Dilema Era Masyarakat 5.0: Kecanggihan Teknologi versus Kemanusiaan Kita
Era Masyarakat 5.0 menjanjikan dunia serbacanggih. Namun, dunia pendidikan menghadapi dilema: apakah kita sedang mendidik manusia yang bijak, atau sekadar mencetak operator teknologi yang tumpul nalar dan minim empati?

Ilustrasi dilema dunia pendidikan di era Masyarakat 5.0 / sumber: ilustrasi digital
Saat ini, kita sedang bertransisi menuju era Masyarakat 5.0. Di satu sisi, ketergantungan manusia pada teknologi melahirkan paradoks yang berkelindan, terutama di dunia pendidikan. Kita tentu tidak bisa menampik manfaat teknologi, terutama berbagai inovasi yang membuat proses belajar-mengajar menjadi lebih efektif dan efisien.
Namun, pada saat yang sama, para pendidik kini menghadapi tantangan besar, yakni arah pendidikan modern cenderung lebih fokus pada penguasaan teknis ketimbang esensi pemanfaatan teknologi itu sendiri. Dampaknya, nilai luhur pendidikan untuk memanusiakan manusia perlahan bergeser, sekadar menjadi ajang pelatihan mencetak operator teknologi.
Sebagai pendidik, saya mengamati, bukti pergeseran esensi pendidikan itu ditunjukkan melalui pertanyaan yang sering dilontarkan oleh siswa maupun mahasiswa. Mereka seringkali bertanya hal-hal teknis ketimbang filosofis. Misalnya, bertanya "bagaimana cara........." ketimbang pertanyaan seperti seperti "apa makna dan arti.........".
Era Masyarakat 5.0
Masyarakat 5.0 adalah suatu tatanan masyarakat yang terintegrasi dengan teknologi berupa kehadiran kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence), Internet of Things (IoT), dan robotika. Visi era Masyarakat 5.0 sebagai masyarakat “super cerdas” yang menciptakan masyarakat sejahtera dan berpusat pada kebutuhan manusia (human-centered). Agar dapat mencapai visi itu, integrasi teknologi tidak hanya berfungsi sebagai alat, tetapi menjadi fondasi membangun masyarakat yang terhubung dengan teknologi digital.
Walaupun Masyarakat 5.0 dirancang sebagai masyarakat yang berpusat pada manusia, implementasinya memperlihatkan masalah yang tidak selalu sejalan dengan visi itu. Indonesia menjadi salah satu contoh nyata. Perkembangan teknologi justru memperlihatkan ketimpangan. Stevri P.N. Indra Lumintang dan Benyamin F. Intan dalam jurnal yang berjudul Society 5.0 without Boundaries: Dehumanism and Detheologism? mencatat bahwa Indonesia menempati peringkat penggunaan Internet tertinggi keempat di benua Asia. Artinya, sangat tinggi intensitas warga Indonesia berselancar di dunia maya. Namun ironisnya, pada saat bersamaan, masyarakat Indonesia belum sepenuhnya melek literasi digital.
Dilema antara Mesin atau Manusia
Dalam kaitannya dengan hal di atas, setidaknya ada sejumlah dilema yang perlu direnungkan bagi para pendidik dalam rangka menghadapi era Masyarakat 5.0. Pertama, kemajuan teknologi digital memicu dilema etika yang kian rumit. Saat ini, Generasi Z dan Alpha tumbuh besar dengan machine learning, yakni program komputer yang mampu menginterpretasi data serta mengambil keputusan.
Meski begitu, Simon Lamakadu, CEO perusahaan TI MAS-IT, tetap optimis. Menurutnya, AI tidak akan menumpulkan daya kritis, melainkan menantang kedewasaan berpikir manusia. Namun, Simon mengingatkan adanya bahaya tersembunyi jika pengguna memasrahkan keputusan moral mereka kepada mesin. Simon menegaskan bahwa AI tidak memiliki kemampuan berpikir kritis (critical thinking) yang sesungguhnya karena hanya bekerja berdasarkan pola data.
Jika manusia berhenti mengkritisi dan memverifikasi hasil kerja AI, teknologi ini akan berubah dari alat bantu menjadi penentu arah. Karena itu, risiko terbesar di era kecerdasan buatan bukan hilangnya pekerjaan, tetapi tumpulnya nalar. Artinya, AI boleh saja membantu menyusun draf atau merangkum bacaan, tetapi keputusan akhir dan tanggung jawab sepenuhnya harus tetap di tangan manusia.
Kedua, perkembangan teknologi membuka peluang berbagai kejahatan. Misalnya, kejahatan siber seperti penyebaran malware (penyebaran phising dan virus), doxing (peretasan data), teknologi deepfake (menciptakan konten visual dan audio palsu melalui generatif AI, serta diseminasi informasi hoaks). Kemajuan itu memicu peningkatan kesulitan membedakan mana informasi yang orisinil dan palsu.
Erosi Empati di Tengah Konektivitas Digital
Lebih lanjut, adanya ruang digital juga mengubah cara masyarakat memahami ruang publik. Interaksi bisa berlangsung secara intim di media sosial. Akibatnya, era Masyarakat 5.0 menghadirkan paradoks. Di satu sisi, media sosial mampu menghubungkan individu secara global dengan orang lain, namun di sisi lain juga menghasilkan relasi yang dangkal dengan individu lainnya di dunia nyata.
Cara bergaul yang demikian dapat melahirkan fenomena baru yang disebut Kenopsia, yakni merasa kesepian di tengah kerumunan banyak orang. Fenomena ini menunjukkan ada pergeseran kebiasaan bergaul, dari kedekatan fisik menjadi relasi maya. Itu sebabnya mayoritas masyarakat tahan berjam-jam di depan ponselnya. Mereka sibuk dengan "dunia lain" yang mereka miliki.
Kesibukan di dunia maya pada masing-masing individu ini mengakibatkan minimnya empati dan inisiatif terhadap lingkungan sekitar di dunia nyata. Seperti yang sering kita lihat, saat terjadi kecelakaan lalu lintas, seseorang lebih cepat mengambil ponsel dan merekam ketimbang mengulurkan tangan untuk membantu. Fenomena ini disebut bystander effect. Empati nyata bergeser ke dokumentasi belaka.
Mengembalikan Hakikat Pendidikan
Menghadapi transisi menuju Masyarakat 5.0, tantangan terbesar para pendidik bukan lagi soal literasi digital atau cara memakai teknologi. Institusi pendidikan kini dituntut untuk melakukan kalibrasi ulang terhadap hakikat utamanya, yaitu sebagai proses pembentukan kebijaksanaan, integritas moral, dan rasa empati ketika manusia berinteraksi dengan teknologi.
Jika esensi mendasar ini diabaikan, masa depan ekosistem kemasyarakatan kita berada dalam ancaman. Kita mungkin sukses membangun peradaban yang serbacanggih secara teknologis, tetapi gagal karena menciptakan lingkungan yang dingin, individualistis, dan hambar secara sosial. Sebuah kondisi memprihatinkan yang harus kita cegah bersama mulai dari sekarang, menuju terwujudnya cita-cita Indonesia Emas 2045. Kita semua berharap, jangan sampai hal yang demikian itu terjadi.
Artikel ini merupakan karya penulis yang telah melalui proses penyuntingan redaksional. Pandangan, pendapat, data, dan interpretasi yang disampaikan menjadi tanggung jawab penulis serta tidak selalu mencerminkan sikap atau pandangan Redaksi SerambiPikir. Baca selengkapnya