Beranda/ Artikel/ Sudut Pandang/ Paradoks Menulis di Era A...

Paradoks Menulis di Era Akal Imitasi

Dahulu, penulis berlomba membuat tulisan sesempurna mungkin. Kini, justru harus berhati-hati agar tidak terlihat terlalu sempurna. Mengapa paradoks ini bisa terjadi?

Nashruddin Qawiyurrijal
01 July 2026 5 mnt baca
0

1783690643_body_0ZcwOPBMNbx0.webp

Ilustrasi/SerambiPikir

Sesaat setelah substansi naskah tulisan ini rampung, pada mulanya judul yang ingin disematkan kira-kira berbunyi seperti ini: Ketika Tulisan Terlalu Sempurna Justru Mencurigakan. Lalu kemudian terpikirkan diksi lain: Dilema Penulis di Era Akal Imitasi. Pada akhirnya, pilihan tidak jatuh pada salah satu di antaranya. Maka jadilah ia berjudul sebagaimana yang terbaca pada judul tulisan ini.

Baik pilihan kesatu, kedua, maupun judul yang saat ini, punya ide dasar yang sama: kegelisahan terhadap kehadiran artificial intelligence (AI) atau yang di-Indonesia-kan salah satunya dengan istilah akal imitasi. Kegelisahan itu tentu saja dalam konteks kehadirannya yang membawa implikasi dan konsekuensi pada dunia tulis-menulis.

Yakin dan percaya, bahwa pada masa AI belum memasuki ruang menulis, ada satu kebiasaan yang hampir selalu dilakukan oleh penulis manapun setelah menyelesaikan sebuah naskah, yaitu membaca ulang tulisannya. Terkadang sekali, kadang dua atau tiga kali, bahkan lebih. Tujuannya terukur: memastikan kalimat terasa enak dibaca, gagasan tersusun rapi, tidak ada kata yang terdengar janggal, pun tak ada kalimat yang strukturnya berantakan.

Tentu kita sepakat, bahwa menulis pada dasarnya adalah proses merapikan pikiran yang semula berserakan, dijahit menjadi kalimat, lalu dirangkai menjadi paragraf demi paragraf yang dapat dipahami orang lain. Karenanya, membaca ulang merupakan tahap penting—bahkan terbilang fardhu ‘ain guna memastikan seluruh gagasan jatuh pada tempat yang tepat. Setiap penulisan pasti ingin mencapai tujuan ini.

Penulis yang baik menghasilkan tulisan yang baik, yaitu tulisan yang jelas, runtut, dan meyakinkan. Itu dalilnya. Semakin rapi sebuah tulisan, semakin besar kemungkinan pembaca memahami maksud yang ingin disampaikan.

Waktu berjalan, masa berganti. Kemudian, kini kita berada di era akal imitasi yang tentu adalah sebuah keniscayaan dari pesatnya perkembangan teknologi. Perkembangan yang pastinya semua dari kita menginginkannya. Kita tidak ingin hidup pada lintasan masa dengan teknologi yang stagnan bukan?.

Setiap perkembangan menghasilkan perubahan. Demikian halnya kebiasaan lama para penulis seperti yang diceritakan tadi yang mulai terasa sedikit berbeda di era AI ini. Perkembangan AI telah membawa perubahan besar dalam dunia produksi teks. Berbagai aplikasi kini hadir dengan kemampuan menyusun paragraf secara cepat, sistematis, dan hampir tanpa kesalahan tata bahasa. Dalam hitungan detik, sebuah artikel dapat muncul dengan struktur yang rapi dan logika yang terlihat sangat meyakinkan.

Kemampuan ini tentu menghadirkan banyak manfaat, seperti membantu mempercepat pekerjaan, mempermudah proses penulisan, serta membuka kemungkinan baru dalam produksi informasi. Banyak pekerjaan yang sebelumnya relatif memerlukan waktu kini dapat diselesaikan dalam tempo yang lebih singkat.

Bersamaan dengan itu, muncul fenomena lain yang tidak kalah menarik: meningkatnya kecurigaan terhadap teks. Tulisan yang terlalu rapi, terlalu sistematis, atau terlalu “bersih” sering kali memunculkan pertanyaan baru: apakah teks tersebut benar-benar ditulis manusia, atau dihasilkan oleh imitator akal manusia?.

Kekhawatiran semacam ini bahkan melahirkan berbagai alat pendeteksi tulisan AI. Lembaga pendidikan hingga ruang redaksi media mulai mencoba memverifikasi apakah sebuah naskah benar-benar lahir dari proses berpikir manusia. Tujuannya tentu baik, ingin menjaga integritas kepenulisan dan memastikan orisinalitas karya tulis. Tetapi, disadari atau tidak, situasi ini juga menciptakan sebuah paradoks dalam dunia kepenulisan. Jika dahulu penulis membaca ulang tulisannya untuk membuatnya sebaik mungkin, kini sebagian penulis justru membaca ulang dan berulang-ulang membaca naskahnya untuk memastikan satu hal yang agak ironis: jangan sampai tulisan itu terlihat terlalu sempurna.

Pada masa sebelum ini, kesempurnaan adalah tujuan, sementara di era AI kesempurnaan adalah sesuatu yang dihindari, sebab justru dapat memicu kecurigaan. Struktur yang terlalu sistematis, kalimat yang terlalu konsisten, atau argumen yang terasa terlalu mulus dapat memunculkan dugaan bahwa teks tersebut dihasilkan oleh mesin. Sementara, kalimat yang tidak sepenuhnya simetris, alur berpikir yang sesekali meloncat, atau pilihan kata yang terasa spontan kini justru membuat sebuah tulisan tampak lebih “manusiawi”.

Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan utama di era AI bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang kepercayaan terhadap teks. Selama ini media arus utama berdiri di atas fondasi kepercayaan publik. Pembaca mempercayai bahwa berita, opini, dan laporan yang mereka baca lahir dari proses peliputan, analisis, serta pertimbangan editorial manusia, namun ketika mesin juga mampu memproduksi teks dengan sangat rapi, batas antara tulisan manusia dan tulisan mesin menjadi semakin kabur. Dalam situasi seperti ini, tantangan media bukan sekadar memproduksi informasi secara cepat, tetapi juga menjaga transparansi dan keaslian proses penulisan.

Di sinilah diperlukan langkah yang lebih konkret. Media dan lembaga pendidikan perlu mulai membangun budaya transparansi penggunaan AI dalam penulisan. Alih-alih hanya mengandalkan alat pendeteksi yang sering kali tidak sepenuhnya akurat, institusi dapat mendorong penulis untuk secara terbuka menjelaskan bagaimana teknologi digunakan dalam proses penulisan.

Selain itu, proses editorial manusia perlu tetap menjadi pusat dalam produksi teks. Teknologi dapat membantu menyusun atau merapikan tulisan, tetapi penilaian akhir tetap harus berada di tangan editor dan penulis manusia yang bertanggung jawab atas isi tulisan tersebut. Yang tidak kalah penting adalah mengembalikan fokus pada kualitas gagasan. Sebuah tulisan seharusnya dinilai bukan semata dari seberapa rapi strukturnya, tetapi dari kedalaman pemikiran, keaslian sudut pandang, dan kemampuan menjelaskan realitas secara jujur.

Literasi publik tentang cara kerja teknologi ini juga harus terus dibangun. Pembaca perlu memahami bahwa AI dapat menjadi alat bantu, tetapi tanggung jawab atas isi tulisan tetap berada pada manusia. Dengan pemahaman seperti ini, diskusi tentang keaslian tulisan tidak berhenti pada kecurigaan, tetapi berkembang menjadi kesadaran bersama tentang etika penggunaan teknologi. Dengan cara itu pula, kehadiran AI tidak perlu dilihat sebagai ancaman, melainkan sebagai alat yang tetap berada di bawah kendali manusia.

Dapat dikatakan, inilah paradoks kecil zaman ini. Dahulu, penulis membaca ulang tulisan untuk membuatnya sebaik mungkin. Kini, membaca ulang kadang dilakukan untuk memastikan tulisan itu tidak terlalu sempurna. Sebab, di era ketika mesin juga mampu menulis dengan sangat rapi, sedikit ketidaksempurnaan justru menjadi tanda yang paling manusiawi bahwa di balik kata dan kalimat itu, masih ada pikiran yang bekerja.

Terakhir, ada sebuah pertanyaan kontemplatif. Antara manusia dan AI, sesungguhnya lebih cerdas siapa?. Jika secara agak nakal, membawa jawaban ini pada ranah transendental, keimanan menuntun kita untuk meyakini bahwa Tuhan Sang Maha Pencipta jauh lebih cerdas dan lebih segala-galanya dibandingkan dengan manusia ciptaannya, maka hal demikian mestinya kita yakini pula pada komparasi kecerdasan alami manusia dan kecerdasan hasil buatannya: akal imitasi.

Disclaimer

Artikel ini merupakan karya penulis yang telah melalui proses penyuntingan redaksional. Pandangan, pendapat, data, dan interpretasi yang disampaikan menjadi tanggung jawab penulis serta tidak selalu mencerminkan sikap atau pandangan Redaksi SerambiPikir. Baca selengkapnya

Nashruddin Qawiyurrijal

Penulis aktif di SerambiPikir

Ikuti Penulis
Komentar 0
Silakan Masuk terlebih dahulu untuk mengirim komentar.
Artikel Terkait