Kemiskinan yang Diwariskan Ruang Kelas
Sekolah dipercaya sebagai jalan keluar dari kemiskinan. Namun, melalui modal budaya dan reproduksi sosial, ruang kelas juga dapat mempertahankan ketimpangan. Bagaimana pendidikan dapat benar-benar memutus rantainya?

Foto oleh Shubham Sharan di Unsplash
Pendidikan sering disebut sebagai jalan keluar dari kemiskinan. Anak-anak diminta bersekolah agar nasib mereka lebih baik daripada orang tuanya. Gelar pendidikan dipercaya dapat membuka pekerjaan, meningkatkan pendapatan, dan mengangkat martabat keluarga. Namun, janji itu tidak selalu menjadi kenyataan. Bagi sebagian anak, sekolah justru menjadi tempat ketimpangan sosial dipertahankan, dilegitimasi, bahkan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Data Susenas 2025 menunjukkan bahwa sekitar 2,92 juta anak berusia 7–18 tahun tidak bersekolah. Lebih dari dua juta di antaranya berada pada kelompok usia 16–18 tahun. Alasan mereka berhenti atau tidak melanjutkan pendidikan bukan semata-mata karena tidak menghargai sekolah. Sebanyak 20,35 persen menyebut ketiadaan biaya, sedangkan 16,75 persen telah memasuki dunia kerja. Ada pula yang harus menikah, mengurus rumah tangga, menghadapi disabilitas, tinggal jauh dari sekolah, atau mengalami perundungan. Data Kemendikdasmen ini memperlihatkan bahwa keputusan meninggalkan sekolah lahir dari tekanan sosial yang jauh lebih kompleks daripada persoalan kemauan belajar.
Kita kerap melihat ketimpangan pendidikan hanya dari satu sisi saja. Ada anak yang bersekolah dan ada yang tidak sekolah. Padahal, ketimpangan juga bekerja di dalam ruang kelas. Dua anak mungkin duduk di sekolah yang sama, mempelajari kurikulum yang sama, dan mengikuti ujian yang sama. Akan tetapi, mereka tidak memulai perjalanan dari titik yang setara. Satu anak tumbuh di rumah yang dipenuhi fasilitas seperti buku, percakapan akademik, akses internet, ruang belajar, dan orang tua yang memahami sistem pendidikan. Sementara, anak lainnya tinggal di rumah sempit, berbagi telepon seluler, membantu pekerjaan keluarga, dan belajar tanpa pendampingan. Ketika keduanya memperoleh tugas dan penilaian yang sama, sekolah menganggap mereka telah mendapatkan kesempatan yang sama. Padahal, yang diberikan hanyalah perlakuan seragam di tengah keadaan yang timpang.
Sekolah dan Reproduksi Sosial
Gagasan monumental Pierre Bourdieu dapat membantu kita memahami persoalan ini melalui konsep reproduksi sosial. Menurut Bourdieu, keberhasilan seseorang dalam pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan dan kerja keras. Ia juga dipengaruhi oleh berbagai modal yang diwariskan keluarga. Modal tersebut tidak selalu berbentuk uang. Ada modal budaya berupa kemampuan berbahasa, kebiasaan membaca, pengetahuan, selera, dan cara berkomunikasi yang dianggap pantas oleh sekolah. Ada modal sosial berupa jaringan pertemanan, hubungan dengan orang-orang berpendidikan, serta akses terhadap informasi dan kesempatan. Ada pula modal simbolik berupa nama baik, gelar, reputasi, dan pengakuan sosial.
Anak dari keluarga terdidik umumnya telah mengenal bahasa dan kebiasaan yang digunakan sekolah sebelum memasuki ruang kelas. Ia lebih mudah memahami instruksi guru, menyampaikan pendapat, memilih kegiatan, mencari informasi beasiswa, dan membayangkan masa depan akademiknya. Apa yang dibawanya dari rumah kemudian dibaca oleh sekolah sebagai kecerdasan, bakat, kedisiplinan, atau prestasi pribadi.
Sebaliknya, anak dari keluarga miskin membawa pengalaman hidup yang tidak selalu dikenali sebagai pengetahuan. Kemampuan bekerja, merawat anggota keluarga, membaca tanda-tanda alam, membantu usaha rumah tangga, atau bertahan dalam keadaan sulit jarang memperoleh tempat dalam penilaian sekolah. Ketika cara berbicara dan pengetahuannya tidak sesuai dengan budaya dominan, ia mudah dianggap kurang cerdas, tidak aktif, atau tidak memiliki aspirasi.
Di sinilah ketimpangan terjadi dan tampak wajar. Keunggulan yang diwariskan keluarga diperlakukan sebagai hasil usaha individual, sementara keterbatasan struktural dibaca sebagai kegagalan pribadi.
Kekerasan yang Tidak Terlihat
Bourdieu menyebut proses tersebut sebagai kekerasan simbolik. Kekerasan ini tidak menggunakan pukulan atau paksaan fisik. Ia bekerja secara halus ketika standar kelompok dominan diperlakukan sebagai ukuran yang alamiah dan berlaku bagi semua orang. Sedangkan, anak yang terus-menerus memperoleh nilai rendah akhirnya percaya bahwa dirinya memang bodoh. Anak yang kesulitan berbicara dalam bahasa akademik merasa bahwa pendapatnya tidak berharga. Orang tua dengan pendidikan terbatas memilih diam dalam rapat sekolah karena menganggap dirinya tidak cukup pantas untuk berbicara. Pada akhirnya, mereka menerima ketimpangan sebagai sesuatu yang normal.

Foto oleh Jason Leung di Unsplash
Sekolah kemudian tidak hanya menilai kemampuan, tetapi juga menentukan siapa yang dianggap layak untuk maju. Mereka yang telah memiliki modal mendapatkan lebih banyak peluang untuk mengembangkan modalnya. Mereka yang datang dengan keterbatasan harus bekerja jauh lebih keras hanya untuk mencapai garis awal yang sama. Karena itu, kemiskinan bukan hanya diwariskan melalui rendahnya pendapatan keluarga. Ia juga diwariskan melalui keterbatasan akses terhadap bahasa, jaringan, informasi, rasa percaya diri, dan kemampuan membayangkan masa depan. Jika sekolah tidak menyadari mekanisme ini, pendidikan dapat berubah dari tangga mobilitas menjadi mesin reproduksi ketimpangan.
Masalahnya Bukan Kemiskinan Aspirasi
Mudah bagi kita untuk mengatakan bahwa keluarga miskin tidak memiliki motivasi pendidikan. Anggapan ini terasa masuk akal ketika orang tua meminta anaknya bekerja atau ketika seorang remaja memilih tidak melanjutkan sekolah. Namun, pilihan tersebut sering lahir dari ruang kemungkinan yang sangat sempit. Bagi keluarga yang harus memastikan makanan tersedia hari ini, manfaat pendidikan yang baru terasa beberapa tahun kemudian tampak terlalu jauh. Bekerja bukan selalu tanda rendahnya aspirasi, melainkan strategi bertahan hidup. Berhenti sekolah bukan selalu keputusan bebas, tetapi pilihan yang dibuat ketika alternatif lain hampir tidak tersedia.
Karena itu, kita harus berhenti mengubah masalah struktural ini menjadi ceramah motivasi, seolah ini adalah kesalahan mereka yang tidak gigih dalam berjuang. Anak-anak dari keluarga miskin tidak sekadar membutuhkan nasihat untuk berani bermimpi, tetapi juga mereka membutuhkan struktur sosial yang memberi mereka kesempatan nyata untuk mewujudkannya.
Pendidikan yang Memutus Rantai
Memutus pewarisan kemiskinan tidak cukup dilakukan dengan membebaskan biaya sekolah. Pendidikan gratis sangat penting, tetapi biaya bukan satu-satunya penghalang. Pemerintah juga perlu memperhitungkan ongkos transportasi, kehilangan pendapatan karena anak tidak bekerja, akses digital, kebutuhan gizi, kesehatan mental, pengasuhan, dan pendampingan belajar. Sekolah perlu bergerak dari prinsip perlakuan yang sama menuju keadilan. Anak yang menghadapi hambatan lebih besar harus memperoleh dukungan yang lebih kuat. Guru juga perlu melihat latar sosial peserta didik bukan sebagai kekurangan, melainkan sebagai sumber pengetahuan yang dapat dihubungkan dengan proses pembelajaran.
Di sinilah pendidikan masyarakat memiliki peran strategis. PKBM, program kesetaraan, kelompok belajar, rumah baca, pelatihan berbasis komunitas, serta pendampingan keluarga dapat menjangkau mereka yang tidak mampu mengikuti pola pendidikan formal. Namun, pendidikan nonformal tidak boleh diposisikan sebagai layanan kelas dua bagi mereka yang “gagal” di sekolah. Ia harus menjadi jalur pendidikan bermutu, fleksibel, dan diakui secara sosial maupun ekonomi.
Program pendidikan masyarakat juga tidak cukup hanya mengajarkan keterampilan kerja. Ia harus membantu warga memperluas jaringan, memahami hak, memperoleh akses terhadap layanan publik, membangun kepercayaan diri, dan berani menyuarakan kepentingannya. Dengan kata lain, pendidikan harus memperbesar modal budaya, sosial, ekonomi, dan simbolik masyarakat yang selama ini dimarginalkan.
Pemerintah memang telah menyediakan berbagai bantuan dan jalur pendidikan alternatif. Namun, ukuran keberhasilannya tidak boleh berhenti pada berapa banyak bantuan disalurkan atau berapa anak dikembalikan ke sekolah. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah mereka dapat bertahan, belajar secara bermakna, memperoleh pengakuan, dan memiliki masa depan yang lebih luas?Pendidikan tidak otomatis membebaskan. Ia hanya menjadi kekuatan pembebasan apabila berani mengoreksi ketimpangan yang dibawa peserta didik dari luar ruang kelas. Jika sekolah terus memperlakukan warisan sosial sebagai prestasi pribadi dan kemiskinan sebagai kegagalan individual, pendidikan akan mempertahankan susunan masyarakat yang sudah ada.
Kemiskinan memang lahir dari banyak sebab. Namun, ketika pendidikan gagal memutus rantainya, ruang kelas dapat menjadi salah satu tempat kemiskinan itu sendiri diwariskan. Tugas pendidikan bukan sekadar membuka pintu sekolah, melainkan memastikan bahwa setiap orang memiliki kemampuan nyata untuk masuk, belajar, bertahan, dan mengubah jalan hidupnya.
Artikel ini merupakan karya penulis yang telah melalui proses penyuntingan redaksional. Pandangan, pendapat, data, dan interpretasi yang disampaikan menjadi tanggung jawab penulis serta tidak selalu mencerminkan sikap atau pandangan Redaksi SerambiPikir. Baca selengkapnya