Dukungan Sukarela
Terima kasih telah berkenan mendukung SerambiPikir
QRIS SerambiPikir

SerambiPikir, Digital & Kreatif
NMID: ID1026593396819

Buka aplikasi e-wallet atau m-banking Anda, scan kode QRIS di atas, lalu masukkan nominal secara manual sesuai keinginan.

(OPSIONAL) Anda dapat melakukan konfirmasi apakah dukungan Anda telah kami terima dengan mengubungi kami melalui Official WhatsApp SerambiPikir +6285111326840

Standar QRIS Bank Indonesia · Berlaku di semua e-wallet & bank
Beranda/ Artikel/ Selasar Budaya/ Paradoks Kesepian: Hening...

Paradoks Kesepian: Hening di Jiwa, Bising di Layar

Kapan terakhir kali kita berani duduk diam, menikmati kebosanan, tanpa merogoh saku untuk mengambil ponsel?

Najamuddin Khairur Rijal
27 September 2026 5 menit baca
0

Tadi malam, di tengah kamar yang temaram, wajah saya diterangi cahaya dari layar ponsel. Selama hampir dua jam, ibu jari saya bergerak secara mekanis, menggulir dari satu Instastory ke video singkat (reels), lalu berpindah ke deretan obrolan grup WhatsApp yang terus bergerak naik, lalu pindah membaca teks ke Threads, lalu pindah ke halaman Facebook, kemudian kembali ke Instagram.

Di dalam kotak pipih berukuran enam inci itu, dunia terasa begitu meriah. Ada puluhan tawa dari meme yang dibagikan, perdebatan sengit tentang isu terkini, kolom komentar yang saling bersahutan, dan kepingan-kepingan kehidupan orang lain yang tampak begitu semarak.

Namun, tepat ketika ibu jari saya menekan tombol kunci dan layar itu meremang hingga benar-benar mati, ruangan kembali gelap gulita. Keheningan tiba-tiba menyergap dengan cara yang tidak menyenangkan. Di detik transisi antara realitas digital dan fisik itulah, sebuah kesepian yang paling bising justru mulai terasa jelas.

Saya mematung di atas kasur, menyadari sebuah ironi kehidupan modern. Baru beberapa detik yang lalu saya merasa terhubung dengan ratusan nyawa, mengetahui apa yang dimakan teman kuliah saya di ujung kota, atau ke mana rekan kerja saya menghabiskan akhir pekannya. Lalu tiba-tiba, setelah layar ponsel dimatikan, rasanya hampa, hening di jiwa.

Menyunting Diri

Kita, generasi yang hidup di era hyper-connected, secara teknis adalah manusia paling sosial dalam sejarah peradaban. Kita tidak pernah absen dari radar. Namun, mengapa perasaan terasing ini justru semakin sering bertamu? Mengapa kita bisa berada di dalam sepuluh grup percakapan yang berbeda, tapi tetap merasa tidak punya siapa-siapa untuk diajak bicara dari hati ke hati?

Sosiolog dan psikolog klinis Sherry Turkle, dalam bukunya Alone Together (2011) membedah fenomena ini. Turkle mengamati bahwa teknologi memberikan kita ilusi tentang sebuah “pertemanan” tanpa menuntut pengorbanan yang sesungguhnya dari sebuah persahabatan. Kita mengharapkan lebih banyak dari teknologi, dan di saat yang sama, mengharapkan lebih sedikit dari satu sama lain.

Melalui layar, kita merasa bebas mengontrol takaran interaksi kita. Kapan harus membalas pesan, seberapa banyak emosi yang ingin ditampilkan lewat emoji, atau kapan harus menghindar dengan alasan klasik “belum sempat buka chat”. Interaksi digital memungkinkan kita untuk menyunting diri sendiri (editing the self). Kita tampil tanpa cacat, tanpa jeda canggung, dan tanpa risiko kerentanan emosional yang biasanya muncul secara spontan dalam percakapan tatap muka.

Namun, perlindungan berlapis inilah yang pada akhirnya menjadi tembok kaca. Kita saling melihat dengan sangat jelas, saling melempar likes dan simpati dalam bentuk teks, tetapi kita tidak pernah benar-benar bersentuhan. Kita menukar intimasi, kedekatan emosional yang utuh, dengan sekadar interaksi, yakni transaksi informasi yang instan. Rentetan getar notifikasi perlahan bukan lagi terasa sebagai tanda bahwa kita dipedulikan, melainkan sekadar birokrasi sosial yang harus segera diselesaikan.

Saya teringat pada satu malam yang terasa lebih berat dari biasanya. Pikiran saya kusut, bahu saya lelah oleh rentetan tuntutan sehari-hari, dan dada saya terasa sesak oleh kecemasan yang sulit diurai. Saya butuh telinga. Saya butuh suara manusia lain untuk sekadar menenangkan gemuruh di kepala.

Secara refleks, saya membuka aplikasi pesan WhatsApp. Saya menggulir ratusan nama di daftar kontak. Awalnya perlahan, lalu semakin cepat. Jari telunjuk saya melayang di atas layar, ragu untuk menekan satu pun nama di sana.

Si A pasti sedang sibuk mengurus rumah tangga barunya. Si B mungkin sedang kelelahan lembur menyelesaikan laporan penelitian. Si C.... rasanya kami hanya dekat saat mengomentari unggahan media sosial, terlalu canggung untuk tiba-tiba menjatuhkan beban emosional di tengah malam.

Akhirnya, setelah menggulir daftar itu selama puluhan menit tanpa hasil, saya menutup aplikasinya dan menghela napas panjang. Saya memiliki ratusan “teman” di genggaman, tetapi di detik yang paling krusial, saya tidak menemukan satu pun ruang aman untuk menjadi rapuh.

Momen-momen seperti itulah yang menampar kesadaran saya. Kebebasan digital rupanya datang dengan harga yang mahal. Pertemanan maya sering kali dibangun di atas panggung etalase yang mengilap, tempat kita hanya memajang versi terbaik dari diri kita. Tapi saat realitas sedang kusam dan berantakan, kita kebingungan mencari tempat untuk bernaung karena merasa tidak pantas merusak harmoni estetika digital orang lain dengan keluh kesah kita yang nyata.

Takut pada Keheningan

Lebih jauh lagi, layar ponsel perlahan bukan lagi sekadar jembatan komunikasi, melainkan ruang pelarian. Kapan terakhir kali kita berani duduk diam, menikmati kebosanan di ruang tunggu, tanpa merogoh saku untuk mengambil ponsel? Kita tumbuh menjadi manusia yang sangat takut pada keheningan. Kita takut mendengar suara pikiran kita sendiri.

Begitu rasa sepi mulai merambat naik ke permukaan, kita buru-buru menyumbatnya dengan asupan dopamin dari video lima belas detik atau memeriksa linimasa media sosial yang tak berujung. Kita mengobati kesepian dengan cara mengebaskan diri dari kesadaran akan kesepian itu sendiri.

Paradoksnya, semakin keras kita berlari dari rasa sepi melalui layar, semakin dalam jurang keterasingan yang kita gali di dunia nyata. Koneksi yang sesungguhnya menuntut kehadiran yang utuh, lengkap dengan kecanggungan, intonasi suara yang bergetar saat menahan tangis, dan keheningan panjang di sela-sela kalimat yang jujur. Hal-hal fundamental ini tidak akan pernah bisa direplikasi oleh deretan teks dan stiker animasi yang paling ekspresif sekalipun. Kita tidak bisa merangkul dan dirangkul secara utuh hanya melalui sinyal Wi-Fi.

Malam itu, di dalam kamar yang masih temaram, saya menatap layar ponsel yang kini berwarna hitam, memantulkan bayangan wajah saya sendiri yang terlihat lelah. Alih-alih menyalakannya kembali untuk mencari distraksi baru, atau memaksakan percakapan basa-basi dengan kontak yang kebetulan sedang online, saya memilih meletakkan benda persegi panjang itu di atas nakas, menjauhkannya dari jangkauan tangan.

Saya menarik selimut, membiarkan kegelapan dan kedinginan merangkul saya sepenuhnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya memutuskan untuk tidak melarikan diri ke mana-mana. Tidak apa-apa merasa sepi malam ini. Tidak apa-apa menjadi manusia biasa yang berjarak dari keriuhan maya. Mungkin, langkah pertama untuk benar-benar bisa kembali terhubung dengan dunia di luar sana adalah dengan belajar merasa nyaman, dan berani duduk diam, di dalam keheningan kita sendiri.

1790437229_body_1PXz31tJicPF.webp

Paradoks kesepian / ilustrasi digital


Peduli Literasi & Dukung SerambiPikir Terus Bertumbuh

Demi menjaga kenyamanan dan pengalaman terbaik mengunjungi SerambiPikir, kami memilih tidak menggunakan iklan AdSense. Anda tetap dapat ikut merawat SerambiPikir melalui kontribusi sukarela. Dukungan Anda membantu ruang ini terus tumbuh dan tetap terbuka bagi semua.

Disclaimer

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya

Najamuddin Khairur Rijal

Pembelajar isu-isu politik global dan isu-isu sosial kontempoer

Ikuti Penulis
Komentar 0
Silakan Masuk terlebih dahulu untuk mengirim komentar.
Artikel Terkait
Siaran Peristiwa — Kirim informasi via WhatsApp SerambiPikir
Ketikkan keyword yang ingin Anda telusuri.