Beranda/ Artikel/ Sanggar Sastra/ Harapan yang Paling Seder...

Harapan yang Paling Sederhana

Meyvira Imanita Alyanti
21 Agustus 2026 2 menit baca
0


1786942182_body_zX1EO5vSzr0s.webp

canva

Harapan yang Paling Sederhana

Meyvira Imanita Alyanti


Dari sekian harapan 

yang pernah singgah di kepalaku,

tentang menjadi seseorang,

tentang sampai pada tempat-tempat jauh,

tentang memiliki sesuatu

yang dulu kukira akan membuatku bahagia,

kini ada satu yang tersisa.


Ia tidak datang dengan suara gemuruh,

tidak membawa peta menuju kejayaan,

tidak pula meminta dunia 

menyebut namaku.


Ia datang begitu pelan,

seperti cahaya sore

yang menyelinap dari celah tirai.


Aku hanya ingin 

hidup dengan hati yang tenang.


Sesederhana itu.


Ditengah dunia 

yang tak pernah kehabisan alasan

untuk menyuruh manusia berlari,

aku ingin belajar berjalan

tanpa terus menoleh 

kepada langkah orang lain.


Sebab dunia seperti pasar

yang tak pernah tutup.


Ada suara yang memanggil,

"Lebih tinggi"

Ada yang berbisik,

"Lebih cepat"

Ada yang bertanya,

"Sudah punya apa?"

"Kenapa belum menjadi siapa-siapa?"

"Calonnya mana, kapan menikah?"

"Kapan punya momongan?"


Dan kita pun tumbuh

dengan dada yang penuh target,

tetapi hati yang perlahan

kehabisan ruang untuk bernapas.


Aku mengira 

bahagia adalah puncak,

tempat segala ambisi

akhirnya berlutut

dan berkata,

"Cukup."


Namun mungkin aku keliru.


Barangkali bahagia bukan tentang

seberapa tinggi kita mendaki,

melainkan tentang 

seberapa damai kita tinggal

di dalam diri sendiri.


Maka jika kelak,

aku tidak memiliki banyak hal,

semoga aku masih memiliki pagi

yang tidak membuatku takut

pada hari yang akan datang.


Semoga aku bisa minum kopi pahit

tanpa terburu-buru,

mendengarkan hujan

tanpa memikirkan pekerjaan,

menulis beberapa kalimat

tanpa harus menjadikannya prestasi.


Semoga ada malam

ketika aku bisa merebahkan kepala

dan tidak membawa

seluruh kegagalan hari ini

ke dalam mimpi.


Aku tidak ingin 

menaklukan dunia.


Aku hanya ingin

tidak kehilangan diriku

ketika dunia sedang sibuk

menuntutku menjadi segala sesuatu.


Biarlah ambisi tetap tumbuh

seperti pohon-pohon liar

di sepanjang jalan.


Aku hanya ingin punya 

sepetak tanah dalam diriku

yang tetap sunyi,

tempat aku bisa kembali

ketika dunia terlalu bising.


Sebab dari sekian banyak 

hal yang pernah kuinginkan,

barangkali yang paling mahal 

bukanlah rumah besar,

bukan nama yang dikenang,

bukan hidup yang sempurna.


Melainkan hati

yang ketika menutup mata

tidak sedang berperang 

dengan dirinya sendiri.


Dan jika suatu hari nanti

aku ditanya

apa yang akhirnya ingin kucapai,


mungkin aku akan tersenyum

dan menjawab:

aku hanya ingin pulang ke dalam diriku sendiri

tanpa membawa perang apa pun.


Sebab ternyata,

setelah perjalanan yang begitu panjang,

harapan paling sederhana

justru menjadi yang paling berharga:


semoga aku tetap bisa hidup

dengan hati yang tenang,

meski dunia 

tidak pernah belajar

untuk berhenti berisik.




Disclaimer

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya

Meyvira Imanita Alyanti

Tidak perlu mengenal siapa aku. Nikmati saja rangkaian kata karyaku. Happy reading & semoga bermanfaat.

Ikuti Penulis
Komentar 0
Silakan Masuk terlebih dahulu untuk mengirim komentar.
Artikel Terkait
Siaran Peristiwa — Kirim informasi via WhatsApp SerambiPikir
Ketikkan keyword yang ingin Anda telusuri.