bersih Seharusnya Tidak Menjadi Kemewahan
Pengalaman satu bulan mungkin terlalu singkat untuk memahami seluruh kompleksitas karhutla di Kalimantan Selatan. Bagi masyarakat yang telah bertahun-tahun menghadapi siklus serupa, apa yang saya rasakan mungkin bukan sesuatu yang baru. Justru karena itu saya semakin bertanya mengapa pengalaman semacam ini harus terus berulang.
Ada hal-hal yang baru kita sadari nilainya ketika hilang. Udara bersih adalah salah satunya. Kita tidak membeli tiket untuk menghirupnya. Kita tidak menjadwalkannya. Dalam kondisi normal, kita bahkan hampir tidak memikirkannya. Tetapi ketika asap datang dan tinggal selama berminggu-minggu, bernapas di luar rumah tanpa rasa khawatir terasa seperti sesuatu yang sangat berharga.
Saya masih melihat langit setiap hari dan berharap awan mulai berkumpul. Saya masih berharap suara hujan terdengar di atap rumah, bukan hanya beberapa menit, tetapi cukup lama untuk membasahi tanah yang kering dan memberi jeda pada udara yang kami hirup.
Namun, mungkin pertanyaan yang perlu saya simpan bukan hanya “kapan hujan turun?” Ada pertanyaan lain yang lebih sulit: jika setiap musim kemarau kita kembali menunggu hujan untuk menyelamatkan udara kita, apa yang sebenarnya telah kita lakukan sebelum hujan itu datang?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan
pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya