Sebuah Hikayat tentang Seorang Raja yang Gemar Mencari Gema
Catatan tentang kepemimpinan dan budaya mengangguk.
Hampir setiap orang yang pernah bekerja di dalam sebuah organisasi, pernah mengalami situasi yang kurang lebih sama. Sebuah gagasan diucapkan, lalu ruangan menjadi hening sejenak. Tidak ada yang langsung berbicara. Orang-orang saling melirik, menunggu siapa yang akan lebih dulu mengangguk.
Kadang anggukan itu bukan benar-benar tanda setuju. Ia hanya tanda bahwa seseorang tidak ingin berada di sisi yang salah dari sebuah percakapan.
Dari kebiasaan kecil seperti itulah sebuah budaya organisasi sering terbentuk. Pelan-pelan, tanpa banyak disadari, gema menjadi lebih penting daripada gagasan itu sendiri.
Dalam banyak organisasi—baik negara, lembaga, maupun kantor biasa—kekuasaan sering bekerja dengan cara yang jauh lebih halus daripada yang kita bayangkan. Tidak selalu melalui perintah keras atau keputusan besar, tetapi melalui isyarat kecil: jeda dalam kalimat, arah pandangan, atau harapan diam-diam agar orang lain mengiyakan apa yang baru saja diucapkan.
Di tempat-tempat seperti itu, keputusan tidak selalu lahir dari gagasan terbaik. Kadang ia muncul dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: siapa yang paling cepat mengangguk setelah sebuah kalimat diucapkan.
Untuk menggambarkan suasana seperti itu, para penulis lama sering memilih cara yang sederhana. Mereka menuliskannya sebagai sebuah hikayat.

Ilustrasi raja yang gemar mencari gema / Sumber: Generated by AI
Di sebuah kerajaan yang terkenal dengan aturan dan catatan administrasinya yang rapi, bertakhtalah seorang raja dengan kebiasaan yang agak ganjil dalam percakapan.
Ia jarang berbicara tanpa mencari gema.
Setiap kali menyampaikan sebuah gagasan, ia hampir selalu berhenti sejenak. Seolah memberi ruang bagi kalimatnya untuk menggantung sebentar di udara. Lalu ia menoleh kepada seseorang yang berdiri tidak jauh darinya.
“Masuk akal, bukan?”
Atau kadang lebih santai.
“Bagus, kan?”
Hampir selalu ada seseorang yang mengangguk. Kadang seorang ajudan. Kadang pejabat yang kebetulan berada di ruangan itu. Kadang orang kepercayaan yang sudah terlalu terbiasa membaca arah pandangan sang raja.
Sang raja tampak puas setiap kali anggukan datang. Seolah sebuah pikiran baru saja mendapatkan cap resmi.
Di dalam istana, ia lebih menyukai percakapan yang berlangsung terpisah.
Seorang pejabat dipanggil pagi hari.
“Menurutmu bagian utara agak lambat bekerja akhir-akhir ini?”
Sebelum pejabat itu sempat menjawab panjang, sang raja biasanya menoleh ke orang lain di sudut ruangan.
“Begitu juga menurutmu, kan?”
Anggukan datang.
Pejabat yang dipanggil pagi itu pulang dengan pikiran yang tidak lagi sepenuhnya tenang.
Siang harinya, pejabat lain dipanggil.
“Aku mendengar bagian selatan terlalu percaya diri.”
Kalimatnya ringan, hampir seperti obrolan biasa. Namun seperti biasa, setelah mengatakannya sang raja berhenti sebentar.
“Masuk akal, bukan?”
Anggukan datang lagi.
Begitulah percakapan-percakapan kecil berjalan di lorong istana. Tidak pernah benar-benar berupa perintah, tetapi juga tidak cukup ringan untuk diabaikan.
Sedikit demi sedikit, kata-kata itu beredar seperti kabar angin yang tidak jelas sumbernya.
Para pejabat mulai saling menatap lebih hati-hati—seperti orang-orang yang tiba-tiba sadar bahwa setiap kalimat bisa memiliki saksi. Rapat menjadi lebih panjang dari sebelumnya. Banyak pernyataan diucapkan dengan tambahan penjelasan yang sebenarnya tidak perlu.
Ada pula yang mulai berbicara terlalu hati-hati, seperti orang berjalan di lantai yang terasa licin, meskipun tidak ada yang benar-benar tahu siapa yang membuatnya demikian.
Pekerjaan tetap berjalan. Namun sebagian besar energi di istana kini habis untuk memastikan tidak berada di sisi yang salah dari sebuah percakapan.
Di luar istana, sang raja memiliki kebiasaan lain.
Sesekali ia berdiri di balkon yang menghadap alun-alun kerajaan. Dari sana ia berbicara kepada rakyat dengan kalimat-kalimat yang lebih keras dan lebih sederhana.
Ia menunjuk masalah. Ia menyebut hambatan. Kadang ia menyinggung orang-orang yang menurutnya memperlambat langkah kerajaan. Kerumunan biasanya menyambut dengan sorak-sorai.
Beberapa pejabat merasa tersindir. Sebagian lagi hanya mencoba menebak apakah kata-kata itu juga diarahkan kepada mereka.
Bagi sang raja, suasana itu terasa hidup.
Kerajaan yang terlalu tenang sering membuat orang mulai berpikir terlalu jauh. Kerajaan yang sedikit gaduh membuat semua orang sibuk. Dan kesibukan sering kali tampak mirip dengan kemajuan. Setidaknya dari kejauhan.
Waktu berjalan seperti biasa. Surat-surat tetap dikirim. Rapat tetap diadakan. Stempel kerajaan masih ditekan pada dokumen yang jumlahnya tidak jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Namun sesuatu perlahan berubah.
Para pejabat mulai lebih rajin membaca jeda dalam kalimat daripada membaca isi kebijakan. Mereka belajar mengenali saat-saat ketika sang raja akan berhenti berbicara dan menoleh ke samping.
Biasanya hanya untuk satu hal. Anggukan.
Jika anggukan datang cepat, ruangan terasa hangat. Jika terlambat, udara tiba-tiba terasa lebih berat.
Semua orang di istana akhirnya memahami satu kebiasaan yang tidak pernah tertulis dalam peraturan kerajaan: kadang yang paling penting bukanlah apakah sebuah gagasan benar, melainkan apakah cukup banyak orang yang bersedia mengangguk setelahnya.
Suatu hari, jam besar di menara kerajaan berhenti berdetak. Tidak ada bagian yang benar-benar rusak. Tidak ada roda yang tampak patah. Hanya saja tidak ada yang berani menyetel ulang tanpa memastikan semua orang sepakat tentang waktunya.
Para pejabat berkumpul di bawah menara itu. Mereka berdiri cukup lama tanpa benar-benar tahu siapa yang harus memulai percakapan. Akhirnya seorang juru tulis tua berkata pelan, hampir seperti berbicara kepada dirinya sendiri:
“Mungkin selama ini kita terlalu sibuk memastikan kata-kata istana mendapat gema… dan terlalu jarang memastikan pekerjaan kerajaan benar-benar selesai.”
Kalimat itu tidak terdengar seperti kritik. Lebih seperti pengamatan yang datang terlambat. Namun setelah itu percakapan mulai berubah.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, orang-orang berbicara tanpa menunggu siapa yang akan lebih dulu mengangguk.
Sementara itu, di lorong istana, sang raja masih berjalan seperti biasa. Ia baru saja menyampaikan sebuah gagasan kepada seorang pejabat muda. Setelah selesai berbicara, ia berhenti sejenak—seperti kebiasaannya. Lalu ia menoleh ke samping.
“Bagus, bukan?”
Biasanya pertanyaan seperti itu segera disambut anggukan. Kadang bahkan lebih dari satu. Namun kali ini ruangan itu sedikit lebih sunyi dari biasanya. Pejabat muda itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap jendela yang terbuka, tempat suara jam menara kembali berdetak pelan di kejauhan.
Raja menunggu. Beberapa detik terasa lebih panjang dari biasanya. Akhirnya seseorang memang mengangguk—tetapi tidak secepat dulu, dan tidak serempak seperti dulu.
Para penulis sejarah kemudian mencatat satu hal kecil tentang masa pemerintahan raja itu: kerajaan tersebut tidak runtuh karena kekurangan orang pintar, tidak pula karena kekurangan orang yang bekerja. Kerajaan itu hampir kehilangan arah karena terlalu lama hidup dari gema.
Dan gema, seperti yang diketahui setiap orang yang pernah berteriak di lembah, selalu terdengar paling nyaring ketika tidak ada suara lain yang berani menjawabnya.
Barangkali karena itulah sebuah organisasi tidak selalu kehilangan arah ketika pemimpinnya berbicara terlalu keras, melainkan ketika terlalu banyak orang merasa aman hanya dengan mengangguk.
Artikel ini merupakan karya penulis yang telah melalui proses penyuntingan redaksional. Pandangan, pendapat, data, dan interpretasi yang disampaikan menjadi tanggung jawab penulis serta tidak selalu mencerminkan sikap atau pandangan Redaksi SerambiPikir. Baca selengkapnya