Alone Together, Kesepian yang Bising
Apakah ponsel adalah jendela yang menghubungkan kita dengan dunia, atau justru dinding kaca yang memenjarakan kita dalam kesepian yang bising?
Pernahkah Anda merasa lebih nyaman mengirim pesan teks panjang lebar kepada seseorang daripada harus menekan tombol panggil dan berbicara langsung? Atau, pernahkah Anda merasa begitu lelah setelah menghabiskan berjam-jam menelusuri linimasa media sosial, seolah energi Anda terkuras habis, padahal Anda sama sekali tidak beranjak dari tempat tidur?
Saya yakin jawaban Anda adalah “ya”. Jika begitu, maka Anda sedang hidup dalam fenomena yang dibedah oleh Sherry Turkle dalam bukunya Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other (2011).
Sherry Turkle, seorang profesor sosiologi dan psikologi klinis dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) Amerika Serikat, meneliti interaksi manusia dan komputer selama puluhan tahun. Melalui Alone Together, Turkle membunyikan alarm peringatan yang terasa semakin nyaring, bahwa teknologi telah menawarkan ilusi kedekatan, sekaligus merampas esensi dari keintiman itu sendiri.
Buku ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, The Robotic Moment, mengeksplorasi kecenderungan manusia yang mulai merasa nyaman berinteraksi dengan robot sosial, seperti merawat hewan peliharaan virtual. Turkle menyoroti fenomena psikologis yang aneh tapi nyata.
Katanya, kita semakin bersedia memproyeksikan emosi dan mencari empati dari entitas buatan, karena mereka menawarkan persahabatan tanpa menuntut tanggung jawab dan kerumitan emosional layaknya manusia sungguhan. Di era modern ini, kecenderungan tersebut berevolusi menjadi ketergantungan pada akal imitiasi (AI) atau chatbot sebagai teman curahan hati (curhat).
Namun, bagian kedua buku ini, Networked, adalah pukulan telak bagi kehidupan keseharian kita. Turkle membedah bagaimana budaya always-on (selalu terhubung) melalui ponsel pintar dan media sosial mengubah lanskap hubungan sosial antarmanusia.
Salah satu konsep menarik yang ditawarkan Turkle adalah The Goldilocks Effect. Layaknya kisah gadis berambut emas yang mencari bubur dengan suhu yang pas, teknologi memungkinkan kita mengatur jarak interaksi dengan orang lain. Menjadi tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh. Artinya, kedekatan di antara kita pada jarak yang bisa kita kendalikan sepenuhnya.
Inilah alasan mengapa kita lebih menyukai teks (chatting) dibandingkan panggilan telepon atau tatap muka. Komunikasi langsung bersifat real-time, berantakan, penuh jeda canggung, dan menuntut respons emosional yang autentik. Sebaliknya, melalui teks, kita bisa menyunting diri kita sendiri (editing the self).
Kita bisa menghapus kalimat yang terasa terlalu emosional, memilih emoji yang paling aman, dan menunda balasan sampai kita merasa siap. Kita berlindung di balik layar demi sebuah interaksi yang tanpa cela. Tapi pada saat yang sama, kita justru kehilangan keaslian dan kerentanan yang menjadi fondasi sebuah persahabatan sejati.
Turkle merangkum tragedi ini dalam satu kalimat tesis yang menggugah.
We expect more from technology and less from each other.
Kita menuntut lebih banyak dari teknologi, dan menuntut lebih sedikit dari satu sama lain.
Kita marah ketika aplikasi gagal memuat halaman dalam tiga detik, tapi kita memaklumi ketika seorang teman yang duduk di hadapan kita terus-menerus menatap layar ponselnya saat kita sedang berbicara. Kita mencari validasi dari ratusan “teman” di media sosial, tetapi menghindari percakapan mendalam dengan teman di dunia nyata karena takut akan komitmen emosional. Kita menginginkan koneksi, tetapi takut pada keintiman.
Puncak perenungan filosofis dalam Alone Together ada pada pembahasan Turkle tentang kesendirian (solitude). Di masa lalu, kesendirian adalah ruang untuk memulihkan diri, merenung, dan mengenali diri sendiri secara utuh. Kini, layar ponsel telah memusnahkan ruang tersebut. Setiap kali kita merasa bosan, canggung, atau sedikit saja merasa sepi, entah saat mengantre di kasir atau sebelum tidur, kita langsung meraih ponsel.
Atas fenomena itu, Turkle memberikan peringatan yang puitis sekaligus menakutkan.
If we don't know how to be alone, we'll only know how to be lonely.
Jika kita tidak tahu bagaimana caranya menyendiri, kita hanya akan tahu bagaimana rasanya kesepian.
Karena kita tidak pernah memberi ruang bagi diri sendiri untuk sekadar ada tanpa stimulasi digital, kita kehilangan kemampuan untuk merasa nyaman dengan diri kita sendiri. Hasilnya, kita terus-menerus merasa kesepian, bahkan (dan terutama) saat kita sedang menatap ratusan pembaruan status dari orang lain.
Meski buku ini pertama kali terbit pada tahun 2011 dan mungkin memuat beberapa referensi teknologi yang terasa usang, namun absennya referensi tentang TikTok atau Instagram Reels tidak sedikit pun mengurangi bobot argumen Turkle. Sebaliknya, teori-teorinya justru terasa seperti ramalan yang menakutkan tentang masa depan yang kini sedang kita jalani. Apa yang Turkle cemaskan lebih dari satu dekade lalu, kini terjadi dengan skala yang jauh lebih masif dan adiktif.
Buku ini direkomendasikan bagi siapa saja yang merasa kelelahan dengan keriuhan dunia maya dan rindu pada koneksi manusia yang otentik. Membacanya akan membuat Anda meletakkan buku sejenak, menatap ponsel di sebelah Anda, dan bertanya pada diri sendiri: Apakah benda ini adalah jendela yang menghubungkan saya dengan dunia, atau justru dinding kaca yang memenjarakan saya dalam kesepian yang bising?

Alone Together / sumber: ilustrasi digital
Demi menjaga kenyamanan dan pengalaman terbaik mengunjungi SerambiPikir, kami memilih tidak menggunakan iklan AdSense. Anda tetap dapat ikut merawat SerambiPikir melalui kontribusi sukarela. Dukungan Anda membantu ruang ini terus tumbuh dan tetap terbuka bagi semua.
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan
pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya