Beranda/ Artikel/ Sanggar Sastra/ Sepatah Pesan yang Tertin...

Sepatah Pesan yang Tertinggal

Meyvira Imanita Alyanti
29 Agustus 2026 2 menit baca
0

Sepatah Pesan yang Tertinggal

Meyvira Imanita Alyanti

Ada orang-orang yang datang

seperti hujan di halaman yang kering,

sebentar,

namun cukup untuk membuat tanah

mengingat cara menyimpan air.


Mereka tidak tinggal.

Hanya berjalan beberapa langkah 

dihidupku,

meninggalkan percakapan,

tatapan,

dan satu kalimat

yang selalu terdengar sederhana:

"Tetap jadi baik, ya."


Dulu aku tidak mengerti,

mengapa orang-orang yang singgah

selalu menitipkan kalimat itu.


Bukankah hidup punya cara lain 

untuk mengajari kita bertahan?


Menjadi keras setelah kecewa,

menjadi dingin setelah kehilangan,

menutup pintu setelah terlalu sering

orang datang hanya untuk pergi.


Tetapi mereka tetap berkata:

"Tetap jadi baik, ya."


Seolah mereka tahu,

ada sesuatu yang harus kujaga,

jauh sebelum aku tahu

apa namanya.


Barangkali kebaikan bukan

tentang menjadi teduh

bagi siapa saja yang berteduh.


Barangkali ia hanya keberanian kecil,

untuk tidak membiarkan luka

menentukan bentuk hati 

yang kita bawa pulang.


Maka setiap kali seseorang pergi

dan meninggalkan kalimat itu,

aku tidak lagi bertanya apa mansudnya.

Kusimpan saja,

di tempat paling sunyi dalam diriku,

seperti benih,

yang ditanam tanpa kepastian

akan menjadi pohon.


Sebab mungkin,

Orang-orang itu memang tidak datang 

untuk menetap.

Mereka hanya singgah,

menaruh sesuatu di telapak tanganku,

lalu pergi sebelum sempat kulihat,

apa yang mereka tinggalkan.


Dan bertahun-tahun kemudian,

barangkali baru aku pahami:

hidup boleh mengubah

cara kita berjalan,

cara kita memandang,

bahkan cara kita percaya.


Tetapi ada sesuatu

yang tak boleh ikut pergi

bersama orang-orang 

yang pernah meninggalkan kita.


"Tetap jadi baik, ya."


Kini kalimat itu,

tidak lagi terdengar seperti pesan.

Ia seperti suara,

yang diam-diam tumbuh

di dalam diriku.


Mengajarkanku bahwa pulang,

bukan selalu tentang menemukan tempat,

melainkan tentang memastikan

setelah sejauh apa pun hidup membawaku,

aku masih mengenali 

siapa yang sedang berjalan di dalam tubuhku.


1787978406_body_6JW7aHF1aVHj.webp

Meyvira Imanita Alyanti / Canva


Disclaimer

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya

Meyvira Imanita Alyanti

Tidak perlu mengenal siapa aku. Nikmati saja rangkaian kata karyaku. Happy reading & semoga bermanfaat.

Ikuti Penulis
Komentar 0
Silakan Masuk terlebih dahulu untuk mengirim komentar.
Artikel Terkait
Siaran Peristiwa — Kirim informasi via WhatsApp SerambiPikir
Ketikkan keyword yang ingin Anda telusuri.