Beranda/ Artikel/ Selasar Budaya/ Grup WhatsApp Organisasi:...

Grup WhatsApp Organisasi: Silent Majority

Grup WhatsApp organisasi adalah panggung pertunjukan paling relevan bagi "hukum besi oligarki" di era digital. Tulisan ini merupakan bagian dari seri artikel sosiologis bertajuk "Anatomi Grup WhatsApp" yang membedah realitas sosio-kultural di dalam ruang obrolan digital kita sehari-hari.

Najamuddin Khairur Rijal
05 Agustus 2026 5 menit baca
0

Bagi Anda yang pernah atau sedang aktif dalam dunia pergerakan atau perkumpulan, entah itu organisasi kemasyarakatan (ormas), asosiasi profesi, ikatan alumni, serikat pekerja, hingga forum warga, ada satu realitas digital yang tentu tidak asing lagi. Di daftar percakapan ponsel kita, selalu ada satu atau dua grup dengan nama resmi yang menyandang akronim besar, seperti “Pengurus …….”, “Pimpinan Cabang …..”, “Asosiasi ……”, atau “Forum Komunikasi …..”.

Dibandingkan dengan grup keluarga yang penuh gambar bunga atau grup perumahan yang rewel soal sampah, grup WhatsApp organisasi memiliki atmosfer yang jauh lebih politis, diskursif, dan sarat dengan ego. Memasuki grup ini rasanya seperti melangkah ke dalam sebuah arena kongres yang tidak pernah bubar.

Perhatikan leksikon atau kosakata yang mendominasi percakapan di dalamnya. Sapaan-sapaan bernuansa hierarkis dan feodalistik modern bertaburan. Sebut saja, “Siap, Ketum”, “Izin menanggapi, Kanda/Yunda”, “Mohon arahan, Pak Sekjen”, atau “Mantap analisisnya, Suhu”. Grup ini juga merupakan muara dari segala macam bentuk dokumen PDF, rilis pers, tautan berita politik terkini, hingga undangan diskusi publik daring.

Jika kita membedah anatomi interaksi di dalam grup WhatsApp ini, kita akan menemukan sebuah anomali statistik yang mencolok. Meskipun grup tersebut berstatus sebagai ruang publik organisasi, percakapan sehari-hari hampir selalu didominasi oleh orang yang itu-itu saja. Biasanya tidak lebih dari lima hingga sepuluh orang. Mereka antara lain adalah sang ketua, sekretaris, dewan pembina, atau para loyalis utama.

Adapun sisa puluhan atau ratusan anggota lainnya memilih untuk menjadi silent majority (mayoritas yang diam). Mereka hanya membaca, sesekali mengirim stiker jempol, atau sekadar melakukan salin-tempel (copy-paste) nama mereka pada “Daftar Hadir” (list absen) saat ada agenda rapat.

Hukum Besi Oligarki

Untuk menjelaskan fenomena ketimpangan partisipasi ini, dalil klasik dari sosiolog politik asal Jerman, Robert Michels menarik untuk kita pinjam. Pada tahun 1911, Michels merumuskan sebuah teori yang pesimistis namun akurat, yang dikenal sebagai Hukum Besi Oligarki (Iron Law of Oligarchy).

Michels mengamati bahwa di dalam setiap organisasi, betapapun demokratis, egaliter, atau radikalnya visi organisasi tersebut pada awalnya, pada akhirnya akan selalu dikuasai oleh segelintir elite minoritas.

Mengapa? Karena birokrasi dan skala organisasi menuntut efisiensi, dan massa (anggota biasa) umumnya memiliki kecenderungan bersikap apatis serta lebih suka menyerahkan beban pengambilan keputusan kepada para pemimpin yang dianggap lebih vokal dan kompeten.

Karena itu, grup WhatsApp organisasi kiranya adalah panggung pertunjukan paling relevan bagi hukum besi oligarki di era digital. Pada permukaannya, arsitektur teknologi grup WhatsApp terlihat sangat demokratis, di mana setiap anggota memiliki ukuran kolom teks yang sama, hak bersuara yang sama, dan akses informasi yang setara.

Namun secara sosiologis, struktur di dalamnya sangatlah elitis. Ratusan anggota yang diam itu sesungguhnya bertindak sebagai “penonton” pasif bagi pertunjukan intelektualitas, heroisme, dan manuver politik para elite organisasi (minoritas yang vokal). Grup WhatsApp yang semestinya menjadi ruang musyawarah egaliter, pada praktiknya menyusut menjadi sekadar papan pengumuman satu arah tempat para oligark internal menancapkan hegemoni wacananya.

Selain masalah elitisme, ada satu jebakan psikologis yang juga lebih berbahaya dari grup WhatsApp organisasi ini. Jebakan itu berkaitan dengan bagaimana energi pergerakan dihabiskan.

Interpasivitas

Filsuf dan kritikus budaya Slavoj Žižek sering berbicara tentang konsep “interpasivitas” (interpassivity). Yaitu, sebuah kondisi di mana objek atau teknologi melakukan sesuatu atas nama kita, sehingga kita merasa sudah berbuat sesuatu, padahal sejatinya kita pasif dan diam. Dalam konteks agama, misalnya, tradisi memutar doa di masjid seolah “berdoa atas nama kita”.

Dalam konteks organisasi modern, grup WhatsApp telah menjadi mesin interpasivitas yang menyerap habis energi radikal kita. Mari kita bayangkan sebuah asosiasi profesi atau serikat pekerja yang sedang menghadapi ketidakadilan regulasi dari pemerintah (sebut saja, serikat pekerja kampus). Pada pukul sebelas malam, terjadi perdebatan sengit dan berapi-api di dalam grup WhatsApp. Paragraf-paragraf panjang berisi analisis hukum, kritik tajam, dan retorika perjuangan diketik dengan penuh emosi.

Setelah berdebat selama tiga jam dan berhasil merumuskan sebuah draf pernyataan sikap di dalam grup tersebut, sang aktivis mematikan layar ponselnya dan pergi tidur dengan perasaan sangat puas. Dirinya merasa telah “berjuang”, merasa telah melakukan kerja-kerja keorganisasian yang luar biasa malam itu.

Padahal, secara faktual, apa yang dia lakukan hanyalah menggerakkan dua ibu jarinya di atas layar kaca dari atas kasurnya yang empuk. Realitas di dunia nyata tidak berubah satu milimeter pun. Kebijakan pemerintah tidak batal hanya karena perdebatan alot di grup WhatsApp. Aksi demonstrasi, advokasi lapangan, lobi politik, dan pengorganisasian massa tergantikan oleh ilusi pergerakan digital. Kita mensimulasikan aktivisme di ruang obrolan, dan merasa cukup dengan itu. Grup WhatsApp organisasi telah mereduksi kerja-kerja ideologis yang berat menjadi sekadar ekstase tekstual semata.

Tentu saja, kita tidak bisa bersikap sepenuhnya sinis dan menutup mata terhadap manfaat instrumental dari grup ini. Grup ini adalah alat konsolidasi instan yang mengikat ikatan emosional para anggota yang tersebar di mana-mana. Tradisi mengucapkan “Selamat dan Sukses atas pelantikannya, Kanda” atau mengirimkan ucapan duka saat ada anggota keluarga yang wafat, adalah perekat solidaritas (kohesi sosial) yang membuat organisasi tetap bernapas.

Namun, organisasi secara etimologis berasal dari kata organon (alat/instrumen). Organisasi diciptakan untuk melakukan kerja-kerja spesifik di alam nyata, untuk merombak struktur sosial, memberdayakan warga, atau membela hak-hak profesi. Ayo, kenakan kembali jaket kebesaran organisasi, dan bergeraklah. Rebut perubahan. Panjang umur perjuangan!

1785904559_body_NI0WfP7pm5t6.webp

Seri artikel sosio-kultural Anatomi Grup WhatsApp

Disclaimer

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya

Najamuddin Khairur Rijal

Pembelajar isu-isu politik global dan isu-isu sosial kontempoer

Ikuti Penulis
Komentar 0
Silakan Masuk terlebih dahulu untuk mengirim komentar.
Artikel Terkait
Siaran Peristiwa — Kirim informasi via WhatsApp SerambiPikir
Ketikkan keyword yang ingin Anda telusuri.