Grup WhatsApp Kepanitiaan: Kuburan Digital
Grup WhatsApp kepanitiaan adalah "kuburan digital" yang bersemayam jauh di bahwa obrolan aktif kita sehari-hari. Tulisan ini merupakan bagian dari seri artikel sosiologis bertajuk "Anatomi Grup WhatsApp" yang membedah realitas sosio-kultural di dalam ruang obrolan digital kita sehari-hari.
Di bagian paling bawah dari tumpukan pesan WhatsApp di ponsel cerdas Anda, terkubur jauh di bawah obrolan aktif sehari-hari, bersemayamlah “kuburan-kuburan digital” yang sunyi. Mereka adalah deretan grup WhatsApp dengan nama-nama yang merujuk pada masa lalu yang spesifik. Seperti misalnya, Panitia Raker 2023, Panitia HUT RI ke-77, Satgas Akreditasi, Panitia Seminar Internasional, atau apapun namanya.
Cobalah buka salah satu grup tersebut dan gulir layarnya ke atas. Anda akan menemukan sebuah siklus hidup yang sangat dramatis, intens, namun berakhir dengan keheningan. Grup kepanitiaan adalah sebuah fenomena mikrososiologi yang unik. Grup ini lahir dari kebutuhan birokrasi, tumbuh menjadi ruang afeksi yang berapi-api, dan mati begitu saja saat tenda acara dibongkar atau makan-makan pembubaran panitia sudah digelar.
Siklus Hidup
Mari kita reka ulang linimasa siklus hidupnya. Grup ini biasanya lahir sebulan atau dua bulan sebelum hari H. Pada minggu-minggu pertama, hawanya penuh dengan basa-basi yang canggung. Isinya didominasi oleh tautan pembagian tugas (jobdesk), jajak pendapat (polling) penentuan jadwal rapat yang memungkin semua bisa hadir, dan ucapan “Siap, laksanakan” yang kaku.
Seiring mendekatnya hari eksekusi, grup ini mengalami metamorfosis. Rapat-rapat maraton yang diwarnai pesanan piza larut malam atau kopi literan mulai mencairkan sekat-sekat hierarki kantor. Pegawai junior dan atasan tiba-tiba bisa saling bertukar stiker jenaka. Grup yang tadinya kaku berubah menjadi ruang percakapan yang tak pernah tidur.
Puncaknya terjadi pada hari H pelaksanaan acara. Grup WA kepanitiaan berubah fungsi menjadi war room atau ruang komando perang yang memacu adrenalin. Ratusan pesan bisa masuk dalam hitungan menit.
“Konsumsi VIP tolong diarahkan ke pintu samping!”, “Mic di panggung mati, tolong teknisi!”, “MC tolong tahan durasi 5 menit lagi, pembicara sudah naik lift.” Dan bla bla bla lainnya. Di tengah kekacauan itu, muncul perasaan senasib sepenanggungan. Lintas divisi yang tadinya tidak saling kenal, tiba-tiba merasa seperti saudara seperjuangan di medan laga.
Lalu, acara pun usai dengan sukses. Malam harinya, grup akan dibanjiri oleh foto-foto candid, ucapan terima kasih yang emosional dari ketua panitia, dan deklarasi-deklarasi solidaritas: “Kerja keras yang terbayar lunas! Kalian tim terbaik!”, “Terima kasih atas kerja samanya semua.”
Namun, “keluarga” itu ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa. Seminggu setelah acara, intensitas pesan menurun drastis, menyisakan satu atau dua orang yang membagikan tautan Google Drive berisi kumpulan foto. Sebulan kemudian, keheningan total melanda. Hingga akhirnya, pada suatu hari yang tak terduga, muncul notifikasi beruntun yang mengakhiri segalanya: “A izin leave grup ya, memori HP sudah penuh. Sukses selalu semuanya”, disusul oleh jejak “B left”, “C left”, diikuti emoji dua telapak tangan yang dirapatkan. Hingga kemudian, admin akhirnya secara sepihak membubarkan grup tersebut atau membiarkannya menjadi ruang hampa layaknya kota hantu.
Seri Artikel Lainnya: Grup WhatsApp Wali Murid: Pertarungan Kultural
Hubungan yang Cair
Pertanyaannya, mengapa kita begitu mudah menciptakan keintiman yang meledak-ledak, namun dengan mudah pula membuangnya tanpa rasa kehilangan yang berarti?
Untuk menjawabnya, saya ingin meminjam pandangan pemikir besar kontemporer, Zygmunt Bauman. Bauman menawarkan sebuah diagnosis mengenai kondisi manusia hari ini melalui konsep modernitas cair (liquid modernity). Menurut Bauman, masyarakat di masa lalu hidup dalam “modernitas padat” (solid modernity). Pada masa itu, segala hal dibangun untuk bertahan lama, seperti pekerjaan untuk seumur hidup, pernikahan yang tak terpisahkan, dan komunitas ketetanggaan yang mengakar kuat dari generasi ke generasi. Hubungan sosial bersifat padat, berat, dan butuh waktu lama untuk dibentuk, namun sangat sulit untuk dipatahkan.
Berbeda dengan hari ini, segala sesuatu telah “mencair”. Ciri utama dari benda cair adalah kemampuannya untuk mengalir, berubah bentuk mengikuti wadahnya, tidak terikat, dan tidak stabil. Dalam era modernitas cair, manusia menghindari komitmen jangka panjang yang memberatkan. Kita lebih menyukai segala sesuatu yang fleksibel, sementara, dan dapat dihentikan kapan saja tanpa denda emosional. Kita hidup di era hubungan sosial yang berwatak plug-and-play, pasang saat butuh, cabut saat selesai.
Grup WhatsApp kepanitiaan adalah manifestasi dari “hubungan cair” (liquid relationships) ini. Grup ini memfasilitasi kebutuhan kita akan koneksi dan kebersamaan, tetapi dengan syarat mutlak: bebas dari tanggung jawab jangka panjang. Keintiman yang tercipta di dalam kepanitiaan sejatinya adalah keintiman yang sangat situasional.
Kita merasa menjadi “keluarga” bukan karena kita benar-benar mencintai rekan kerja kita secara mendalam, melainkan karena kita diikat oleh kecemasan yang sama agar acara besok tidak berantakan. Itu adalah solidaritas yang lahir dari ketergantungan teknis, bukan dari kedekatan spiritual.
Ironisnya, sering kali ada rasa melankolis atau kebingungan saat kita berpapasan dengan mantan rekan satu panitia di lorong kantor sebulan kemudian. Sapaan kembali menjadi canggung, seolah-olah tawa lepas dan kerja keras larut malam yang pernah dibagikan di grup hanyalah halusinasi kolektif.
Bauman menyebut fenomena ini sebagai konsekuensi logis dari kehidupan cair, yakni ketika sebuah “proyek” selesai, maka utilitas (kegunaan) dari hubungan itu pun berakhir. Kita harus segera mengosongkan ruang emosional kita untuk proyek-proyek cair berikutnya.
Seri Artikel Lainnya: Grup WhatsApp Sekolah Anak: Kolonisasi Ruang Keluarga
Pertahanan Diri
Apakah realitas ini membuat kita terdengar seperti makhluk yang dingin dan transaksional? Tidak juga. Memandang fenomena ini dengan sinis justru berarti kita mengabaikan kapasitas adaptasi manusia.
Kenyataannya, kita memang tidak memiliki ruang batin yang cukup luas untuk merawat ikatan mendalam dengan setiap orang yang pernah bekerja sama dengan kita. Jika kita mempertahankan intensitas hubungan dengan setiap anggota panitia dari setiap acara yang pernah kita ikuti, sistem saraf emosional kita akan mengalami overload dan kolaps.
Pembubaran grup WhatsApp atau eksodus “left group” secara massal bukanlah sebuah pengkhianatan atas memori kebersamaan, melainkan sebuah mekanisme pertahanan diri yang sangat sehat. Itu adalah cara manusia modern memberikan penutupan (closure).
Jadi, biarkanlah grup-grup kepanitiaan itu mati dengan tenang di dasar aplikasi percakapan kita. Tidak perlu ada rasa bersalah saat menekan tombol “keluar dari grup” setelah acara selesai. Segala yang padat pada akhirnya memang harus mencair.
Namun, setidaknya untuk sesaat, di tengah paniknya mencari kabel ekstensi atau saat memesan kopi di tengah malam yang dingin, kita pernah benar-benar hadir, berbagi tawa, dan menjadi manusia secara utuh bersama mereka. Dan, di era modernitas yang serba cair ini, bisa terikat erat meski hanya sebentar, adalah sebuah kemewahan yang tetap patut kita syukuri.
Sesekali jenguklah kuburan digital itu, yang telah terbenam di bagian dasar daftar obrolan WhatsApp Anda. Siapa tahu di sana ada kenangan indah, bukan?
Seri Artikel Lainnya: Grup WhatsApp Kantor: Teror Sunyi

Seri artikel sosio-kultural Anatomi Grup WhatsApp
Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan
pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya