Kepongahan Sains
Ketika manusia merasa memiliki Bumi, tetapi menolak bertanggung jawab atas kehancurannya

Ilustrasi rintihan bumi/AI
Kita tidak pernah benar-benar memiliki apa pun di bumi ini. Tanah yang kita sertifikatkan, air yang kita kemas, hutan yang kita kapling, mineral yang kita tambang, bahkan udara yang kita hirup, semuanya telah ada jauh sebelum manusia menemukan bahasa untuk menyebutnya sebagai kekayaan. Kita hanya datang, mengambil, mengolah, mengubah bentuknya, lalu dengan penuh percaya diri menyatakan bahwa semuanya adalah milik kita. Betapa pongahnya manusia!
Sebongkah batu yang tersimpan jutaan tahun di perut bumi kita keluarkan, kita olah menjadi logam, kita bentuk menjadi mesin, lalu kita jual dengan harga yang ditentukan oleh pasar. Kita menghitung keuntungan, membagikan dividen, dan merayakan pertumbuhan ekonomi. Namun, pernahkah kita menghitung berapa yang harus dibayarkan kepada bumi atas luka yang kita tinggalkan? Tidak pernah! Sebab dalam peradaban yang kita bangun, bumi bukanlah pihak yang berhak menerima keuntungan. Ia sekadar objek yang boleh dieksploitasi, diukur, dikuasai, dan dikorbankan.
Di sinilah kita perlu menggugat sesuatu yang selama berabad-abad dipuja sebagai salah satu pencapaian tertinggi manusia, yakni sains. Bukan karena pengetahuan merupakan kejahatan, melainkan karena kemajuan sains terlalu sering berjalan beriringan dengan sebuah kesombongan yang mengerikan. Manusia semakin pandai memahami bumi, tetapi tidak semakin bijaksana dalam memperlakukannya. Kita mungkin berhasil mengetahui hampir segala sesuatu tentang bumi, sayangnya kita tidak pernah tahun bagaimana cara berhenti menyakitinya.
Ketika Pengetahuan Menjadi Kekuasaan
Sejarah perkembangan sains kerap dituturkan sebagai kisah kemenangan manusia atas keterbatasan. Kita menaklukkan penyakit, menjelajahi samudra, membelah atom, merekayasa genetika, dan mengirimkan wahana ke luar angkasa. Semua itu merupakan pencapaian intelektual yang luar biasa. Namun, di balik kisah kemenangan tersebut, tersembunyi pertanyaan yang jarang mendapat tempat dalam pikiran dan hati kita, kemenangan atas siapa?
Ketika manusia menyatakan telah menaklukkan alam, sesungguhnya ia sedang menyatakan perang terhadap satu-satunya tempat yang memungkinkan kehidupannya berlangsung. Sains memungkinkan kita mengetahui struktur tanah, kandungan mineral, karakteristik hutan, pola migrasi satwa, dan cadangan energi yang tersimpan di bawah permukaan bumi. Akan tetapi, pengetahuan itu tidak selalu digunakan untuk memahami batas-batas kehidupan. Sebaliknya, ia kerap menjadi peta bagi eksploitasi yang semakin akurat.
Kita mengetahui letak cadangan mineral, lalu menggali lebih dalam. Kita memahami pertumbuhan tanaman, lalu memaksanya menghasilkan lebih banyak. Kita mempelajari genetika makhluk hidup, lalu mengarahkannya pada sifat-sifat yang menguntungkan kepentingan tertentu. Pengetahuan berubah menjadi instrumen penguasaan.
Semakin canggih teknologi yang dilahirkan, semakin besar kemampuan manusia mengambil sesuatu yang sebelumnya tidak mampu dijangkaunya. Hutan yang dahulu membutuhkan puluhan tahun untuk dibuka kini dapat diratakan dalam waktu singkat. Perut bumi yang dahulu sulit ditembus kini dapat dibongkar dengan mesin raksasa. Lantas, apakah kemajuan selalu berarti peradaban menjadi lebih baik?
Jika ukuran kemajuan semata-mata terletak pada kecepatan, produktivitas, efisiensi, dan keuntungan, kehancuran pun dapat disebut sebagai keberhasilan selama dilakukan dengan teknologi yang canggih. Inilah salah satu wajah paling menakutkan dari kepongahan sains, kemampuan menghancurkan yang diperlakukan sebagai prestasi karena manusia berhasil menyempurnakan caranya.
Bumi yang Tidak Pernah Menerima Dividen
Bayangkan sebuah perusahaan mengeruk mineral dari dalam bumi. Mineral itu diproses menjadi produk bernilai tinggi, dipasarkan ke berbagai negara, dan menghasilkan keuntungan luar biasa. Para pemegang saham menerima dividen. Negara memperoleh pajak. Para pekerja menerima upah. Konsumen menikmati produknya. Lalu, apa yang diterima bumi?
Lubang tambang, perubahan bentang alam, hilangnya vegetasi, risiko pencemaran, dan gangguan terhadap kehidupan yang bergantung pada ekosistem tersebut.
Tentu, kegiatan ekonomi dapat menciptakan manfaat sosial. Akan tetapi, manfaat bagi manusia tidak otomatis berarti manfaat bagi bumi. Kita menciptakan sistem akuntansi yang mampu mencatat setiap rupiah keuntungan, tetapi kerusakan ekologis sering kali diperlakukan sebagai biaya tambahan yang boleh diperkecil, ditunda, atau dialihkan kepada masyarakat dan generasi berikutnya.
Sungai yang tercemar tidak dapat mengajukan gugatan atas namanya sendiri. Hutan yang lenyap tidak memiliki rekening untuk menerima ganti rugi. Spesies yang punah tidak pernah hadir dalam rapat pemegang saham. Dalam sistem semacam ini, bumi selalu menjadi pihak yang menanggung biaya tanpa memiliki kekuasaan untuk menentukan pembagian keuntungan. Bahkan, istilah sumber daya alam mengandung persoalan cara pandang. Hutan direduksi menjadi persediaan kayu, sungai menjadi cadangan air, tanah menjadi lahan produksi, dan makhluk hidup menjadi komoditas. Sesuatu dianggap berharga terutama setelah dapat dimanfaatkan manusia.
Padahal, hutan tidak membutuhkan industri kayu untuk memiliki makna. Sungai tidak perlu dibendung untuk membuktikan nilainya. Seekor lebah tidak harus menghasilkan madu atau meningkatkan produktivitas pertanian agar keberadaannya layak dipertahankan. Kehidupan memiliki nilai yang melampaui kegunaannya bagi manusia.
Kesombongan yang Menjangkiti Semua Cabang Ilmu
Kepongahan ini tidak hanya ditemukan dalam ilmu alam atau teknologi. Ia dapat merembes ke hampir semua disiplin pengetahuan.
Ilmu ekonomi dapat menjadi pongah ketika pertumbuhan diperlakukan sebagai tujuan tertinggi tanpa memperhitungkan batas ekologis. Ilmu pertanian dapat menjadi pongah ketika produktivitas dijadikan ukuran tunggal keberhasilan. Ilmu teknik dapat menjadi pongah ketika kemampuan membangun dianggap lebih penting daripada pertanyaan apakah sesuatu memang perlu dibangun.
Ilmu sosial pun tidak terbebas dari penyakit yang sama. Ia dapat menjadi pongah ketika masyarakat diperlakukan sekadar sebagai objek intervensi, sementara pengetahuan lokal dan hubungan mereka dengan alam dianggap penghambat modernisasi. Bahkan, pendidikan dapat ikut melanggengkan kesombongan ketika keberhasilannya diukur dari kemampuan menghasilkan manusia yang semakin kompetitif, produktif, dan menguntungkan, tetapi gagal menumbuhkan tanggung jawab terhadap kehidupan.
Persoalannya bukan bahwa seluruh ilmuwan memiliki niat buruk atau bahwa setiap penemuan pasti merusak. Persoalannya terletak pada cara kita menentukan tujuan pengetahuan dan ukuran keberhasilannya. Sains menjelaskan apa yang mungkin dilakukan. Namun, kemampuan melakukan sesuatu tidak dengan sendirinya memberikan pembenaran moral untuk melakukannya. Misalnya, kita mampu membelah gunung, tapi apakah itu berarti kita berhak melakukannya? Kita mampu mengubah aliran sungai, apakah itu berarti seluruh kehidupan yang bergantung padanya boleh dikorbankan? Kita mampu meningkatkan produksi secara besar-besaran, tetapi a pakah berarti bumi wajib menyediakan bahan bakunya tanpa batas?
Ketika pertanyaan-pertanyaan tersebut disingkirkan, kecerdasan berubah menjadi kesombongan yang dilegitimasi oleh gelar akademik, laboratorium, paten, dan laporan keberhasilan.
Ilusi Kemajuan Hijau
Kini, ketika kerusakan ekologis semakin sulit disembunyikan, manusia menawarkan solusi baru: teknologi hijau, energi bersih, industri berkelanjutan, dan berbagai inovasi ramah lingkungan. Sebagian menawarkan manfaat nyata. Namun, kita perlu mempertanyakan apakah kemajuan tersebut sungguh mengubah hubungan manusia dengan bumi atau hanya memperbarui cara mengeksploitasinya.
Kendaraan listrik tetap membutuhkan mineral. Panel surya memerlukan material, energi produksi, dan ruang. Infrastruktur energi terbarukan pun dapat menimbulkan tekanan ekologis apabila dibangun tanpa mempertimbangkan lokasi, skala, dan dampaknya. Persoalannya bukan bahwa teknologi tersebut harus ditolak. Persoalannya adalah keyakinan bahwa kita dapat menyelesaikan setiap kerusakan hanya dengan menciptakan teknologi baru, sementara nafsu konsumsi terus dibiarkan tumbuh tanpa batas.
Kita merusak bumi dengan teknologi, lalu menawarkan teknologi lain untuk memperbaikinya, tanpa pernah sungguh-sungguh mempertanyakan mengapa kita merasa berhak mengambil begitu banyak. Jangan sampai keberlanjutan hanya menjadi nama baru bagi eksploitasi yang dipoles dengan warna hijau.
Meruntuhkan Takhta Sains
Saya ingin mengajak semuanya untuk menggugat kepongahan sains, tetapi bukan berarti mengajak manusia meninggalkan pengetahuan. Justru pengetahuan ilmiah telah membantu kita memahami perubahan iklim, kerusakan ekosistem, pencemaran, dan kepunahan spesies. Tanpanya, banyak luka bumi bahkan tidak dapat kita ukur dengan memadai. Namun, sains tidak boleh ditempatkan sebagai kekuasaan yang kebal terhadap pertanyaan etis.
Ia harus bersedia berdialog dengan filsafat, moralitas, pengetahuan masyarakat, dan pengalaman komunitas yang hidup bersama alam. Ia harus menerima bahwa tidak semua hal yang bisa dihitung dapat dinilai dengan uang, dan tidak semua yang dapat dimanfaatkan harus dimanfaatkan. Ukuran keberhasilan ilmu pengetahuan perlu diperluas. Bukan hanya berapa banyak yang berhasil diproduksi, tetapi juga berapa banyak kehidupan yang dapat dipertahankan. Bukan sekadar seberapa besar keuntungan yang diperoleh, tetapi seberapa jauh kerusakan berhasil dicegah dan dipulihkan.
Kita membutuhkan sains yang mampu mengatakan cukup. Sains yang berani menolak proyek ketika dampak ekologisnya tidak dapat dipertanggungjawabkan. Sains yang tidak hanya menjawab kebutuhan pemodal, tetapi juga melindungi kepentingan masyarakat, generasi mendatang, dan kehidupan di luar manusia.
Sebab, kerendahan hati intelektual dimulai ketika manusia menyadari bahwa kemampuannya memahami alam tidak menjadikannya pemilik alam. Pada akhirnya, bumi tidak pernah membutuhkan sertifikat kepemilikan dari manusia. Kita yang membutuhkan tanah untuk berpijak, air untuk diminum, udara untuk bernapas, dan kehidupan lain untuk menjaga keberlangsungan hidup kita.
Seluruh kekayaan yang kita banggakan sesungguhnya hanyalah bagian dari bumi yang kita pindahkan, ubah, dan beri harga. Kita menyebutnya hasil pembangunan. Kita menyebutnya pencapaian peradaban. Kita menyebutnya kemajuan sains. Namun, jika semua keuntungan kita nikmati sendiri sementara bumi harus menanggung luka yang terus bertambah, barangkali yang sedang kita rayakan bukanlah kemajuan. Barangkali kita hanya sedang menyempurnakan keserakahan dengan kecerdasan.
Dan kelak, ketika bumi tidak lagi mampu menopang kehidupan seperti yang kita kenal, seluruh pengetahuan itu akan berhadapan dengan pertanyaan paling sederhana sekaligus paling menyakitkan: Untuk apa manusia berhasil menguasai begitu banyak hal, jika pada akhirnya ia menghancurkan satu-satunya rumah yang membuat seluruh keberhasilannya mungkin?
Demi menjaga kenyamanan dan pengalaman terbaik mengunjungi SerambiPikir, kami memilih tidak menggunakan iklan AdSense. Anda tetap dapat ikut merawat SerambiPikir melalui kontribusi sukarela. Dukungan Anda membantu ruang ini terus tumbuh dan tetap terbuka bagi semua.
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan
pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya