Trophy Wife: Simbol Status Sosial Seorang Laki-Laki?
Trophy Wife adalah salah satu warisan budaya patriarki yang masih sangat mengental di Indonesia bahkan di dunia. Seorang istri yang seharusnya digambarkan sebagai pasangan hidup berubah makna menjadi simbol kesuksesan seorang laki-laki. Konotasinya cenderung negatif karena perempuan digambarkan sebagai aksesori pelengkap citra di mata masyarakat.

Visualisasi gaya hidup, penampilan modis, dan simbol status sosial yang kerap dikaitkan dengan istilah "trophy wife" / Sumber: Ilustrasi digital
Istilah trophy wife muncul pada akhir tahun 1980-an dan diambil dari kata berbahasa Inggris trophy yang berarti piala dan wife yang berarti istri. Secara harfiah, trophy wife berarti "istri piala", yaitu sebuah julukan yang diberikan kepada seorang istri yang menjadi kebanggaan suaminya dan dipamerkan ke lingkungan sosialnya sebagai bentuk pengakuan atas status seorang suami di masyarakat.
Seorang trophy wife biasanya memiliki kualitas-kualitas yang disematkan pada dirinya, antara lain berwajah cantik, berkulit mulus tanpa cela, berbadan langsing, memiliki gaya fesyen yang kekinian dan bermerek, tata rias wajah yang semakin menyempurnakan kecantikannya, berperilaku lembut dan feminin, serta peduli terhadap penampilannya. Kualitas-kualitas tersebut merupakan konstruksi yang dilekatkan oleh laki-laki berdasarkan beberapa penelitian yang dilakukan di Amerika (Meszaros, 2017).
Tren Trophy Wife di Media Sosial Indonesia
Di media sosial Indonesia, khususnya TikTok, tren trophy wife mulai mencuat pada awal tahun 2024 bersamaan dengan berbagai tren yang menggambarkan perempuan, seperti Girl Boss, Island Girl, Feminine Energy, Old Money Style for Women, Cewek Kue, Cewek Mamba, dan masih banyak lagi. Tren trophy wife banyak dibawakan oleh akun-akun TikTok seperti @SobatKonglo, @Dellafadillah, @Socialiteindo, dan @TheWikirichpedia dengan jumlah views mencapai jutaan karena estetika konten yang ditampilkan.
Dari tampilan yang diperlihatkan di berbagai media sosial, seorang trophy wife digambarkan wajib memiliki kualitas yang diinginkan para pria karena ia merupakan simbol kemakmuran hidup seorang perempuan sekaligus memvalidasi peran maskulinitas seorang laki-laki.
Ketika Istri Menjadi Simbol Status
Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui konsep hegemoni maskulinitas yang membahas pembagian kelas di antara laki-laki. Menurut konsep ini, kelas laki-laki terbagi dua yaitu kelas yang mendominasi dan tersubordinasi. Salah satu cara menunjukkan maskulinitas adalah dengan memiliki istri yang cantik, lembut, dan penurut sehingga dapat memunculkan rasa iri dari laki-laki lain terhadap keunggulan maskulin yang dimilikinya (Nurahmi et al., 2024).
Untuk menunjukkan status tersebut, para trophy wife digambarkan tampil semenarik dan secantik mungkin. Mereka diberikan akses finansial yang besar, hadiah mewah berupa perhiasan, pakaian, sepatu, dan tas bermerek, diminta fokus merawat kecantikan, bahkan rata-rata memiliki asisten pribadi dan asisten rumah tangga agar tidak perlu melakukan pekerjaan domestik yang dianggap dapat memengaruhi penampilan fisiknya.
Mirisnya, status seorang istri perlahan bergeser dari pasangan hidup menjadi "piala hidup" yang dapat dipertontonkan sebagai simbol pencapaian material suaminya. Dalam konteks ini, trophy wife dapat dipandang sebagai salah satu warisan budaya patriarki yang masih mengakar di Indonesia maupun di berbagai belahan dunia. Dalam budaya patriarki, perempuan kerap ditempatkan pada posisi yang inferior dan memiliki pengaruh yang lebih lemah, bahkan di dalam institusi pernikahan (Sakina & A, 2017). Akibatnya, perempuan sering mengalami perlakuan yang tidak adil dan hanya dianggap sebagai simbol yang melengkapi kesuksesan suaminya.
Simulakra Kebahagiaan di Media Sosial
Fenomena trophy wife yang ditampilkan di media sosial seakan mengamini apa yang disampaikan Jean Baudrillard melalui teori simulakrum dan hiperrealitas. Menurut teori ini, yang nyata menjadi samar, sementara dunia buatan menggantikan kenyataan.
Media menampilkan para trophy wife seolah memiliki kehidupan yang bahagia karena hidup dalam kemewahan dan gaya hidup kelas atas yang menjadi impian banyak orang. Padahal, tidak ada ukuran baku mengenai kebahagiaan karena setiap orang memiliki standar kebahagiaannya masing-masing. Media hanya menampilkan sisi indah menjadi seorang trophy wife dengan menekankan pada penampilan fisik dan kemewahan material. Dalam realitas sosial saat ini, kedua hal tersebut perlahan menjadi ukuran kehidupan bahagia yang diyakini oleh sebagian perempuan.
Di Balik Kemewahan yang Ditampilkan
Fakta-fakta mengenai apa yang sebenarnya dialami para trophy wife di balik kehidupan glamornya sering kali tidak terlihat oleh publik. Berbagai persoalan seperti perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga, hingga persoalan hukum dapat saja terjadi, tetapi jarang menjadi bagian dari narasi yang ditampilkan di media sosial. Misalnya, publik Indonesia sempat dikejutkan oleh terungkapnya dugaan keterlibatan suami seorang artis papan atas berinisial SA, yang selama ini kerap diasosiasikan warganet dengan citra trophy wife, dalam kasus dugaan korupsi tata niaga timah.
Terlepas dari benar atau tidaknya pelabelan tersebut, kasus itu menunjukkan bahwa kehidupan yang tampak sempurna di media sosial tidak selalu mencerminkan realitas yang sebenarnya.
Ketika Kesempurnaan Menjadi Beban
Di zaman modern, makna trophy wife juga mulai mengalami pergeseran dan menjadi semakin kompleks. Selain harus memenuhi standar fisik yang tinggi dan hidup dalam kemewahan, mereka kini juga dituntut mampu mengurus rumah tangga, memiliki bisnis sendiri, serta terus mengembangkan diri agar tetap terlihat sempurna di mata masyarakat.
Sekilas tuntutan tersebut tampak seperti bentuk "prestasi" atau penghargaan terhadap perempuan. Namun, sesungguhnya kondisi ini juga dapat menjadi bentuk komodifikasi baru karena standar yang nyaris sempurna tersebut dapat membebani seseorang. Selain itu, perempuan menghadapi standar ganda karena dituntut unggul dalam berbagai aspek kehidupan sekaligus. Dengan kata lain, beban sosial yang dipikul perempuan justru menjadi semakin berat. Alih-alih membebaskan, kondisi tersebut justru dapat memenjarakan perempuan dalam definisi "sempurna" di mata masyarakat.
Melihat Perempuan sebagai Manusia Seutuhnya
Yang harus disadari, perempuan yang dijuluki trophy wife adalah seorang manusia yang memiliki nilai dan kualitas dalam dirinya yang jauh melampaui penampilan fisik, kekayaan, dan prestasi semata. Mereka memiliki perasaan, keyakinan, pendidikan, sikap, pengalaman hidup, dan cita-cita yang seharusnya juga dihargai secara adil dan bermartabat, bukan diobjektifikasi layaknya sebuah benda mati.
Artikel ini merupakan karya penulis yang telah melalui proses penyuntingan redaksional. Pandangan, pendapat, data, dan interpretasi yang disampaikan menjadi tanggung jawab penulis serta tidak selalu mencerminkan sikap atau pandangan Redaksi SerambiPikir. Baca selengkapnya