terkubur hidup-hidup
terkubur hidup-hidup
A. Hasdiansyah
aku pernah jatuh
di tanah yang bahkan enggan
menyimpan gema namaku.
remuk sedemikian rupa
hingga mengumpulkan diri sendiri
serupa pekerjaan tanpa ujung
terlalu panjang
untuk dituntaskan dalam satu usia.
ada luka yang tidak berdarah
Ia tinggal di belakang mata,
di antara dada dan ingatan,
menyala setiap kali malam sunyi.
tak seorang pun melihatnya.
setiap pagi, ia terjaga lebih dahulu dariku,
membisikkan kembali
segala yang belum mampu kulepaskan.
bertahun-tahun
kubawa ia seperti bayang-bayang
yang tak pernah letih
mengikuti tubuhnya sendiri.
mereka berkata,
waktu akan menyembuhkan.
mereka tak tahu,
waktu hanya mengajari manusia
menyembunyikan retaknya:
tersenyum di hadapan dunia,
berkata, “aku baik-baik saja,”
lalu runtuh setelah pintu dikatupkan.
ada malam ketika tangis ingin tumpah,
namun air mata pun
kehilangan jalan menuju wajah.
maka aku berhenti
menunggu kesembuhan.
aku belajar tinggal
bersama segala yang tak kembali
menyebut kehilangan
tanpa berharap ia menjawab,
melintasi tempat lama
tanpa memungut bayang-bayang
yang telah memilih pergi.
tak semua kehilangan
diciptakan untuk digantikan.
tak semua pengkhianatan
harus dimaafkan
agar langkah diteruskan.
ada pintu yang mesti ditutup,
meski sebagian diriku
tertinggal di baliknya.
aku pernah kalah berkali-kali,
hingga kekalahan mengenali wajahku,
kegagalan hafal jalan pulangku,
dan kejatuhan datang
tanpa perlu mengetuk.
ada hari ketika bangun dari ranjang
merupakan perlawanan paling sunyi.
mengenakan pakaian, membuka pintu,
dan berpura-pura sanggup
sudah cukup untuk disebut menang.
bukan karena aku tak takut.
aku takut.
pernah kugenggam hari esok
dengan tangan gemetar,
pernah kutatap langit
dan bertanya
mengapa hidup begitu murah hati
memberi alasan untuk menyerah.
namun hidup terlalu bengis
untuk kubiarkan menang
tanpa perlawanan.
maka aku tetap hadir
ketika dunia berharap aku lenyap,
tetap bekerja
ketika mereka menunggu kegagalanku,
tetap menanam
di tanah yang menolak benihku,
tetap menyisakan harapan
meski ia pernah mengkhianatiku.
sebab manusia boleh dihancurkan,
tetapi tak wajib
menjadi reruntuhannya sendiri.
kini lihatlah
yang tertinggal padaku
bukan aib.
ia peta
di sini aku kehilangan.
di sana aku dikhianati.
di sudut itu
aku berlutut begitu lama
hingga hampir lupa
bagaimana caranya berdiri.
ada nama yang tak lagi kusebut
bukan karena kulupakan,
melainkan karena menyebutnya
masih membuat udara
enggan tinggal di dada.
ada rumah yang tak lagi kutuju
bukan karena jalannya lenyap,
melainkan karena tak ada lagi diriku
yang menunggu di sana.
dan tepat di tempat
yang kukira menjadi akhir,
aku memulai lagi.
perlahan.
tanpa tepuk tangan,
tanpa saksi,
tanpa seorang pun tahu
betapa beratnya
mengembalikan tubuh
kepada kehidupan.
aku tak kembali
sebagai manusia yang sama.
ada sesuatu dalam diriku
yang telah mati.
biarlah.
tak semua yang mati
harus dibangkitkan.
ada kepolosan
yang mesti dikuburkan
agar keberanian
memiliki ruang untuk tumbuh.
ada kepercayaan
yang harus menjadi abu
agar aku belajar
tak menyerahkan seluruh diri
kepada tangan orang lain.
Kini aku tak meminta hidup
menjadi lebih lunak.
datanglah dengan badaimu.
bawalah kegagalan,
kehilangan,
dan malam-malam panjangmu.
aku telah mengenal gelap.
pernah tinggal di dalam rahimnya.
pernah berbicara kepada diri sendiri
agar tak benar-benar lenyap.
aku tahu rasanya
menunggu pagi
dengan dada penuh
oleh hal-hal
yang tak sanggup menjadi kata.
dan bila esok
aku kembali dijatuhkan,
akan kupungut
apa pun yang tersisa,
kususun kembali namaku
dari serpihan hari.
bukan karena aku telah utuh,
melainkan karena di dasar kehancuran
masih ada bagian kecil dariku
yang menolak menyerah.
sebab setelah segala yang mencoba
menguburku hidup-hidup,
akhirnya kupahami:
mereka mengira
aku sedang dikuburkan.
padahal aku sedang ditanam.
namun mereka keliru lagi.
yang tumbuh dari tanah itu
bukan seseorang yang tak pernah hancur,
melainkan seseorang
yang tahu persis
bagaimana rasanya dikubur
dan tetap memilih
menggerakkan akar.
aku tidak keluar
dari gelap sebagai cahaya.
aku keluar
dengan gelap masih melekat
di kedua tanganku—
namun kini
ia tidak lagi menutup jalan.
Ia menjadi bara.
dan ketika dunia menunduk,
mengira tak ada apa pun
yang tersisa dari namaku,
aku tak berteriak.
tak perlu.
cukup satu tarikan napas
cukup satu langkah
dari tanah yang pernah menelanku.
lalu, dari antara sunyi
yang mengira aku telah selesai,
kudengar suaraku sendiri—
bukan sebagai kesaksian,
melainkan sebagai putusan
aku pernah hancur.
pernah hilang
pernah hampir selesai
tetapi aku bukan sisa
dari semua yang gagal membunuhku.
aku adalah jawabannya.
aku masih di sini.

Ilustrasi digital
Demi menjaga kenyamanan dan pengalaman terbaik mengunjungi SerambiPikir, kami memilih tidak menggunakan iklan AdSense. Anda tetap dapat ikut merawat SerambiPikir melalui kontribusi sukarela. Dukungan Anda membantu ruang ini terus tumbuh dan tetap terbuka bagi semua.
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan
pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya