Membaca agar Menjadi Semakin "Manusia"
Pernahkah kita merenung, mengapa di tengah meningkatnya literasi dan melimpahnya informasi, justru individu seakan mengalami kebingungan atas diri sendiri? Tulisan ini berisi sebuah keresahan. Melampaui mengingat banyaknya informasi, membaca pada hakikatnya adalah proses memahami diri sendiri selama seumur hidup.
Aneh tetapi nyata! Semangat memajukan literasi di Indonesia mengalami dua sisi paradoksal yang berkelindan. Ada perkembangan literasi yang begitu progresif di satu sisi, namun sekaligus memicu kekhawatiran degradasi kemanusiaan di sisi lainnya.
Dalam kurun waktu antara 2020 hingga 2023, terutama saat pandemi Covid-19, terjadi kebangkitan literasi di Indonesia. Hal itu terkonfirmasi oleh Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM). IPLM mencatat adanya peningkatan indeks literasi pada 2024 dengan skor 73,52, yang sebelumnya pada 2023berada pada skor 69,42.
Salah satu hal yang turut berkontribusi membangun kesadaran berliterasi adalah media sosial. Pandemi Covid-19 memicu percepatan digitalisasi dalam segala aspek, termasuk pendidikan. Hasilnya begitu baik. Literasi digital menumbuhkan budaya verifikasi informasi.
Masyarakat dari berbagai jenjang pendidikan bisa memverifikasi dan mengkritisi klaim yang disebut pengetahuan. Mungkin kita lumrah dengan istilah logika mistika, Pseudoscience. Kemapanan pengetahuan semu yang dianggap edukasi itulah dibungkam sebagai wujud kemajuan literasi sendiri.
Lebih dari itu, kemajuan teknologi digital membuat akses terhadap pengetahuan semakin mudah. Melalui gawai, seseorang dapat mempelajari berbagai topik hanya dengan sekali scroll dan tap, bahkan sambil rebahan di atas kasur. Bagi sebagian orang, digitalisasi membuat perpustakaan atau toko buku tidak lagi menjadi sumber utama pengetahuan.
Pengetahuan berupa reels dan carousel berseliweran di media sosial. Dilematisnya, pembajakan buku menjadi buku elektronik pun terjadi. Hanya dengan mencari melalui kolom pencarian di media sosial, kita bisa dengan mudah menemukannya.
Namun demikian, meski terjadi kebangkitan literasi, saya pribadi mempunyai keresahan. Kekhawatiran ini bisa jadi sudah terjadi atau mungkin akan terjadi jika pembaca juga memiliki kepekaan terhadap perilaku di lingkungan sekitar. Keresahan ini persoalan eksistensial, bagaimana manusia memahami dirinya eksis di dunia. Bagi saya, membaca adalah proses memahami diri sendiri seutuhnya. Melalui membaca, kepekaan menilai dan menyikapi realitas akan semakin bijaksana.
Keresahan Eksistensial di Tengah Banjirnya Informasi

Visualisasi membaca di tengah banjirnya informasi / sumber: ilustrasi digital
Saya angkat satu kasus untuk menjelaskan kekhawatiran ini. Sering kita mendengar istilah FOMO: fear of missing out. FOMO adalah kecemasan atau ketakutan seseorang merasa tertinggal sebuah momen yang sedang viral atau tren di media sosial. Jauh lebih dalam, individu yang mengalami FOMO cenderung merasa dirinya kurang apabila tidak ikut terlibat dalam suatu tren. Perasaan tersebut melahirkan dorongan untuk memenuhi ekspektasi publik demi memperoleh rasa diterima dan bernilai.
Lalu, apa hubungan FOMO dengan membaca? FOMO ialah respon individu setelah memahami sebuah tren yang menggiringnya untuk mengambil tindakan. Ekspektasi publik yang berseliweran di media sosial itu yang menekan batin seseorang sehingga ekspektasi itu seolah harus dipenuhi. Di sinilah letak ironinya.
Jati diri dibangun berdasarkan respon publik yang isinya berbagai macam preferensi individu dan kelompok, yang tidak tersaring. Keberhasilan memenuhi salah satu atau ragam standar hidup yang bertebaran di media sosial menjadi penentu siapakah diri manusia.
Media sosial hanyalah salah satu lingkungan di mana orang-orang sedang mengalami krisis eksistensial. Pada ruang lingkup lebih sempit, misalnya di satu perumahan atau tetangga, seringkali kita pernah melihat atau mungkin pernah mengalaminya bahwa penilaian masyarakat menjadi penentu siapakah diri kita sebagai manusia. Tekanan masyarakat memberikan tuntutan untuk dipenuhi agar "merasa menjadi manusia". Hal serupa juga terjadi di ekosistem media sosial.
Akibatnya, keharusan memenuhi tekanan ekspektasi masyarakat begitu runyam. Alhasil orang-orang bersosial media untuk mengikuti sebuah standar yang direkayasa melalui tren. Maka, representasi diri di ruang publik tidak lagi mencerminkan citra diri yang autentik.
Alih-alih menjaga privasi, fenomena penggunaan second account (akun kedua) di media sosial justru berfungsi sebagai mekanisme pertahanan dan penghindaran individu dari tekanan publik yang penuh dengan ragam standar hidup yang berseliweran di masing-masing linimasa. Pada second account, individu mengekspresikan diri apa adanya. Dalam ruang lingkup dunia nyata, biasanya individu akan menutup diri dari interaksi sekitar, bisa jadi justru menjadi people pleaser sebagai mekanisme pertahanan diri.
Membaca sebagai Menemukan Diri
Kemampuan membaca tidak sebatas agar individu mampu memiliki informasi sebanyak mungkin. Manusia bukan “bank pengetahuan” bagaikan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Tentu manusia tidak akan bisa menandingi mesin kalau standarnya adalah kuantitas infromasi.
Melampaui menilai membaca dari sisi kuantitas, kualitas jauh lebih penting. Justru inilah kekuatan membaca. Membaca adalah proses internalisasi informasi yang menolong seseorang memahami siapakah dirinya. Proses internalisasi diri tidak cukup hanya membaca informasi singkat yang diperoleh melalui konten-konten di media sosial. Pembaca harus bergulat sendiri bersama waktu yang tidak sebentar dan berinteraksi dengan literatur yang relevan. Kemudian mengambil waktu merefleksikan hasil pergumulan individu dengan literatur itu.
Idealnya manusia dapat mengenal dirinya sendiri melalui pihak eksternal yang dibantu oleh literatur yang dibaca. Namun, keputusan untuk menetapkan dan memilih siapa dirinya tetap pada individu itu sendiri dan wajib bertanggung jawab atas dirinya. Hasil pembacaan tersebut berimplikasi membentuk sebuah jati diri.
Jati diri yang terbentuk menjadi lensa menilai realita yang mengitari dalam hidupnya: menilai orang lain, semesta, dan peristiwa berdasarkan prasangkanya. Artinya, membaca bukan sekadar memindai teks dari buku ke otak, melainkan sebuah dialog internal dalam rangka menyingkap keberadaan manusia itu sendiri.
Karena itu, lewat tulisan ini, saya sebagai tenaga pendidik mengajak pembaca untuk merenung sejenak: jenis buku seperti apakah yang akan kita hadirkan kepada peserta didik. Tidak hanya sekadar kaya akan informasi, tetapi juga menolong mereka memahami dirinya sebagai manusia.
Artikel ini merupakan karya penulis yang telah melalui proses penyuntingan redaksional. Pandangan, pendapat, data, dan interpretasi yang disampaikan menjadi tanggung jawab penulis serta tidak selalu mencerminkan sikap atau pandangan Redaksi SerambiPikir. Baca selengkapnya