Menyaring Rasa

Dokumentasi Penulis
Menyaring Rasa
Dyah Febria Wardhani
Belasan windu waktu merajut sepi,
tiada lagi debar yang singgah di angan,
tertutup rapat gerbang sunyi,
membeku dalam sunyinya peraduan.
Kini ia mengetuk, bukan sekadar menyapa,
namun menderu, menghujani relung dada,
membuat raga terpaku tanpa kuasa,
lupa bagaimana cara menata rasa.
Sungguh, ini bukan sekali dua kali terjadi,
menghempas benteng fokus yang kujaga setengah mati,
bahkan dalam mimpi tak pernah terbesit niat ini,
namun ia merangsek di musim yang paling keliru pagi hari.
Setiap bayang itu menyembul dalam terang,
kupeluk nasehat, meredam berontak yang bimbang,
"Cukup, ini salah," bisikku pada diri yang gamang,
bukan hanya satu, tapi riuh mengguncang ketenangan.
"Hilangkan!" teriak batinku menolak tunduk,
namun angan terus melayang, menembus batas yang kukuh,
Duhai langit, dekap aku yang mulai rapuh,
tuntun aku karam dari debar yang salah dan riuh.
Demi menjaga kenyamanan dan pengalaman terbaik mengunjungi SerambiPikir, kami memilih tidak menggunakan iklan AdSense. Anda tetap dapat ikut merawat SerambiPikir melalui kontribusi sukarela. Dukungan Anda membantu ruang ini terus tumbuh dan tetap terbuka bagi semua.
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan
pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya