Beranda/ Artikel/ Sudut Pandang/ Tantangan Learning Povert...

Tantangan Learning Poverty: Antara Menghafal atau Memahami

Tantangan literasi Indonesia tidak cukup dijawab dengan mempertentangkan penghafalan dan pemahaman. Keduanya harus ditempatkan secara proporsional dalam proses ajar-mengajar.

Gilbeth Pramana Saputra
04 September 2026 4 menit baca
0

Salah satu sarana konkret agar dapat memantau kondisi pertumbuhan pendidikan Indonesia adalah melihat skor Programme for International Student Assessment (PISA). Data terbaru PISA 2022 menunjukkan Indonesia memiliki skor 369, lebih rendah dari data tahun 2018 dengan skor 371. Meskipun mengalami penurunan skor, dari sisi peringkat justru mengalami peningkatan.

Pada tahun 2018, Indonesia berada di posisi 71 dari 79 negara, kemudian di tahun 2022 naik ke posisi 69 dari 81 negara. Namun demikian, Indonesia masih tertinggal dari skor rata-rata negara-negara Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Agar dapat mencapai skor rata-rata OECD, setidaknya diperlukan skor minimum 476 untuk kemampuan membaca, di mana skor literasi membaca Indonesia masih 359. Skor ini lebih rendah dari Matematika (366) dan Sains (383).

Berdasar data tersebut, dapat dilihat bahwa kita memiliki persoalan literasi, yang disebut dengan learning poverty atau kemiskinan belajar. UNESCO dan World Bank mendefinisikan learning poverty sebagai kondisi ketidakmampuan mengerti isi bacaan berupa kalimat sederhana yang dialami oleh anak-anak di jenjang sekolah dasar.

Memahami Learning Poverty

Learning poverty bukan sekadar persoalan apakah seorang anak dapat membaca huruf atau kata. Persoalannya adalah apakah anak tersebut mampu memahami apa yang dibacanya. Kalau seorang anak telah melewati masa sekolah dasar (studi di bangku SMP, misalnya), tetapi masih mengalami kesulitan memahami kalimat sederhana, kondisi itulah learning poverty.

Berdasarkan Learning Poverty Brief 2024 yang diterbitkan oleh UNESCO dan World Bank, ada 53% anak-anak Indonesia pada usia akhir Sekolah Dasar belum dapat memahami kalimat sederhana. Artinya, ada persoalan mendasar dalam pendidikan kita dan kita perlu terus berbenah.

Faktor penyebab learning poverty cukup kompleks. Bisa dipengaruhi dari aspek internal maupun eksternal yang saling berkaitan. Dari aspek internal, pada tingkat individual. Gangguan biologis bisa jadi mempengaruhi proses belajar, salah satunya adalah disleksia. Karena itu, orang tua dan pendidik harus cepat tanggap mengidentifikasi gejala disleksia pada murid dan mendampingi supaya gangguan itu tidak menghambat proses belajarnya.

Dari aspek eksternal, ada banyak faktor, di antaranya perlakuan pendidik dan interaksi dengan teman kelas. Pada sisi perlakuan pendidik, sangat mungkin seorang guru kurang memahami kebutuhan murid terkait tantangan apa yang menghambat proses pemahaman belajarnya. Kesalahan metode mengajar juga dapat mempengaruhi proses belajar. Dari sisi interaksi dengan teman kelas, seringkali siswa minder untuk mengaku bahwa ia sulit memahami bacaan. Ia menjadi minder bisa jadi karena takut dihakimi oleh teman-teman kelasnya. Maka, alih-alih bertanya atau minta bantuan, siswa yang mengalami kesulitan justru memilih diam.

Menghafal versus Memahami

Gaungan “memahami lebih penting daripada menghafal”semakin menggema saat kita berbicara tentang learning poverty. Kegelisahan yang melatarbelakangi munculnya gaungan itu dapat dimaklumi dan tidak sepenuhnya keliru. Persoalan pendidikan memang tidak berhenti pada kemampuan peserta didik menerima informasi. Tetapi siswa juga dituntut memahami dan menggunakan informasi yang diterima.

World Bank menempatkan persoalan literasi pada kemampuan membaca dan memahami teks sederhana. Meski begitu, mengategorikan "penghafalan" sebagai kurang penting ketimbang "pemahaman" juga tidak sepenuhnya realistis secara pedagogis. Dikotomi antara menghafal dan memahami seolah-olah menempatkan keduanya sebagai dua aktivitas yang saling berlawanan. Padahal, dalam proses belajar, keduanya berlangsung bersamaan.

Pemahaman tidak muncul dari ruang kosong. Ia tidak muncul secara tiba-tiba. Sebelum seseorang menemukan suatu gagasan, ia terlebih dahulu berhadapan dengan informasi yang diperoleh melalui proses membaca, mendengar, dan mengamati dari sebuah sumber literasi. Informasi tersebut perlu dipertahankan dalam ingatan agar dapat diolah lebih lanjut. Pada tahap inilah aktivitas mengingat menjadi penting. Penghafalan pada dasarnya merupakan upaya membuat informasi lebih mudah tersedia dalam ingatan.

Pengulangan informasi melalui aktivitas membaca berulang, melafalkan, mendengarkan, atau menuliskannya dapat membantu seseorang mempertahankan informasi tersebut dalam memori. Indra manusia secara aktif terlibat mengingat sebuah informasi. Semakin kuat informasi tersimpan dalam memori, semakin awet ingatan sebagai retensi jangka panjang. Menghafal bukanlah tujuan akhir belajar. Informasi yang tersimpan dalam ingatan perlu diolah, diintegrasikan dengan informasi lain, menelisik maknanya, dan menggunakannya dalam keseharian. Pada titik inilah pemahaman mengambil peranan.

Jadi, masalahnya bukan lagi mana yang lebih penting: penghafalan atau pemahaman. Hafalan dapat menjadi ketersediaan pengetahuan dalam memori, sedangkan pemahaman memungkinkan pengetahuan yang diingat tersebut dapat diolah, diintegrasikan dengan pengetahuan lain, dan diterapkan di keseharian hidup. Pembelajaran yang hanya menghasilkan hafalan memang berisiko melahirkan pengetahuan yang bersifat reproduktif; tetapi pembelajaran yang mengabaikan hafalan juga memperbesar risiko kesulitan mengingat pelajaran yang telah dipahami.

Hafalan yang baik bukanlah hafalan yang berhenti pada kemampuan mengulang pelafalan sebuah informasi. Hafalan yang baik ialah ingatan yang bergerak maju menuju pencarian akan pengertian. Pada waktu bersamaan, pemahaman yang akurat juga membutuhkan pengetahuan yang tersedia dalam ingatan agar dapat dikembangkan menjadi pengetahuan yang baru.

Tantangan literasi Indonesia tidak cukup dijawab dengan mempertentangkan penghafalan dan pemahaman. Keduanya justru ditempatkan secara proporsional dalam proses ajar-mengajar. Skor keseluruhan PISA untuk tahun 2025 akan segera terbit tahun ini. Kita perlu bersabar menunggu hasil terbarunya. Apakah Indonesia mengalami peningkatan literasi atau justru mengalami pemerosotan lagi?

1788107204_body_6jJOImRinMKQ.webp

Gambar ilustrasi / sumber: https://www.pexels.com/photo/man-descending-historic-staircase-in-buenos-aires-37826155/


Disclaimer

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya

Gilbeth Pramana Saputra

Sering dipanggil Gilbeth. Meski Ia adalah seorang karyawan swasta biasa. Namun, Kesibukannya sangat bergairah mengajar dan berbagi hidup kepada generasi muda. Domisilinya kini tinggal di Kota Pelajar, Malang, Jawa Timur.

Ikuti Penulis
Komentar 0
Silakan Masuk terlebih dahulu untuk mengirim komentar.
Artikel Terkait
Siaran Peristiwa — Kirim informasi via WhatsApp SerambiPikir
Ketikkan keyword yang ingin Anda telusuri.