Beranda/ Artikel/ Selasar Budaya/ Grup WhatsApp Wali Murid:...

Grup WhatsApp Wali Murid: Pertarungan Kultural

Grup WhatsApp Paguyuban Wali Murid telah menjelma menjadi semacam dewan pengawas tidak resmi bagi kualitas keorangtuaan kita. Tulisan ini merupakan bagian dari seri artikel sosiologis bertajuk "Anatomi Grup WhatsApp" yang membedah realitas sosio-kultural di dalam ruang obrolan digital kita sehari-hari.

Najamuddin Khairur Rijal
29 July 2026 5 mnt baca
0

Jika ada satu tempat di dunia digital yang mampu memicu keringat dingin dan rasa mulas seketika bagi para orang tua modern, tempat itu bukanlah kotak masuk tagihan kartu kredit, melainkan Grup WhatsApp Paguyuban Wali Murid.

Di masa lalu, interaksi antar-orang tua murid dibatasi oleh ruang dan waktu. Para ibu atau bapak biasanya hanya mengobrol saat menunggu bel pulang berbunyi di bawah pohon rindang depan gerbang sekolah. Obrolannya pun menguap seiring dengan kedatangan anak-anak mereka.

Namun hari ini, gerbang sekolah itu telah dipindahkan ke dalam saku, beroperasi dua puluh empat jam sehari, dan menjelma menjadi semacam dewan pengawas tak resmi bagi kualitas keorangtuaan (parenting) kita.

Mari kita jujur dan membedah anatomi percakapan di grup wali murid ini (tentu ini berlaku bagi Anda yang memiliki anak usia sekolah). Pada permulaannya, grup ini diciptakan untuk tujuan-tujuan yang luhur dan sangat teknis, seperti mengingatkan jadwal sumatif harian, membagikan foto kegiatan karyawisata (outing class), atau berdiskusi soal sumbangan bagi wali murid yang mendapat musibah.

Namun, jika kita membaca yang tersirat di balik deretan teks, stiker, dan emoji yang lalu lalang, grup ini sejatinya menyembunyikan dinamika sosial yang jauh lebih kompleks. Sering kali kita menjumpai pola-pola yang khas.

Ada tipe orang tua yang selalu menjadi penjawab pertama (first responder) setiap kali ada pengumuman yang dibagikan, lengkap dengan sapaan hormat yang panjang dan doa-doa kebaikan. Ada pula orang tua yang gemar melakukan “pamer terselubung” (humblebrag), misalnya dengan mengirim pesan: “Aduh, mohon maaf si X hari ini izin tidak masuk karena kelelahan, kemarin baru saja pulang kompetisi bahasa Inggris di luar kota.” Atau, perdebatan sengit namun dibalut kesopanan mengenai apakah konsumsi untuk acara perpisahan kelas sebaiknya menggunakan katering atau makanan cepat saji biasa.

Seri Artikel Lainnya: Grup WhatsApp Warga Perumahan: Solidaritas Rapuh

Pertarungan Modal

Untuk memahami fenomena ini, kita bisa meminjam kacamata sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu. Jika Bourdieu masih hidup dan diundang masuk ke dalam grup WA wali murid anak kita, mungkin ia akan tersenyum dan langsung menyimpulkan bahwa grup tersebut bukanlah sekadar ruang informasi, melainkan sebuah arena pertarungan.

Dalam teori Bourdieu, arena adalah ruang sosial di mana individu-individu bersaing untuk memperebutkan posisi dan sumber daya. Namun, yang diperebutkan di grup wali murid ini bukanlah uang atau kekayaan material secara langsung. Sebab, memamerkan harta secara vulgar di grup sekolah akan dianggap norak dan tidak berkelas. Yang sedang dipertarungkan dengan sengit di sana adalah apa yang Bourdieu sebut sebagai modal kultural (cultural capital) dan modal simbolik (symbolic capital).

Bagi keluarga kelas menengah modern, anak bukan sekadar buah hati, melainkan proyek mahakarya hidup. Kesuksesan anak, selera anak, hingga kesibukan anak adalah cerminan langsung dari status sosial orang tuanya. Ketika seorang ibu menceritakan bahwa anaknya les piano, melukis, dan bahasa Mandarin, misalnya, sesungguhnya ia sedang mengakumulasi modal kultural. Dirinya sedang menunjukkan kepada arena (anggota grup lainnya) bahwa keluarganya memiliki selera yang tinggi (taste), wawasan pendidikan yang maju, dan dedikasi waktu yang luar biasa.

Lebih jauh, respons super-cepat kepada wali kelas, penggunaan kosakata parenting mutakhir (seperti inner child, motorik halus, atau tantrum), dan keaktifan menjadi panitia acara sekolah adalah upaya membedakan diri (distingsi). Mereka sedang menarik garis batas imajiner yang tegas antara diri mereka sebagai “orang tua yang peduli dan beradab” dengan orang tua lain yang dianggap “pasif atau abai”.

Seri Artikel lainnya: Grup WhatsApp Kantor: Teror Sunyi

Korban Psikologis

Namun, ironi dari pertarungan ini adalah besarnya korban psikologis yang berjatuhan dalam diam. Dinamika arena ini menciptakan teror mental, terutama bagi ibu-ibu pekerja atau orang tua yang kebetulan tidak memiliki kelonggaran waktu dan materi untuk terus-menerus memantau gawai.

Bisa jadi ada perasaan bersalah yang secara struktural ditanamkan saat seorang ibu baru membuka ponsel di malam hari dan mendapati ratusan pesan terlewat, menyadari bahwa dirinya tidak ikut urun rembuk memikirkan warna kaus kaki seragam untuk perayaan tujuh belasan di sekolah. Sistem di dalam grup itu secara tidak langsung menghakiminya sebagai orang tua yang kurang totalitas.

Di tengah riuhnya notifikasi grup wali murid, kita sering kali melupakan satu hal yang paling esensial, yakni suara anak-anak itu sendiri. Dalam pertarungan modal kultural ini, anak kerap kali tereduksi menjadi sekadar trofi atau instrumen agar orang tuanya bisa memenangkan validasi sosial di mata orang tua lainnya. Ambisi-ambisi orang dewasa yang tak tersalurkan, serta kecemasan status kelas menengah yang rapuh, dikompensasikan dengan cara membebani pundak anak-anak kita.

Rasa-rasanya, kita perlu menarik napas panjang, mengambil jarak, dan merenung. Menjadi orang tua yang baik tidak selalu berbanding lurus dengan seberapa cepat jari kita merespons pengumuman atau seberapa sering kita mengirimkan dokumentasi prestasi anak di ruang obrolan digital.

Mungkin kita perlu sedikit menurunkan ego di dalam gelanggang maya tersebut. Biarkan anak-anak tumbuh dengan ritmenya masing-masing, bukan dengan ritme ekspektasi yang didiktekan oleh kecemasan komunal di grup WhatsApp. Memilih untuk diam di grup (silent reader), membaca seperlunya tanpa merasa harus selalu tampil dan membuktikan diri, mungkin adalah bentuk kemerdekaan paling mewah yang bisa dimiliki oleh seorang orang tua modern.

Sebab sesungguhnya, sebaik-baiknya ruang untuk membuktikan cinta kepada anak bukanlah di layar ponsel yang disaksikan puluhan orang asing, melainkan di meja makan rumah kita sendiri, tempat di mana hanya ada kita dan mereka. Itu pun jika kita punya meja makan. Bukankah begitu, teman?

Seri Artikel Lainnya: Grup WhatsApp Keluarga: Panggung Harmoni

1784966773_body_oS0Q6HJ4AmNS.webp

Seri artikel sosio-kultural Anatomi Grup WhatsApp


Disclaimer

Artikel ini merupakan karya penulis yang telah melalui proses penyuntingan redaksional. Pandangan, pendapat, data, dan interpretasi yang disampaikan menjadi tanggung jawab penulis serta tidak selalu mencerminkan sikap atau pandangan Redaksi SerambiPikir. Baca selengkapnya

Najamuddin Khairur Rijal

Pembelajar isu-isu politik global dan isu-isu sosial kontempoer

Ikuti Penulis
Komentar 0
Silakan Masuk terlebih dahulu untuk mengirim komentar.
Artikel Terkait