Beranda/ Artikel/ Sanggar Sastra/ Hari Ketika Dunia Kubiark...

Hari Ketika Dunia Kubiarkan Berjalan

Meyvira Imanita Alyanti
17 Agustus 2026 2 menit baca
0

1786967829_body_tubsFLHRQmUN.webp

Ilustrasi digital_Canva

Hari Ketika Dunia Kubiarkan Berjalan

Meyvira Imanita Alyanti

Ternyata,

aku tidak selalu harus berlari

untuk sampai pada apa-apa.


Hari kemarin aku memilih menepi,

menanggalkan sebentar sepatu

yang dipakai terlalu lama

untuk mengejar dunia.


Kubiarkan ia berjalan tanpaku

jalan-jalan tetap dipenuhi langkah,

jam tetap menggiring waktu,

pesan-pesan tetap menunggu balasan,

dan dunia, seperti biasa,

tidak pernah benar-benar membutuhkan

aku untuk terus berputar.


Maka untuk sehari,

biarlah aku memiliki dunia kecilku sendiri.


Dunia yang tidak bertanya

aku sudah sejauh apa.

Tidak menghitung

berapa banyak yang belum selesai.

Tidak memaksaku menjadi siapa-siapa.


Disana hanya ada aku,

selembar halaman

dan kata-kata yang tumbuh

seperti rumput setelah hujan.


Ada musik yang kumainkan pelan,

seolah nada-nada itu tahu

bagian mana dari diriku

yang sedang ingin kupeluk.


Ada tubuh yang kurebahkan,

akhirnya,

setelah sekian lama 

kubawa ke mana-mana

seolah ia bukan rumah

melainkan kendaraan

yang harus terus berjalan.


Dan ada diam.


Diam yang tidak perlu dijelaskan.

Diam yang tidak kosong,

melainkan seperti laut

yang menyimpan begitu banyak hal

tanpa merasa harus menceritakannya

kepada siapa pun.


Untuk satu hari,

aku tidak ingin menjadi produktif.

Tidak ingin menjadi kuat.

Tidak ingin mengejar sesuatu

hanya karena takut tertinggal.


Aku hanya ingin ada.


Menjadi manusia

yang sesekali berhenti

di tengah kalimat hidupnya sendiri.


Barangkali rehat bukan tentang

melarikan diri dari kehidupan,

melainkan pulang sebentar

kepada diri sendiri.


Dan ternyata benar,

satu hari saja cukup.


Cukup untuk mengingat

bahwa aku masih punya dunia

yang tidak perlu diketahui siapa-siapa.


Dunia kecil

tempat aku menulis,

memainkan musik,

merebahkan tubuh,

memandangi langit-langit kamar,

dan tidak memikirkan apa pun.


Hari ketika dunia berjalan tanpa aku,

ternyata bukan kehilangan.


Ia adalah jeda.


Dan di dalam jeda itu,

aku menemukan diriku

yang selama ini

terlalu sibuk berjalan

sampai lupa

bahwa sesekali,

pulang juga termasuk

cara untuk melanjutkan perjalanan.

Disclaimer

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya

Meyvira Imanita Alyanti

Tidak perlu mengenal siapa aku. Nikmati saja rangkaian kata karyaku. Happy reading & semoga bermanfaat.

Ikuti Penulis
Komentar 0
Silakan Masuk terlebih dahulu untuk mengirim komentar.
Artikel Terkait
Siaran Peristiwa — Kirim informasi via WhatsApp SerambiPikir
Ketikkan keyword yang ingin Anda telusuri.