Sepatah Pesan yang Tertinggal
Sepatah Pesan yang Tertinggal
Meyvira Imanita Alyanti
Ada orang-orang yang datang
seperti hujan di halaman yang kering,
sebentar,
namun cukup untuk membuat tanah
mengingat cara menyimpan air.
Mereka tidak tinggal.
Hanya berjalan beberapa langkah
dihidupku,
meninggalkan percakapan,
tatapan,
dan satu kalimat
yang selalu terdengar sederhana:
"Tetap jadi baik, ya."
Dulu aku tidak mengerti,
mengapa orang-orang yang singgah
selalu menitipkan kalimat itu.
Bukankah hidup punya cara lain
untuk mengajari kita bertahan?
Menjadi keras setelah kecewa,
menjadi dingin setelah kehilangan,
menutup pintu setelah terlalu sering
orang datang hanya untuk pergi.
Tetapi mereka tetap berkata:
"Tetap jadi baik, ya."
Seolah mereka tahu,
ada sesuatu yang harus kujaga,
jauh sebelum aku tahu
apa namanya.
Barangkali kebaikan bukan
tentang menjadi teduh
bagi siapa saja yang berteduh.
Barangkali ia hanya keberanian kecil,
untuk tidak membiarkan luka
menentukan bentuk hati
yang kita bawa pulang.
Maka setiap kali seseorang pergi
dan meninggalkan kalimat itu,
aku tidak lagi bertanya apa mansudnya.
Kusimpan saja,
di tempat paling sunyi dalam diriku,
seperti benih,
yang ditanam tanpa kepastian
akan menjadi pohon.
Sebab mungkin,
Orang-orang itu memang tidak datang
untuk menetap.
Mereka hanya singgah,
menaruh sesuatu di telapak tanganku,
lalu pergi sebelum sempat kulihat,
apa yang mereka tinggalkan.
Dan bertahun-tahun kemudian,
barangkali baru aku pahami:
hidup boleh mengubah
cara kita berjalan,
cara kita memandang,
bahkan cara kita percaya.
Tetapi ada sesuatu
yang tak boleh ikut pergi
bersama orang-orang
yang pernah meninggalkan kita.
"Tetap jadi baik, ya."
Kini kalimat itu,
tidak lagi terdengar seperti pesan.
Ia seperti suara,
yang diam-diam tumbuh
di dalam diriku.
Mengajarkanku bahwa pulang,
bukan selalu tentang menemukan tempat,
melainkan tentang memastikan
setelah sejauh apa pun hidup membawaku,
aku masih mengenali
siapa yang sedang berjalan di dalam tubuhku.

Meyvira Imanita Alyanti / Canva
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan
pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya