Beranda/ Artikel/ Sanggar Sastra/ ayat yang dibaca dengan a...

ayat yang dibaca dengan api

untuk paru-paru dunia

A. Hasdiansyah
23 Agustus 2026 2 menit baca
0

ayat yang dibaca dengan api

A. Hasdiansyah

hutan tidak pernah menulis surat terakhir

tetapi pagi ini

daunnya jatuh seperti tubuh

yang lelah menjelaskan sakitnya sendiri


asap naik

bukan sebagai kabar

melainkan sebagai doa yang tersesat

di antara paru-paru anak kecil

dan langit yang pura-pura lapang


siapa yang pertama kali mengajari manusia

menyebut tanah sebagai milik

padahal tanah lebih dulu mengubur nama-nama kita?


siapa yang memberi api alamat

jika bukan tangan yang gemetar

karena lapar akan lebih

lebih luas

lebih kaya

lebih tinggi

lebih cepat

lebih mati


di bawah akar yang hangus

aku mendengar air menangis

pelan sekali

seperti ibu yang sudah terlalu sering kehilangan

hingga suaranya tidak lagi dipercaya sebagai luka


burung-burung pergi

membawa peta yang robek

sementara manusia tinggal

menghitung keuntungan

di atas abu

yang masih menyimpan nama binatang

nama pohon

nama kampung

nama masa depan


Tuhan,

apakah doa yang naik bersama asap

masih sampai kepadamu

atau ia terbatuk-batuk

di tengah jalan

karena langit pun sudah sesak?


Tuhan,

jika bumi adalah ayatmu

mengapa manusia membacanya

dengan gergaji

dengan api

dengan kontrak

dengan tanda tangan

yang baunya lebih tajam

daripada darah?


aku ingin bertanya

tetapi setiap pertanyaan

pulang sebagai pertanyaan lain


apakah hutan terbakar

karena musim terlalu kering

atau karena hati manusia

sudah lebih dulu menjadi kayu mati?


apakah asap ini hukuman

atau cermin

yang akhirnya cukup gelap

untuk memperlihatkan wajah kita sendiri?


apakah Tuhan diam

atau kita terlalu bising

oleh mesin

oleh pasar

oleh pidato

oleh tepuk tangan

yang tumbuh dari bangkai pohon?


di dada bumi

ada luka panjang

tersayat sembilu

bukan oleh satu pisau

tetapi oleh ribuan alasan

yang diberi nama pembangunan


dan manusia

makhluk yang pandai berdoa

sekaligus pandai merusak tempat doanya

berdiri di depan api

sambil bertanya

mengapa dunia semakin panas


Tuhan,

jika kelak kami datang kepadamu

membawa tangan kosong

akankah tangan itu benar-benar kosong

atau masih penuh abu

dari hutan

yang kami bakar

sambil menyebut namamu?


maka aku bertanya lagi

kepada asap

kepada tanah

kepada sungai yang keruh

kepada burung yang tak pulang

siapa sebenarnya yang tersesat

hutan yang hilang

atau manusia

yang tidak lagi tahu

jalan pulang ke hatinya sendiri?

1787329894_body_VJoJifDNn7AQ.webp

Ilustrasi AI

Disclaimer

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya

Komentar 0
Silakan Masuk terlebih dahulu untuk mengirim komentar.
Artikel Terkait
Siaran Peristiwa — Kirim informasi via WhatsApp SerambiPikir
Ketikkan keyword yang ingin Anda telusuri.