Kontribusi Sukarela
Dukung keberlanjutan SerambiPikir
QRIS SerambiPikir

SerambiPikir, Digital & Kreatif
NMID: ID1026593396819

Buka aplikasi e-wallet atau m-banking Anda, scan kode QRIS di atas, lalu masukkan nominal secara manual sesuai keinginan.

Standar QRIS Bank Indonesia · Berlaku di semua e-wallet & bank
Beranda/ Artikel/ Sudut Pandang/ Pertobatan Ekologis di Za...

Pertobatan Ekologis di Zaman Api

Peradaban yang gagal melindungi hutannya sesungguhnya sedang menghitung mundur hari kematiannya sendiri.

Najamuddin Khairur Rijal
16 September 2026 4 menit baca
0

Pada malam 8 Oktober 1871, sebuah tragedi apokaliptik menyapu sebuah kota industri kayu bernama Peshtigo di Wisconsin, Amerika Serikat. Malam itu, sejarah dunia mencatat peristiwa kebakaran hutan paling mematikan yang pernah ada. Ironisnya, dunia nyaris melupakannya karena di malam yang sama, kota Chicago juga terbakar hebat. 

Apa yang terjadi di Peshtigo bukanlah sekadar anomali cuaca. Kota itu adalah monumen arogansi manusia. Selama bertahun-tahun, mesin-mesin industri membabat hutan tanpa henti demi membangun jalur kereta api dan memasok kayu bagi kota-kota besar. Ranting, serasah, dan sisa tebangan dibiarkan menumpuk, mengering, lalu dibakar dengan sembrono untuk mempercepat pembukaan lahan baru.

Manusia-manusia di Peshtigo kala itu merasa telah berhasil menaklukkan alam. Tapi lupa bahwa mereka sedang menumpuk bom waktu. Ketika kemarau panjang berpadu dengan angin kencang, percikan api kecil dari sisa pembukaan lahan itu bermetamorfosis menjadi badai api raksasa bersuhu ribuan derajat. Api itu tidak hanya melahap pohon, tetapi juga menghisap seluruh oksigen di udara, menciptakan tornado api yang meratakan peradaban kota itu menjadi abu hanya dalam hitungan jam.

Fitrah Api

Kisah Peshtigo yang terkubur lebih dari satu setengah abad lampau itu bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah cermin buram dari krisis ontologis peradaban kita hari ini. Setiap kali kemarau tiba, kita menyaksikan tragedi yang sama berulang dalam skala yang jauh lebih kolosal, dari Amazon, Australia, hingga hamparan gambut di Kalimantan, Sumatera, hingga Papua.

Untuk memahami mengapa hutan-hutan kita terus terbakar, kita perlu mundur selangkah dan merenungkan kembali hubungan filosofis antara manusia dan api. Dalam mitologi Yunani, Prometeus mencuri api dari para dewa di Gunung Olimpus untuk diberikan kepada manusia. Api adalah simbol pencerahan, peradaban, dan kehangatan. Kita adalah satu-satunya spesies di bumi yang mampu menjinakkan api.

Dengan api, leluhur kita memasak makanan yang memperbesar kapasitas otak, melebur logam untuk menciptakan perkakas, hingga akhirnya menggerakkan turbin-turbin raksasa revolusi industri. Api sejatinya adalah fitrah yang melahirkan peradaban manusia.

Namun, di era kapitalisme modern, kita telah merenggut fitrah suci api tersebut. Api tidak lagi digunakan sebagai penjaga kehidupan, melainkan diubah menjadi instrumen pemusnah dan alat akumulasi modal yang paling brutal. Kita memasuki apa yang disebut oleh para pemikir ekologi sebagai era Pyrosen, Zaman Api. Sebuah era di mana umat manusia secara sadar mendesain ulang lanskap bumi melalui pembakaran.

Karena itu, kebakaran hutan hari ini mayoritas bukanlah amuk alam yang terjadi secara kebetulan. Ia adalah manifestasi dari nalar ekonomi yang sangat kalkulatif. Membakar adalah cara paling murah, cepat, dan efisien untuk menghapus masa lalu ekosistem, demi menanam masa depan komoditas. Saat hutan diubah menjadi ladang monokultur yang seragam, api digunakan layaknya sebagai penghapus raksasa.

Dalam proses eksploitasi itu, kita kehilangan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar nilai ekonomi kayu atau hilangnya habitat satwa. Ketika sebuah hutan terbakar, yang musnah adalah perpustakaan purba berisi memori bumi. 

Pertobatan Ekologis

Hutan adalah ruang hidup yang menyimpan kebijaksanaan jutaan tahun evolusi, tempat di mana akar-akar pohon saling berbisik bertukar nutrisi, dan tempat di mana masyarakat adat menambatkan identitas spiritualnya. Membakar hutan sama dengan membakar kitab suci ekologis yang tidak akan pernah bisa ditulis ulang.

Ironisnya, masyarakat modern telah mengalami alienasi yang luar biasa terhadap tragedi ini. Kita tidak lagi melihat api dengan rasa gentar. Penderitaan alam telah direduksi menjadi sekadar angka-angka di layar ponsel cerdas: fluktuasi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) atau titik hotspot di satelit cuaca.

Kita merespons tangisan hutan yang hangus bukan dengan upaya memulihkan kedaulatan ekologis, melainkan dengan memborong masker penyaring debu dan menyalakan air purifier di dalam kamar yang tertutup rapat. Kita mengira kita selamat, padahal kita sedang mengurung diri di dalam penjara yang kita ciptakan sendiri.

Tragedi Peshtigo 1871 dan kepulan asap yang mencekik langit nusantara beberapa waktu terakhir menggemakan pesan filosofis yang sama, bahwa teknologi setinggi apa pun tidak mampu menyelamatkan dari arogansi kita sendiri. Memadamkan kebakaran hutan tidak akan cukup hanya dengan menjatuhkan bom air dari perut helikopter atau mengesahkan tumpukan regulasi. Yang dibutuhkan adalah sebuah pertobatan ekologis. 

Kita harus merendahkan hati, menanggalkan ilusi bahwa alam adalah hambatan yang bisa ditaklukkan dengan korek api dan mesin ekskavator. Selama kita masih memandang pohon sekadar sebagai komoditas dan tanah sekadar sebagai ruang kosong yang harus segera diuangkan, api keserakahan itu akan terus berkobar, memamah biak masa depan kita, hingga kelak yang tersisa hanya padang abu peradaban.

Langkah mendesak yang harus diambil adalah menegakkan keadilan ekologis tanpa kompromi. Negara harus menggunakan wewenang hukumnya untuk menindak tegas korporasi atau siapa pun perusak ekosistem. Menyelamatkan ruang hidup menuntut keberanian menjadikan kelestarian alam sebagai panglima. Sebab, peradaban yang gagal melindungi hutannya sesungguhnya sedang menghitung mundur hari kematiannya sendiri.

Negara, dan kita semua, perlu kembali memposisikan diri sebagai penjaga alam. Manusia bukan sebagai penguasa tunggal yang berhak mendikte bumi, melainkan ditugaskan untuk menjaga, merawat, dan memperindah harmoni alam semesta, sekaligus menjalankan tugas luhur menumpas angkara murka dan keserakahan dalam diri kita di Zaman Api ini.

1789542979_body_xtUYOBDbJdXF.webp

Kebakaran hutan vs kelestarian hutan / sumber: ilustrasi digital

Peduli Literasi & Dukung SerambiPikir Terus Bertumbuh

Demi menjaga kenyamanan dan pengalaman terbaik mengunjungi SerambiPikir, kami memilih tidak menggunakan iklan AdSense. Anda tetap dapat ikut merawat SerambiPikir melalui kontribusi sukarela. Dukungan Anda membantu ruang ini terus tumbuh dan tetap terbuka bagi semua.

Kontribusi sukarela, berdampak nyata
Disclaimer

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya

Najamuddin Khairur Rijal

Pembelajar isu-isu politik global dan isu-isu sosial kontempoer

Ikuti Penulis
Komentar 0
Silakan Masuk terlebih dahulu untuk mengirim komentar.
Artikel Terkait
Siaran Peristiwa — Kirim informasi via WhatsApp SerambiPikir
Ketikkan keyword yang ingin Anda telusuri.