Di era kecerdasan buatan, nilai seorang guru tidak diukur dari seberapa banyak informasi yang ia hafal, tetapi dari seberapa mampu ia membimbing manusia untuk berpikir, berkarakter, dan terus belajar.
AI ternyata tak hanya mampu menjawab pertanyaan, tetapi juga lebih persuasif dalam debat dibanding manusia. Simak bagaimana temuan ilmiah ini mengubah cara kita memandang komunikasi di era digital.
Dahulu, penulis berlomba membuat tulisan sesempurna mungkin. Kini, justru harus berhati-hati agar tidak terlihat terlalu sempurna. Mengapa paradoks ini bisa terjadi?