Beranda/ Artikel/ Sudut Pandang/ Ketika Penyimpangan Menja...

Ketika Penyimpangan Menjadi Biasa

Refleksi teoretis tentang kepercayaan, toleransi sosial, dan respons komunitas

Muhammad Adil Arnady
05 September 2026 9 menit baca
0

Hampir dua tahun sejak kami pindah ke kota dan lingkungan yang baru, saya bergabung dalam sebuah komunitas tenis. Pada awalnya, pengalaman saya berjalan biasa saja. Saya menikmati proses berlatih, mengenal orang baru, dan perlahan mencoba memperluas jaringan pertemanan agar kemampuan bermain saya berkembang. Dari proses itulah saya diperkenalkan kepada seseorang yang cukup dikenal di sejumlah komunitas tenis.

1788501385_body_SRQhc5tEkVr3.webp

Ilustrasi dinamika sosial dalam komunitas/AI Generate

Dia memiliki jaringan yang luas dan terlihat memiliki akses yang dapat membantu orang lain berlatih secara lebih serius, termasuk menghubungkan pemain dengan latihan privat. Namun, tidak lama setelah mengenalnya, beberapa orang mulai mengingatkan saya agar berhati-hati. Mereka menyebut adanya riwayat masalah dalam transaksi dan pengelolaan uang di beberapa komunitas. Pada saat itu, saya tidak langsung mempercayai cerita tersebut. Saya menganggapnya sebagai informasi yang perlu disikapi secara hati-hati, bukan sebagai dasar untuk langsung menghakimi seseorang.

Situasinya berubah ketika saya sendiri melakukan transaksi pembelian barang melalui orang tersebut. Harga yang ditawarkan cukup menarik. Beberapa orang lain di komunitas saya juga melakukan transaksi serupa, bahkan beberapa transaksi bernilai cukup besar. Barang yang dijanjikan kemudian tidak kunjung datang. Setelah mencari informasi dari beberapa sumber, saya menemukan sejumlah cerita dengan pola yang mirip, yaitu penawaran barang, pembayaran, lalu ketidakjelasan mengenai barang yang dijanjikan. Karena pengalaman itu merusak kepercayaan saya, saya memutuskan untuk menghentikan hubungan pribadi.

Bagian yang kemudian membuat saya berpikir lebih jauh bukan hanya perilakunya, tetapi respons lingkungan sosial di sekitarnya. Orang-orang yang mengetahui riwayat masalah tersebut, bahkan sebagian yang pernah dirugikan, masih menerimanya dalam lingkungan komunitas. Dari sini muncul pertanyaan yang lebih luas: kapan penerimaan sosial merupakan bentuk toleransi, dan kapan ia berubah menjadi permisivitas atau bahkan kondisi yang memungkinkan perilaku bermasalah terus berulang?

Apakah Ini Patologi Sosial?

Istilah patologi sosial dapat digunakan sebagai pintu masuk untuk membahas fenomena semacam ini, tetapi penggunaannya perlu hati-hati. Dalam sosiologi kontemporer, analisis biasanya lebih spesifik dengan membahas penyimpangan, norma, sanksi, dan kontrol sosial. Penyimpangan dipahami dalam kaitannya dengan pelanggaran terhadap norma yang berlaku, sedangkan kontrol sosial merujuk pada cara masyarakat mengatur dan menegakkan norma tersebut. Karena itu, tidak tepat jika seluruh persoalan langsung disebut patologi sosial hanya karena ada satu individu yang berperilaku menyimpang.

Pada tingkat individual, tindakan seperti menipu, memanipulasi kepercayaan, atau mengambil keuntungan dari orang lain lebih tepat dibahas sebagai perilaku menyimpang atau deviant behavior. Persoalan menjadi lebih bersifat sosial ketika perilaku semacam itu terjadi berulang dan bertemu dengan lingkungan yang gagal membangun batas, perlindungan, atau konsekuensi yang memadai. Dalam kerangka sosiologi, respons kelompok terhadap penyimpangan sama pentingnya dengan penyimpangan itu sendiri karena norma dipertahankan melalui sanksi formal maupun informal. Masalah sosial tidak hanya terletak pada siapa yang melanggar norma, tetapi juga pada bagaimana kelompok bereaksi ketika pelanggaran itu sudah diketahui.

Toleransi, Permisivitas, dan Enabling

Toleransi

Toleransi tidak selalu berarti persetujuan. Sebuah komunitas dapat tetap menerima seseorang dalam ruang sosial tertentu sambil membatasi kepercayaan pada aspek yang dianggap berisiko. Misalnya, seseorang masih diperbolehkan bermain tenis bersama, tetapi tidak lagi dipercaya untuk mengelola uang, menjual barang, atau menjadi perantara transaksi. Dalam kondisi ini, komunitas memisahkan hubungan sosial dari kepercayaan ekonomi.

Permisivitas

Permisivitas muncul ketika perilaku yang merugikan sudah diketahui, tetapi hampir tidak menghasilkan konsekuensi sosial. Kalimat seperti “dia memang begitu” dapat terdengar sederhana, tetapi menunjukkan bahwa penyimpangan mulai diperlakukan sebagai karakter yang harus dimaklumi. Cialdini dan koleganya membedakan norma injunktif, yaitu apa yang dinilai seharusnya dilakukan, dari norma deskriptif, yaitu apa yang secara nyata dilakukan orang lain. Perbedaan ini membantu menjelaskan bagaimana sebuah kelompok dapat secara verbal menolak suatu perilaku, tetapi dalam praktik tetap memperlakukannya sebagai sesuatu yang biasa.

Enabling

Tahap yang lebih bermasalah terjadi ketika lingkungan justru membuka jalan agar perilaku tersebut dapat berulang. Ini dapat terjadi ketika seseorang tetap diperkenalkan kepada anggota baru, tetap diberi posisi sebagai penghubung transaksi, tetap memperoleh legitimasi melalui jaringan komunitas, atau tetap mendapatkan akses kepada calon korban yang belum mengetahui riwayatnya. Pada titik ini, penerimaan sosial tidak lagi sekadar pasif. Ia dapat menjadi kondisi yang secara tidak langsung memungkinkan risiko yang sama terus muncul.

Menerima seseorang secara sosial belum tentu berarti membenarkan tindakannya. Namun, terus memberikan akses yang memungkinkan kerugian serupa terulang dapat berubah menjadi enabling.

Normalisasi Penyimpangan

Konsep normalization of deviance dipopulerkan oleh sosiolog Diane Vaughan melalui analisisnya terhadap pengambilan keputusan menjelang bencana pesawat ulang-alik Challenger. Vaughan menunjukkan bahwa penyimpangan dari standar dapat perlahan dianggap dapat diterima ketika penyimpangan serupa berulang tanpa menghasilkan konsekuensi yang langsung terlihat. Konsep ini tidak berarti kasus komunitas tenis sama dengan kasus NASA. Konsep tersebut digunakan di sini secara analogis untuk membaca proses ketika sesuatu yang semula dianggap tidak dapat diterima perlahan menjadi biasa dalam kehidupan kelompok.

Perubahannya mungkin tampak kecil. Dari “serius, dia melakukan itu?” menjadi “iya, dia memang begitu.” Namun, secara sosial, perubahan tersebut penting. Penyimpangan tidak lagi diperlakukan sebagai pelanggaran yang memerlukan respons, melainkan sebagai karakter pribadi yang sudah diketahui dan akhirnya diterima sebagai bagian dari kehidupan komunitas. Dalam kerangka Vaughan, proses semacam ini layak diperhatikan karena penerimaan terhadap penyimpangan dapat tumbuh secara bertahap, bukan melalui keputusan eksplisit bahwa perilaku tersebut benar.

Moral Disengagement dan Diffusion of Responsibility

Albert Bandura menjelaskan moral disengagement sebagai seperangkat mekanisme psikososial yang memungkinkan seseorang melepaskan pengendalian moral dari penilaian terhadap suatu tindakan. Bandura menunjukkan bahwa proses ini dapat melibatkan pembenaran moral, pengaburan tanggung jawab, pengurangan perhatian terhadap dampak, atau pengalihan kesalahan. Dalam konteks komunitas, bentuk sederhananya dapat muncul melalui ungkapan seperti “itu urusan mereka”, “yang penting saya tidak pernah dirugikan”, atau “dia memang bermasalah soal uang, tetapi kalau berteman sebenarnya baik.” Pernyataan tersebut tidak menyatakan bahwa tindakan yang merugikan adalah benar, tetapi dapat mengurangi dorongan untuk memberikan respons sosial terhadapnya.

Fenomena ini dapat diperkuat oleh diffusion of responsibility. Dalam eksperimen klasik Darley dan Latané, keberadaan orang lain menurunkan rasa tanggung jawab personal untuk bertindak dalam keadaan darurat. Konteks komunitas tentu berbeda dari eksperimen tersebut, tetapi prinsip psikologisnya membantu menjelaskan kemungkinan mengapa persoalan yang diketahui banyak orang justru dapat menghasilkan tindakan individual yang lebih lemah. Semua orang mungkin mengetahui masalahnya, tetapi masing-masing merasa bahwa orang lain lebih berhak atau lebih bertanggung jawab untuk memberi peringatan, membatasi akses, atau mengambil sikap.

Modal Sosial dan Nilai Seseorang dalam Jaringan

Konsep social capital juga membantu menjelaskan mengapa seseorang yang memiliki reputasi buruk pada satu aspek masih dapat bertahan dalam sebuah jaringan sosial. Bourdieu menjelaskan bahwa hubungan dan keanggotaan dalam jaringan dapat menghasilkan sumber daya aktual maupun potensial. Dengan demikian, seseorang yang memiliki banyak koneksi, akses kepada pelatih, informasi komunitas, atau kemampuan menghubungkan orang dengan kesempatan tertentu dapat tetap dianggap bernilai meskipun memiliki masalah dalam aspek lain.

Karena itu, orang tidak selalu mempertahankan hubungan karena mereka menyetujui perilaku seseorang. Kadang mereka mempertahankannya karena hubungan tersebut masih menghasilkan manfaat sosial. Di sinilah dapat muncul kalkulasi tidak tertulis antara risiko moral dan manfaat jaringan.

Kontrol Sosial Informal

Komunitas olahraga biasanya tidak memiliki mekanisme formal yang kompleks seperti organisasi besar. Banyak aturan bekerja melalui informal social control, seperti reputasi, teguran, peringatan, pembatasan kepercayaan, dan keputusan untuk memberikan atau mencabut akses tertentu. Penelitian tentang collective efficacy menekankan pentingnya kohesi sosial yang disertai kesediaan anggota masyarakat untuk bertindak demi kepentingan bersama. Kajian berikutnya juga menunjukkan bahwa informal social control merupakan konsep penting untuk memahami bagaimana komunitas merespons gangguan terhadap keteraturan sosial.

Sebaliknya, ketika reputasi buruk sudah diketahui tetapi tidak memengaruhi akses sosial seseorang, informal social control menjadi lemah. Dalam kondisi seperti itu, anggota baru berpotensi memasuki hubungan dengan tingkat informasi yang tidak seimbang. Mereka mungkin melihat seseorang sebagai figur yang dipercaya oleh komunitas, padahal sebagian anggota lama sudah mengetahui adanya risiko. Dalam konteks ini, persoalan utamanya bukan sekadar apakah seseorang masih diterima, tetapi apakah komunitas menyediakan informasi dan batas yang cukup untuk melindungi anggotanya.

Batas Personal dan Kepercayaan

Keputusan untuk menghentikan kontak dengan seseorang setelah pengalaman yang merusak kepercayaan dapat dipahami sebagai bentuk boundary maintenance. Literatur mengenai batas sosial dan simbolik menunjukkan bahwa batas membantu individu dan kelompok menentukan keanggotaan, pembedaan, serta bentuk hubungan yang dianggap dapat diterima. Pada tingkat personal, menetapkan batas hubungan berdasarkan pengalaman, nilai, dan toleransi terhadap risiko berbeda dengan menuntut semua orang untuk mengambil keputusan yang sama.

Persoalannya bukan apakah seluruh komunitas harus mengucilkan seseorang. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah komunitas memiliki mekanisme yang cukup untuk memastikan bahwa penerimaan sosial terhadap seorang individu tidak membuat anggota lain menghadapi risiko yang sama tanpa informasi yang memadai.

Refleksi

Kasus seperti ini menunjukkan bahwa sebuah perilaku bermasalah dapat terus hidup bukan hanya karena pelakunya mampu mengulanginya, tetapi juga karena lingkungan sosial memiliki berbagai cara untuk menyesuaikan diri terhadap keberadaannya. Sebagian orang menjaga jarak. Sebagian membatasi kepercayaan hanya pada urusan tertentu. Sebagian lain mungkin memilih diam karena merasa persoalan tersebut bukan tanggung jawabnya.

Oleh karena itu, saya tidak melihat persoalan ini hanya sebagai cerita tentang satu orang yang memiliki riwayat buruk. Saya melihatnya sebagai pertanyaan mengenai cara sebuah komunitas mempertahankan norma. Sebuah kelompok dapat mengatakan bahwa perilaku tertentu tidak dapat diterima. Namun, ukuran yang lebih penting adalah bagaimana norma itu terlihat dalam praktik. Teori norma menunjukkan bahwa apa yang dinilai benar dan apa yang secara nyata dilakukan kelompok dapat berjalan tidak sejajar. Ketegangan menjadi semakin menarik ketika orang yang melanggar norma masih memiliki jaringan, manfaat, atau posisi sosial yang dianggap bernilai.

Apa yang terjadi pada sebuah norma ketika pelanggaran terhadap norma tersebut sudah diketahui banyak orang, tetapi tidak lagi menghasilkan konsekuensi sosial? Bagi saya, pertanyaan tersebut lebih penting daripada sekadar mempertanyakan mengapa seseorang masih diterima dalam sebuah komunitas. Ia mengajak kita melihat bahwa diam, toleransi, dan penerimaan bukanlah hal yang selalu sama. Dalam kondisi tertentu, batas antara ketiganya dapat menentukan apakah sebuah komunitas hanya hidup berdampingan dengan masalah, atau tanpa sadar ikut mempertahankan kondisi yang membuat masalah tersebut terus berulang.

Tulisan ini merupakan refleksi sosial dan bukan penetapan kesalahan hukum terhadap individu tertentu. Karena itu, identitas, nama komunitas, detail transaksi, dan ciri-ciri yang dapat mengarah pada identifikasi orang tertentu sengaja disamarkan. Fokus tulisan diarahkan pada pola perilaku dan respons sosial, bukan pada penghukuman personal.


Disclaimer

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya

Muhammad Adil Arnady

Penulis aktif di SerambiPikir

Ikuti Penulis
Komentar 0
Silakan Masuk terlebih dahulu untuk mengirim komentar.
Artikel Terkait
Siaran Peristiwa — Kirim informasi via WhatsApp SerambiPikir
Ketikkan keyword yang ingin Anda telusuri.