Grup WhatsApp Jemaah: “List Donatur”
Grup WhatsApp Jemaah adalah wujud nyata dari upaya manusia modern untuk membangun “ruang sakral” di dalam gawainya yang profan. Tulisan ini merupakan bagian dari seri artikel sosiologis bertajuk "Anatomi Grup WhatsApp" yang membedah realitas sosio-kultural di dalam ruang obrolan digital kita sehari-hari.
Bagi sebagian besar masyarakat urban, layar ponsel pintar adalah lanskap yang sangat riuh, melelahkan, dan sepenuhnya profan (duniawi). Di dalam gawai berbentuk persegi panjang tersebut, kita berdebat urusan politik di media sosial, membalas surel pekerjaan yang mendesak, menelusuri katalog belanja daring, hingga memendam rasa iri melihat foto liburan rekan kerja. Ponsel adalah representasi mutakhir dari hiruk-pikuk urusan dunia.
Namun, di tengah belantara aplikasi yang sarat dengan urusan duniawi itu, hampir setiap dari kita memiliki satu oase digital yang berfungsi sebagai jangkar spiritual. Namanya, Grup WhatsApp Jemaah. Entah itu grup jemaah masjid, jemaah pengajian, jemaah tahlilan, majelis taklim ibu-ibu, atau grup pengurus masjid, semua memiliki ritme kehidupan yang sangat khas dan dapat ditebak.
Denyut nadinya biasanya dimulai jauh sebelum fajar menyingsing. Pada pukul tiga atau empat pagi, grup akan dihiasi oleh sapaan tahajud, disusul oleh deretan gambar bergerak (GIF) berupa kaligrafi, cangkir kopi, dan bunga mawar yang diiringi doa-doa pagi. Menjelang siang, informasi tautan Zoom kajian tafsir, tautan YouTube ceramah dai kondang, atau jadwal penceramah kajian akhir pekan akan dibagikan.
Puncak dari eskalasi spiritual di grup ini biasanya terjadi pada hari Kamis hingga Jumat. Pada periode ini, tajuk “Jumat Berkah” dikumandangkan. Pesan berantai berisi ajakan donasi mulai diedarkan, entah itu untuk pembebasan lahan sekolah, santunan anak yatim, pembangunan menara masjid, atau sekadar pembagian nasi kotak di masjid.
Di bawah pesan ajakan tersebut, biasanya akan terlampir sebuah “List Donatur” yang secara bertahap diisi dengan cara salin-tempel (copy-paste): 1. Bapak Ahmad Rp 100.000; 2. Ibu Budi Rp 50.000 3. Hamba Allah - Rp 200.000; 4. ... (lanjutkan).
Seri Artikel Lainnya: Grup WhatsApp Pejabat Struktural: Ilusi Prestise
Yang Sakral dan yang Profan
Fenomena rutinitas ibadah komunal dan daftar donatur terbuka ini adalah sebuah lanskap mikrososiologi yang menarik. Untuk membedahnya, kita bisa meminjam kerangka pemikiran dari dua sosiolog dan antropolog klasik Prancis, yakni Émile Durkheim dan Marcel Mauss.
Dalam mahakaryanya, The Elementary Forms of Religious Life, Émile Durkheim merumuskan bahwa agama pada esensinya adalah sebuah sistem kepercayaan dan praktik yang memisahkan antara hal-hal yang “Sakral” (suci) dan yang “Profan” (duniawi/biasa). Praktik-praktik agama ini berfungsi untuk menyatukan individu-individu ke dalam sebuah “komunitas moral” (sebuah jemaah).
Grup WhatsApp Jemaah adalah wujud nyata dari upaya manusia modern untuk membangun “ruang sakral” di dalam gawainya yang profan. Di tengah jadwal yang melelahkan dan kemacetan jalanan, manusia modern kesulitan untuk secara fisik hadir ke masjid setiap saat. Grup WhatsApp pada akhirnya menjelma menjadi semacam “tempat ibadah” portabel, yakni sebuah tempat perlindungan (sanctuary) di mana mereka bisa sejenak membasuh kepenatan duniawinya dengan membaca satu dua baris hadis atau sekadar mengetik “Aamiin” pada doa yang dipanjatkan oleh anggota lain. Grup ini menciptakan solidaritas mekanis yang mengikat anggota-anggotanya pada satu frekuensi keimanan yang sama.
Namun, dinamika paling menarik terletak pada tradisi penggalangan dana dan fenomena “List Donatur”. Mengapa harus ada daftar yang diperbarui berkali-kali dan disebarkan kembali ke dalam grup? Mengapa tidak cukup hanya memberikan nomor rekening untuk ditransfer secara diam-diam? Para pengurus grup biasanya berdalih bahwa hal ini dilakukan demi transparansi administrasi. Tentu itu benar adanya. Namun, secara sosiologis, praktik ini menyimpan sesuatu tersembunyi.
Seri Artikel Lainnya: Grup WhatsApp Kepanitiaan: Kuburan Digital
Buku Tabungan Sosial
Murid intelektual Durkheim, yakni Marcel Mauss, pernah menulis sebuah esai brilian berjudul The Gift (Esai tentang Hadiah). Mauss berpendapat bahwa dalam kehidupan sosial, tidak ada pemberian yang benar-benar “bebas” atau murni kosong dari muatan sosial. Sebuah pemberian (termasuk sedekah) selalu menciptakan ikatan sosial, dan membawa tiga kewajiban tidak tertulis dalam masyarakat, yaitu kewajiban untuk memberi, kewajiban untuk menerima, dan kewajiban untuk membalas (baik dalam bentuk setara, maupun dalam bentuk respek dan doa).
Ketika “List Donatur” disebarkan di grup WhatsApp, secara tidak langsung grup itu memproduksi sebuah kewajiban moral komunal. Daftar tersebut bertindak sebagai sebuah etalase kedermawanan sekaligus buku tabungan sosial yang kasatmata. Saat seorang anggota grup melihat nama-nama tetangganya berderet mengisi daftar urutan 1 hingga 15, sangat mungkin timbul sebuah dorongan psikologis, sebuah tekanan halus (subtle peer pressure), untuk ikut berpartisipasi. Ada rasa sungkan atau terasing jika dirinya, yang setiap hari ikut mengamini doa di grup tersebut, tidak turut menorehkan namanya di dalam daftar kebaikan.
Bahkan, fenomena penggunaan nama samaran “Hamba Allah” dalam daftar donatur pun tidak lepas dari pembacaan sosiologis ini. Menggunakan nama “Hamba Allah” adalah sebuah manuver spiritual yang indah. Diniatkan untuk menghindari riya’ (pamer) agar pahalanya terjaga kemurniannya.
Namun, dengan tetap mencantumkan entitas “Hamba Allah” beserta nominal donasinya di urutan nomor sekian, sang donatur tanpa sadar tetap berpartisipasi dalam “sistem pertukaran sosial” ala Marcel Mauss. Angka yang tertera di samping nama “Hamba Allah” itu tetap berfungsi memotivasi anggota lain, menggulirkan efek bola salju kedermawanan di dalam grup jemaah.
Seri Artikel Lainnya: Grup WhatsApp Wali Murid: Pertarungan Kultural
Merawat Harapan
Grup WhatsApp Jemaah ini kemudian merevolusi cara manusia beramal. Jika di masa lalu kedermawanan sering kali dibatasi oleh kedekatan geografis atau tatap muka saat mengedarkan kotak amal, kini sedekah menjadi sebuah ritus digital yang cair, cepat, dan tanpa batas. Lembar seratus ribu rupiah, lima puluh ribu rupiah, hingga pecahan sepuluh ribu rupiah, berbaris rapi dalam sebuah ekosistem gotong royong digital yang luar biasa masif.
Meskipun fenomena “List Donatur” ini rentan tergelincir menjadi sekadar kompetisi status sosial (siapa penyumbang terbanyak) atau memicu perasaan bersalah bagi mereka yang sedang tidak memiliki kelonggaran finansial, kita harus mengakui bahwa praktik ini adalah bukti bahwa nurani manusia modern belumlah mati. Hal seperti ini adalah cara masyarakat kita yang lelah untuk merawat harapan dan menjaga api kepedulian terhadap sesama.
Di tengah pusaran notifikasi yang sering kali membawa kabar buruk atau kecemasan, berdentingnya grup WhatsApp Jemaah di hari Jumat adalah sebuah jeda yang manis. Biarkanlah daftar nama donatur itu terus memanjang dan disalin-tempel berkali-kali. Sesungguhnya di balik deretan teks algoritma biner tersebut ada nilai-nilai kemanusiaan dan keilahian yang sedang dirawat dengan keras kepala. Di dalam ruang obrolan itu, manusia urban tidak hanya sedang berbagi tautan kajian, tetapi juga mereka sedang menabung rindu pada surga, bersama-sama. Bukankah itu syahdu?

Seri artikel sosio-kultural Anatomi Grup WhatsApp
Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan
pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya