Proyek Selesai, Kenapa Programnya Ikut Mati?
Partisipasi masyarakat dalam program pemberdayaan belum tentu melahirkan kemandirian.

Ilustrasi ruang kegiatan masyarakat setelah program pemberdayaan berakhir / sumber: ilustrasi digital
Beberapa bulan setelah sebuah program pemberdayaan selesai, pemandangannya kadang berubah cepat. Mesin bantuan masih ada, tetapi jarang dipakai. Grup WhatsApp yang dulu ramai tinggal berisi ucapan selamat hari besar. Papan nama kelompok masih terpasang, sementara pertemuan rutin berhenti. Pendamping sudah pindah ke lokasi lain dan anggaran telah ditutup.
Laporan proyek mungkin tetap rapi: peserta hadir, pelatihan terlaksana, alat tersalurkan, dokumentasi lengkap, anggaran terserap. Secara administratif, proyek selesai. Tetapi bila kegiatan ikut berhenti saat dukungan berakhir, ada pertanyaan yang lebih penting daripada jumlah peserta: apa yang sebenarnya tersisa?
Masalahnya tidak selalu karena “masyarakat tidak mandiri”. Sering kali sejak awal program memang dibangun agar berjalan dengan mesin proyek, bukan dengan kapasitas lokal.
Belum Tentu Berhasil Memberdayakan
Program mudah jatuh cinta pada hal-hal yang bisa dihitung. Dua puluh peserta hadir. Empat pelatihan selesai. Tiga puluh paket alat dibagikan. Lima kelompok terbentuk. Angka seperti itu berguna, tetapi lebih banyak menjelaskan apa yang dikerjakan proyek daripada apa yang kini mampu dilakukan masyarakat.
Jumlah pelatihan adalah output. Kemampuan kelompok mengambil keputusan, mencari pasar, mengelola konflik, mengganti pengurus, atau membiayai kebutuhan dasar setelah bantuan berhenti adalah outcome.
Karena itu, program yang tampak berhasil pada hari penutupan belum tentu sudah melewati ujian pemberdayaan. Ujian justru datang beberapa bulan kemudian, ketika tidak ada lagi konsumsi rapat, uang transportasi, pendamping yang mengingatkan jadwal, atau petugas yang menyelesaikan masalah. Jika pada tahap itu semua fungsi berhenti, kita perlu memeriksa desain program sebelum menyalahkan pesertanya.
Kata "partisipasi" hampir selalu muncul dalam proposal pemberdayaan. Namun partisipasi mudah dipersempit menjadi kehadiran. Sherry Arnstein melalui tangga partisipasi menunjukkan bahwa keterlibatan masyarakat memiliki tingkat kekuasaan yang berbeda. Diberi informasi, dimintai pendapat, dan ikut menentukan keputusan bukanlah hal yang sama.
Dalam praktiknya, program bisa saja sudah menentukan masalah, anggaran, jenis pelatihan, jadwal, bantuan, dan indikator keberhasilan. Setelah itu warga diundang. Mereka datang, mengisi daftar hadir, mengikuti kegiatan, lalu difoto. Laporan kemudian mencatat “partisipasi masyarakat tinggi”.
Kajian World Bank mengenai pembangunan partisipatif juga mengingatkan bahwa partisipasi yang dirancang dari atas tidak otomatis menghasilkan pemberdayaan. Konteks lokal, relasi kuasa, kapasitas, dan proses belajar selama program ikut menentukan hasil.
Sulit meminta masyarakat merasa memiliki program yang keputusan pentingnya selesai sebelum mereka masuk ruangan. Rasa memiliki bukan atribut yang bisa diserahkan bersama mesin bantuan pada acara penutupan.
Ketika Bantuan Terlalu Banyak Mengambil Alih
Bayangkan kelompok usaha yang mendapat alat, bahan baku, desain kemasan, pelatihan, biaya transportasi, pendamping, bahkan pembeli pertama. Selama proyek berjalan, semuanya tampak aktif.
Masalah baru terlihat ketika dukungan dilepas. Siapa membeli bahan baku? Siapa menghubungi pemasok? Siapa mencari pembeli baru? Siapa mencatat uang? Siapa mengatur rapat ketika tidak ada pendamping?
Jika jawaban untuk sebagian besar pertanyaan itu adalah “dulu pendamping yang mengurus”, maka kelompok memang belum pernah berlatih menjalankan bagian tersulit dari program.
Membantu bukan masalah. Yang bermasalah adalah ketika bantuan mengambil alih fungsi yang seharusnya perlahan dipelajari oleh kelompok. Hal yang sama berlaku pada fasilitator.
Fasilitator yang selalu membuat agenda, menyelesaikan konflik, menulis proposal, menghubungi mitra, dan mengejar anggota yang absen mungkin membuat proyek terlihat sangat lancar. Namun bila semua orang tetap bergantung kepadanya, kelancaran itu rapuh.
Ukuran keberhasilan pendamping bukan seberapa sibuk ia dibutuhkan sampai hari terakhir, melainkan berapa banyak fungsi yang sudah bisa berjalan tanpa dirinya. Karena itu, strategi keluar atau exit strategy tidak seharusnya muncul seminggu sebelum kontrak selesai. Ia perlu dibicarakan sejak awal.
Setiap fungsi penting harus punya jawaban. Siapa yang mengatur pertemuan? Bagaimana biaya minimum dipenuhi? Siapa yang memegang kontak pemasok dan mitra? Bagaimana pengetahuan dibagikan jika pengurus berganti? Apa yang dilakukan ketika konflik muncul? Siapa yang dapat melatih anggota baru?
Tidak semua kegiatan harus dipertahankan selamanya. Pelatihan mingguan boleh berhenti. Struktur kelompok boleh berubah. Bahkan nama program boleh hilang. Yang penting adalah apakah manfaat, kemampuan, jaringan, atau praktik yang dibangun masih hidup.
Penelitian tentang rasa memiliki dalam intervensi komunitas menunjukkan pentingnya keterlibatan lokal dalam memahami masalah dan menentukan arah. Kajian tentang kemitraan komunitas juga menempatkan kepemimpinan lokal, pembelajaran bersama, dan transfer pengetahuan sebagai bagian penting dari keberlanjutan. Artinya, program yang baik tidak membuat dirinya abadi. Ia membuat ketergantungan terhadap dirinya berkurang.
Proyek Memang Harus Selesai
Ada kecenderungan menganggap program yang berhenti sebagai bukti masyarakat tidak konsisten. Penilaian itu terlalu mudah.
Masyarakat punya pekerjaan, keluarga, biaya hidup, dan prioritas lain. Jika sebuah kegiatan hanya menarik selama ada uang transport atau fasilitas gratis, kita juga perlu bertanya apakah manfaatnya cukup kuat untuk dipertahankan dengan tenaga dan biaya mereka sendiri.
Proyek memang harus selesai. Anggaran punya batas. Pendamping harus pergi. Yang seharusnya tidak ikut hilang adalah kemampuan mengambil keputusan, pengetahuan tentang cara bekerja, jaringan yang sudah terbentuk, dan keberanian menyelesaikan masalah tanpa menunggu orang luar datang.
Karena itu, foto penutupan bukan akhir yang paling penting. Cobalah kembali enam bulan kemudian. Jika kelompok masih mampu bergerak meski bentuk kegiatannya berubah, ada sesuatu yang tumbuh.
Jika semuanya berhenti persis ketika proyek berhenti, mungkin masalahnya bukan semata-mata masyarakat yang gagal melanjutkan program. Bisa jadi sejak awal kita terlalu sibuk memastikan proyek berjalan, sampai lupa memastikan masyarakat bisa berjalan tanpa proyek.
Demi menjaga kenyamanan dan pengalaman terbaik mengunjungi SerambiPikir, kami memilih tidak menggunakan iklan AdSense. Anda tetap dapat ikut merawat SerambiPikir melalui kontribusi sukarela. Dukungan Anda membantu ruang ini terus tumbuh dan tetap terbuka bagi semua.
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan
pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya