ayat yang dibaca dengan api
untuk paru-paru dunia
ayat yang dibaca dengan api
A. Hasdiansyah
hutan tidak pernah menulis surat terakhir
tetapi pagi ini
daunnya jatuh seperti tubuh
yang lelah menjelaskan sakitnya sendiri
asap naik
bukan sebagai kabar
melainkan sebagai doa yang tersesat
di antara paru-paru anak kecil
dan langit yang pura-pura lapang
siapa yang pertama kali mengajari manusia
menyebut tanah sebagai milik
padahal tanah lebih dulu mengubur nama-nama kita?
siapa yang memberi api alamat
jika bukan tangan yang gemetar
karena lapar akan lebih
lebih luas
lebih kaya
lebih tinggi
lebih cepat
lebih mati
di bawah akar yang hangus
aku mendengar air menangis
pelan sekali
seperti ibu yang sudah terlalu sering kehilangan
hingga suaranya tidak lagi dipercaya sebagai luka
burung-burung pergi
membawa peta yang robek
sementara manusia tinggal
menghitung keuntungan
di atas abu
yang masih menyimpan nama binatang
nama pohon
nama kampung
nama masa depan
Tuhan,
apakah doa yang naik bersama asap
masih sampai kepadamu
atau ia terbatuk-batuk
di tengah jalan
karena langit pun sudah sesak?
Tuhan,
jika bumi adalah ayatmu
mengapa manusia membacanya
dengan gergaji
dengan api
dengan kontrak
dengan tanda tangan
yang baunya lebih tajam
daripada darah?
aku ingin bertanya
tetapi setiap pertanyaan
pulang sebagai pertanyaan lain
apakah hutan terbakar
karena musim terlalu kering
atau karena hati manusia
sudah lebih dulu menjadi kayu mati?
apakah asap ini hukuman
atau cermin
yang akhirnya cukup gelap
untuk memperlihatkan wajah kita sendiri?
apakah Tuhan diam
atau kita terlalu bising
oleh mesin
oleh pasar
oleh pidato
oleh tepuk tangan
yang tumbuh dari bangkai pohon?
di dada bumi
ada luka panjang
tersayat sembilu
bukan oleh satu pisau
tetapi oleh ribuan alasan
yang diberi nama pembangunan
dan manusia
makhluk yang pandai berdoa
sekaligus pandai merusak tempat doanya
berdiri di depan api
sambil bertanya
mengapa dunia semakin panas
Tuhan,
jika kelak kami datang kepadamu
membawa tangan kosong
akankah tangan itu benar-benar kosong
atau masih penuh abu
dari hutan
yang kami bakar
sambil menyebut namamu?
maka aku bertanya lagi
kepada asap
kepada tanah
kepada sungai yang keruh
kepada burung yang tak pulang
siapa sebenarnya yang tersesat
hutan yang hilang
atau manusia
yang tidak lagi tahu
jalan pulang ke hatinya sendiri?

Ilustrasi AI
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan
pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya