Beranda/ Artikel/ Sudut Pandang/ Meneguhkan Praksis Pembel...

Meneguhkan Praksis Pembelajaran Transformatif

Program pembelajaran transformatif Direktorat Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif (Direktorat SSPT) Kemendiktisaintek dipandang sebagai langkah penting, tetapi implementasinya perlu dikawal agar tidak berhenti pada pelatihan, melainkan menghasilkan perubahan nyata dalam praktik mengajar, cara mahasiswa belajar, serta dampak sosial perguruan tinggi

A. Hasdiansyah
04 Agustus 2026 5 menit baca
0

1785767963_body_pdYbdWYsov6g.webp

Dok Pribadi

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melalui Direktorat Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif (SSPT) sedang mendorong pembelajaran transformatif sebagai salah satu arah pembaruan pendidikan tinggi Indonesia. Melalui pelatihan fasilitator bagi dosen, program ini diharapkan mampu menggeser pembelajaran dari sekadar penguasaan isi menuju perubahan cara berpikir, bertindak, dan memberi dampak.

Sebagai dosen yang pernah ikut pelatihan ini, saya menyambut baik arah tersebut. Perguruan tinggi memang tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang menguasai teori, memperoleh nilai tinggi, dan membawa pulang gelar. Pendidikan tinggi perlu membentuk manusia yang mampu memeriksa keyakinannya, membaca persoalan secara kritis, berdialog dengan perbedaan, dan menggunakan pengetahuan untuk memperbaiki kehidupan bersama. Namun, dukungan terhadap program ini perlu disertai sikap kritis. Sejarah kebijakan pendidikan kita dipenuhi gagasan baik yang perlahan kehilangan makna ketika diterjemahkan menjadi pelatihan singkat, modul seragam, laporan kegiatan, dan sertifikat. Pembelajaran transformatif tidak boleh mengalami nasib serupa.

Program ini tidak cukup dinilai dari jumlah dosen yang dilatih atau perguruan tinggi yang terlibat. Pertanyaan terpentingnya adalah: apakah cara dosen mengajar berubah? Apakah mahasiswa benar-benar meninjau kembali asumsi dan cara pandangnya? Apakah pembelajaran menghasilkan tindakan yang bertanggung jawab?

Lebih dari Sekadar Metode Mengajar

Pembelajaran transformatif bukan sekadar istilah baru untuk diskusi kelompok, studi kasus, proyek, atau penggunaan teknologi. Metode-metode tersebut dapat mendukung transformasi, tetapi tidak otomatis menghasilkan perubahan perspektif. Dalam pemikiran Jack Mezirow, transformasi terjadi ketika seseorang memeriksa secara kritis kerangka acuan yang selama ini digunakan untuk memahami pengalaman. Mahasiswa bukan hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga mempertanyakan mengapa ia mempercayai suatu pandangan dan bagaimana pandangan tersebut memengaruhi tindakannya.

Pemikiran transformatif Mezirow banyak dipengaruhi oleh teori tindakan komunikatif Jurgen Habermas yang membedakan pembelajaran instrumental dan komunikatif. Pembelajaran instrumental berhubungan dengan penguasaan fakta serta keterampilan teknis. Sementara itu, pembelajaran komunikatif berkaitan dengan pemahaman makna, nilai, dan alasan melalui dialog yang setara.

Keduanya diperlukan. Perguruan tinggi tidak boleh menghasilkan lulusan yang terampil secara teknis tetapi tidak mampu mempertanyakan dampak penggunaan pengetahuannya. Mahasiswa pendidikan, misalnya, perlu menguasai teori pembelajaran, tetapi juga harus mampu melihat ketimpangan kuasa di ruang kelas. Mahasiswa ekonomi tidak hanya perlu menghitung keuntungan, tetapi juga memahami siapa yang memperoleh manfaat dan siapa yang menanggung kerugian.

Patricia Cranton kemudian menegaskan bahwa transformasi tidak hanya bersifat rasional. Ia juga melibatkan emosi, hubungan sosial, identitas, dan keberanian menjadi pribadi yang autentik. Paulo Freire menambahkan bahwa kesadaran kritis tidak boleh berhenti pada pemahaman, tetapi harus berkembang menjadi praksis, yakni pertautan antara refleksi dan tindakan.

Empat Momen Pembelajaran

Untuk membantu dosen menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam pembelajaran, melalui sintesis teoretik dan kajian mendalam, Kemendiktisaintek menerjemahkan pembelajaran transformatif dalam empat momen penting: trigger, refleksi, aksi, dan integrasi. Keempatnya bukan prosedur yang harus diterapkan secara kaku, tetapi peta kerja yang dapat disesuaikan dengan mata kuliah dan konteks mahasiswa.1785767963_body_DOXJzuRM7bJf.webp

Kemendiktisaintek

Trigger merupakan pengalaman yang mengguncang cara berpikir lama mahasiswa. Ia dapat berupa kasus nyata, data yang bertentangan dengan keyakinan awal, pengalaman lapangan, konflik nilai, atau kegagalan proyek. Tujuannya bukan sekadar mengejutkan mahasiswa, melainkan menghadirkan kegelisahan intelektual yang mendorong mereka mempertanyakan sudut pandangnya. Dalam mata kuliah pemberdayaan masyarakat, misalnya, mahasiswa dapat dihadapkan pada program bantuan yang dinilai berhasil oleh pemerintah, tetapi dianggap tidak bermanfaat oleh warga. Dari situ, mahasiswa diajak bertanya: siapa yang menentukan keberhasilan, suara siapa yang didengar, dan pengetahuan siapa yang diabaikan?

Refleksi merupakan jantung pembelajaran transformatif. Namun, refleksi sering direduksi menjadi jurnal basa-basi seperti “kegiatan ini menambah wawasan saya”. Refleksi kritis seharusnya mencakup tiga lapis penalaran: apa yang dipikirkan, bagaimana seseorang sampai pada pemikiran itu, dan mengapa ia sejak awal mempercayainya. Dosen perlu menciptakan ruang aman agar mahasiswa berani mengakui kekeliruan dan berbeda pendapat. Harus kita ingat bahwa refleksi sulit tumbuh di kelas yang menempatkan pendapat dosen sebagai kebenaran terakhir.

Aksi diperlukan agar kesadaran tidak berhenti sebagai wacana. Aksi dapat berbentuk proyek komunitas, riset partisipatif, advokasi berbasis bukti, atau inovasi sosial. Namun, masyarakat tidak boleh sekadar dijadikan objek tugas mahasiswa. Kegiatan perlu dirancang bersama masyarakat, menghargai pengetahuan lokal, dan menghasilkan manfaat yang dapat dipertanggungjawabkan.

Integrasi terjadi ketika perspektif baru menjadi bagian dari cara mahasiswa mengambil keputusan. Pertanyaannya bukan lagi hanya “apa yang dipelajari?”, tetapi “apa yang sekarang dilakukan secara berbeda?” Integrasi dapat dibangun melalui portofolio perkembangan, refleksi lintas semester, evaluasi tindakan, dan pertanggungjawaban kepada masyarakat.

Prasyarat Institusional bagi Transformasi

Agar program ini tidak berhenti pada simbol, keberhasilannya perlu diukur pada tiga tingkat. Pertama, perubahan personal mahasiswa dalam memahami diri, nilai, dan tanggung jawab. Kedua, perubahan pedagogis dan institusional dalam desain pembelajaran, asesmen, dan budaya akademik. Ketiga, dampak sosial yang benar-benar dirasakan masyarakat. Pelatihan dosen juga harus dilanjutkan dengan pendampingan, observasi sejawat, komunitas praktik, dan evaluasi berkelanjutan. Pelatihan beberapa hari mungkin dapat membuka wawasan, tetapi perubahan praktik membutuhkan waktu, dukungan, dan keberanian mengakui kegagalan.

Secara pribadi, saya mendukung program pembelajaran transformatif karena ia dapat menjadi fondasi penting bagi Kampus Berdampak. Namun, program ini jangan diukur hanya melalui sertifikat, jangan dipaksakan menjadi satu format untuk semua mata kuliah, juga jangan menjadikan masyarakat sebagai panggung pencitraan kampus. Bukti keberhasilannya akan terlihat ketika mahasiswa berani memeriksa keyakinannya, mampu berdialog dengan pandangan berbeda, serta menggunakan ilmu untuk bertindak secara bertanggung jawab. Di momen itulah pembelajaran transformatif terwujud. Bukan hanya sebagai jargon baru kebijakan, tetapi sebagai jalan menuju perguruan tinggi yang lebih kritis, manusiawi, dan berdampak.

Disclaimer

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya

Komentar 0
Silakan Masuk terlebih dahulu untuk mengirim komentar.
Artikel Terkait
Siaran Peristiwa — Kirim informasi via WhatsApp SerambiPikir
Ketikkan keyword yang ingin Anda telusuri.