Tantangan literasi Indonesia tidak cukup dijawab dengan mempertentangkan penghafalan dan pemahaman. Keduanya harus ditempatkan secara proporsional dalam proses ajar-mengajar.
Di era kecerdasan buatan, nilai seorang guru tidak diukur dari seberapa banyak informasi yang ia hafal, tetapi dari seberapa mampu ia membimbing manusia untuk berpikir, berkarakter, dan terus belajar.