Harapan yang Paling Sederhana

canva
Harapan yang Paling Sederhana
Meyvira Imanita Alyanti
Dari sekian harapan
yang pernah singgah di kepalaku,
tentang menjadi seseorang,
tentang sampai pada tempat-tempat jauh,
tentang memiliki sesuatu
yang dulu kukira akan membuatku bahagia,
kini ada satu yang tersisa.
Ia tidak datang dengan suara gemuruh,
tidak membawa peta menuju kejayaan,
tidak pula meminta dunia
menyebut namaku.
Ia datang begitu pelan,
seperti cahaya sore
yang menyelinap dari celah tirai.
Aku hanya ingin
hidup dengan hati yang tenang.
Sesederhana itu.
Ditengah dunia
yang tak pernah kehabisan alasan
untuk menyuruh manusia berlari,
aku ingin belajar berjalan
tanpa terus menoleh
kepada langkah orang lain.
Sebab dunia seperti pasar
yang tak pernah tutup.
Ada suara yang memanggil,
"Lebih tinggi"
Ada yang berbisik,
"Lebih cepat"
Ada yang bertanya,
"Sudah punya apa?"
"Kenapa belum menjadi siapa-siapa?"
"Calonnya mana, kapan menikah?"
"Kapan punya momongan?"
Dan kita pun tumbuh
dengan dada yang penuh target,
tetapi hati yang perlahan
kehabisan ruang untuk bernapas.
Aku mengira
bahagia adalah puncak,
tempat segala ambisi
akhirnya berlutut
dan berkata,
"Cukup."
Namun mungkin aku keliru.
Barangkali bahagia bukan tentang
seberapa tinggi kita mendaki,
melainkan tentang
seberapa damai kita tinggal
di dalam diri sendiri.
Maka jika kelak,
aku tidak memiliki banyak hal,
semoga aku masih memiliki pagi
yang tidak membuatku takut
pada hari yang akan datang.
Semoga aku bisa minum kopi pahit
tanpa terburu-buru,
mendengarkan hujan
tanpa memikirkan pekerjaan,
menulis beberapa kalimat
tanpa harus menjadikannya prestasi.
Semoga ada malam
ketika aku bisa merebahkan kepala
dan tidak membawa
seluruh kegagalan hari ini
ke dalam mimpi.
Aku tidak ingin
menaklukan dunia.
Aku hanya ingin
tidak kehilangan diriku
ketika dunia sedang sibuk
menuntutku menjadi segala sesuatu.
Biarlah ambisi tetap tumbuh
seperti pohon-pohon liar
di sepanjang jalan.
Aku hanya ingin punya
sepetak tanah dalam diriku
yang tetap sunyi,
tempat aku bisa kembali
ketika dunia terlalu bising.
Sebab dari sekian banyak
hal yang pernah kuinginkan,
barangkali yang paling mahal
bukanlah rumah besar,
bukan nama yang dikenang,
bukan hidup yang sempurna.
Melainkan hati
yang ketika menutup mata
tidak sedang berperang
dengan dirinya sendiri.
Dan jika suatu hari nanti
aku ditanya
apa yang akhirnya ingin kucapai,
mungkin aku akan tersenyum
dan menjawab:
aku hanya ingin pulang ke dalam diriku sendiri
tanpa membawa perang apa pun.
Sebab ternyata,
setelah perjalanan yang begitu panjang,
harapan paling sederhana
justru menjadi yang paling berharga:
semoga aku tetap bisa hidup
dengan hati yang tenang,
meski dunia
tidak pernah belajar
untuk berhenti berisik.
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan
pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya