Krisis Mengenali Manusia
Kerja di mana sekarang? Gajinya berapa? Kapan menikah? Tidak ada pertanyaan yang lebih akrab daripada tiga kalimat tersebut. Namun, dari sanalah kita dapat melihat cara masyarakat mengenali manusia hari ini.

Ilustrasi digital_Canva
Setelah lulus kuliah atau mulai bekerja, banyak orang yang lebih sering ditanya bekerja di mana, berapa penghasilannya, atau kapan menikah daripada apa yang sedang dipelajari atau nilai apa yang sedang dibangun. Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar biasa dan ringan, bahkan sering dianggap sebagai bentuk perhatian. Namun, tanpa disadari, ia memperlihatkan sesuatu yang lebih mendasar, yaitu cara kita mengenali seseorang semakin bergantung pada atribut sosial yang melekat padanya. Pekerjaan, jabatan, gelar, rumah, kendaraan, dan status pernikahan menjadi jalan pintas untuk menilai apakah seseorang berhasil atau tidak. Masalahnya bukan karena pertanyaan-pertanyaan itu terlontar, tetapi karena pertanyaan yang diajukan lebih sering berpusat pada atribut sosial daripada mengenali manusia sebagai pribadi yang terus bertumbuh.
Atribut sosial memang memberi informasi awal tentang seseorang. Pekerjaan, jabatan, atau tingkat penghasilan dapat menjadi petunjuk mengenai peran sosial yang dijalani. Permasalahan muncul ketika informasi yang terbatas itu diperlakukan sebagai gambaran utuh tentang kepribadian, nilai, bahkan kualitas moral seseorang. Penilaian yang semula hanya berupa kesan awal berubah menjadi kesimpulan akhir. Sementara itu, simbol atribut sebenarnya hanyalah penanda, bukan substansi. Ia dapat membantu kita mengenali posisi sosial seseorang, tetapi tidak pernah cukup untuk menjelaskan siapa dirinya.
Cara memandang seperti ini sebenarnya bukan permasalahan baru. Hal itu semakin mendapat dukungan dengan adanya perkembangan media sosial yang membuatnya semakin kuat dan semakin mudah tersebar. Digital 2025: Indonesia yang diterbitkan oleh We Are Social dan Kepios mencatat sekitar 143 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia. Besarnya jumlah pengguna menunjukkan bahwa sosial media telah menjadi salah satu ruang utama tempat orang membangun kesan, memperoleh pengakuan, sekaligus dinilai oleh orang lain.
Dalam ruang digital seperti itu, keberhasilan lebih mudah diterjemahkan menjadi foto, jabatan, gelar, atau gaya hidup yang dapat ditampilkan. Di sisi lain, algoritma platform digital cenderung memprioritaskan konten yang mampu menarik perhatian dan mendorong interaksi pengguna. Hal tersebut mengakibatkan, atribut yang mudah dilihat dan dibagikan lebih berpeluang memperoleh jangkauan yang luas dibandingkan kualitas-kualitas personal yang tidak selalu nampak di permukaan. Tanpa disadari, kita pun kerap menganggap bahwa apa yang terlihat itu apa yang paling bernilai.
Mengapa Simbol Memiliki Pengaruh Sebesar Itu?
Ilmu sosial telah lama mencoba menjelaskan permasalahan ini. Pierre Bourdieu menyebutnya sebagai modal simbolik (symbolic capital), yang berarti suatu bentuk pengakuan sosial yang membuat seseorang dipandang memiliki prestise, kewibawaan, atau legitimasi di mata masyarakat. Pengakuan tersebut tidak muncul dengan sendirinya. Modal ekonomi, modal budaya seperti pendidikan dan pengetahuan, maupun modal sosial berupa jaringan relasi dapat berubah menjadi modal simbolik ketika semuanya diakui sebagai sesuatu yang bernilai dan sah. Karena itu, gelar, jabatan, atau reputasi bukanlah modal simbolik pada dirinya sendiri, melainkan menjadi modal simbolik ketika masyarakat memberikan kepercayaan dan penghargaan atasnya.
Pada dasarnya, modal simbolik memiliki fungsi yang penting karena membantu membangun kepercayaan dan memudahkan interaksi sosial. Persoalan muncul ketika pengakuan tersebut diperlakukan sebagai ukuran tunggal kualitas manusia. Gelar yang tinggi tidak selalu berjalan seiring dengan integritas, sebagaimana pekerjaan sederhana tidak otomatis menunjukkan rendahnya nilai seseorang. Ketika pengakuan sosial dianggap identik dengan kualitas moral, simbol tidak lagi sekadar menjadi penanda, tetapi berubah menjadi dasar penilaian terhadap seluruh diri seseorang.
Erving Goffman menggambarkan kehidupan sosial sebagai sebuah panggung tempat setiap orang mengelola kesan tentang dirinya sesuai dengan situasi dan audiens yang dihadapi. Cara seseorang menampilkan diri bukanlah bentuk kepalsuan, melainkan bagian dari interaksi sosial yang wajar. Di era media sosial, panggung itu menjadi jauh lebih luas. Orang dapat memperbarui jabatan di Linkedln, membagikan pencapaian profesional, atau menunjukkan momen-momen penting dalam hidupnya. Persoalannya bukan pada tindakan menampilkan diri, melainkan ketika tampilan yang bersifat parsial dianggap sebagai gambaran utuh tentang karakter seseorang.
Apa yang terlihat kemudian lebih mudah dipercaya daripada kualitas yang hanya dapat dikenali melalui interaksi dan pengalaman yang lebih panjang. Hal tersebut membuat seseorang lebih cepat dinilai berdasarkan almamater, tempat kerja, atau jabatan yang dimilikinya daripada cara ia memperlakukan orang lain. Kita mungkin mengetahui di mana seseorang bekerja atau gelar yang disandangnya, tetapi belum tentu memahami integritas, empati, dan tanggung jawab yang membentuk dirinya.
Informasi tentang manusia semakin melimpah, tetapi pemahaman terhadap manusia tidak selalu bertambah mendalam.
Cara pandang seperti ini membawa dampak yang lebih luas daripada sekadar budaya pamer. Kepercayaan sosial menjadi mudah diberikan kepada mereka yang memiliki simbol prestasi, sementara mereka yang bekerja diam-diam dengan penuh tanggung jawab sering kali terabaikan. Pada saat yang sama, banyak orang merasa hidupnya gagal bukan karena benar-benar kekurangan, melainkan karena simbol keberhasilannya berbeda dengan mayoritas. Rumah, jabatan, atau pernikahan berubah menjadi tolok ukur yang seolah wajib dicapai pada usia tertentu. Akhirnya, integritas kalah oleh popularitas, kepedulian kalah oleh pencitraan, dan tanggung jawab kalah oleh gengsi.
Tentu saja simbol sosial tidak perlu dihapus. Dalam masyarakat yang kompleks, manusia tidak mungkin mengenal karakter setiap orang secara mendalam. Gelar, profesi, dan reputasi membantu kita mengambil keputusan awal. Namun, simbol seharusnya menjadi pintu masuk untuk mengenal seseorang, bukan kesimpulan akhir tentang siapa dirinya. Setelah kesan pertama terbentuk, penilaian semestinya bergerak menuju karakter, bukan berhenti pada citra.
Salah satu krisis sosial yang kita hadapi hari ini adalah kecenderungan menilai manusia lebih dahulu melalui atribut sosial daripada mengenali karakter dan kualitas pribadinya. Dalam situasi seperti itu, simbol-simbol sosial kerap menjadi dasar penilaian, bukan sekadar pintu masuk untuk memahami seseorang. Sementara itu, peradaban tidak dibangun oleh banyaknya simbol yang berhasil dikumpulkan, melainkan oleh banyaknya orang yang dapat dipercaya. Karena itu, kualitas sebuah masyarakat ditentukan oleh kemampuannya menempatkan simbol sebagai awal untuk mengenal seseorang, bukan sebagai kesimpulan akhir tentang siapa dirinya.
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan
pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya