Hari Ketika Dunia Kubiarkan Berjalan

Ilustrasi digital_Canva
Hari Ketika Dunia Kubiarkan Berjalan
Meyvira Imanita Alyanti
Ternyata,
aku tidak selalu harus berlari
untuk sampai pada apa-apa.
Hari kemarin aku memilih menepi,
menanggalkan sebentar sepatu
yang dipakai terlalu lama
untuk mengejar dunia.
Kubiarkan ia berjalan tanpaku
jalan-jalan tetap dipenuhi langkah,
jam tetap menggiring waktu,
pesan-pesan tetap menunggu balasan,
dan dunia, seperti biasa,
tidak pernah benar-benar membutuhkan
aku untuk terus berputar.
Maka untuk sehari,
biarlah aku memiliki dunia kecilku sendiri.
Dunia yang tidak bertanya
aku sudah sejauh apa.
Tidak menghitung
berapa banyak yang belum selesai.
Tidak memaksaku menjadi siapa-siapa.
Disana hanya ada aku,
selembar halaman
dan kata-kata yang tumbuh
seperti rumput setelah hujan.
Ada musik yang kumainkan pelan,
seolah nada-nada itu tahu
bagian mana dari diriku
yang sedang ingin kupeluk.
Ada tubuh yang kurebahkan,
akhirnya,
setelah sekian lama
kubawa ke mana-mana
seolah ia bukan rumah
melainkan kendaraan
yang harus terus berjalan.
Dan ada diam.
Diam yang tidak perlu dijelaskan.
Diam yang tidak kosong,
melainkan seperti laut
yang menyimpan begitu banyak hal
tanpa merasa harus menceritakannya
kepada siapa pun.
Untuk satu hari,
aku tidak ingin menjadi produktif.
Tidak ingin menjadi kuat.
Tidak ingin mengejar sesuatu
hanya karena takut tertinggal.
Aku hanya ingin ada.
Menjadi manusia
yang sesekali berhenti
di tengah kalimat hidupnya sendiri.
Barangkali rehat bukan tentang
melarikan diri dari kehidupan,
melainkan pulang sebentar
kepada diri sendiri.
Dan ternyata benar,
satu hari saja cukup.
Cukup untuk mengingat
bahwa aku masih punya dunia
yang tidak perlu diketahui siapa-siapa.
Dunia kecil
tempat aku menulis,
memainkan musik,
merebahkan tubuh,
memandangi langit-langit kamar,
dan tidak memikirkan apa pun.
Hari ketika dunia berjalan tanpa aku,
ternyata bukan kehilangan.
Ia adalah jeda.
Dan di dalam jeda itu,
aku menemukan diriku
yang selama ini
terlalu sibuk berjalan
sampai lupa
bahwa sesekali,
pulang juga termasuk
cara untuk melanjutkan perjalanan.
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan
pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya